Harus Memilih 2

Harus Memilih 2
Cukup Kau Disampingku


__ADS_3

"Aku kesel sama kamu, Dev"gerutu Zania setelah mereka selesai makan dan sekarang sedang menuju ketempat seminar Devan.


Devan hanya menahan tawanya karena berhasil menjahili kekasihnya itu. Sebelum turun dari mobilnya Devan meminta maaf ke Zania yang masih kesal karena memberinya minuman yang sangat pedas. Gimana gak pedas, es jerusknya dicampur sama jahe.


"Maaf ya sayang. Kan kamu bilang minta es jeruk tapi anget. Ya kalau mau anget itu es jeruk di kasih jahe makin enak kan"ucap Devan tanpa dosa itu.


"Gak tahu ah...aku kesel sama kamu, Dev. Kamu itu ngeselin"kesal Zania lagi.


"Tapi kamu suka kan?"ucap Devan yang ditatap jengah oleh Devan.


"Maaf ya"ucap Devan lagi tulus san hanya dibalas deheman dari Zania. Devan pun dengan lembut mengecup kening Zania.


"Terima kasih sayang, ayo turun."ajak Devan yang langsung keluar dari dalam mobil dan disusul oleh Zania yang berjalan disampingnya saat ini.


***


Kenangan hanyalah kenangan. Benarkah itu?. Tapi jika yang saat ini kita lihat ada sebuah luka dari kenangan itu?. Apa yang akan terjadi, menganggapnya angin lalu?.


#Zania Pov'


Aku sekarang sedang menemani Devan yang menjadi narasumber di seminar yang dia hadiri. Disini ada banyak sekali calon-calon dokter masa depan dan para-para senior yang sebagian aku kenal.


Aku duduk dibagian depan dan mengarah kearah Devan yang sedang berbicara disana menjelaskan segala hal yang tertera di layar monitor. Sungguh dia seperti bukan Devan yang aku kenal. Beribawa kali ini dan karismatik yang membuat para mahasiwi disana kagum terhadapnya. Apa aku cemburu?.


Devan melihat kearahku sambil tersenyum dan setelahnya kembali fokus dengan materi yang akan dia bahas dan beberapa motivasi untuk membangkitkan semangat para mahasiswa/i disana.


Hingga seseorang menepuk pelan pundak ku dari belakang dan membuatku mengalihkan pandanganku dari Devan dan menoleh kearah belakang, tempat orang menepuk pundak ku pelan itu.


"Jes..."kejutku karena sekarang yang ada didepan mataku adalah Jesicca adik dari Derren dan Marcell. Bagaimana bisa dia ada disini dan menghadiri seminar ini. Tunggu.. tunggu. Devan gak akan merasa kesal bukan, jika melihat Jesicca disini.

__ADS_1


"Gak nyangka, aku ketemu kamu disini, Ni"ucapnya pelan karena takut mengganggu lainnya yang sedang fokus mendengarkan materi dari Devan.


"Aku lagi nemenin Devan, Jes"ucapku ragu dan dia hanya biasa saja. Syukur aku ucapkan dalam hati. Aku takut, dia sedih karena aku tahu dia menyukai Devan tapi itu hanya masa lalu bagi kami. Dan aku tidak ingin mengingat kenangan itu lagi.


"Kamu menemani Devan. Apa kamu kembali dengan laki-laki itu?"tanyanya antusias dan membuatku membalasnya dengan anggukan.


"Astaga, Ni. Aku kira kamu bakal balikan sama Rifky, ternyata sama Devan"ucapnya yang terkejut dan lumayan membuat orang-orang disekitar melihat kearah kami. Hal itu pun tak luput dari Devan yang juga menatap kearahku dan setelahnya menatap kearah Jesicca dengan tatapan yang tidak bisa aku jelaskan.


"Keblabasan suaraku"kikiknya yang hanya aku balas dengan senyum maklum.


"Kok kamu bisa disini, Jes. Bukannya kamu ada di Swiss?"tanyaku pelan dan dia langsung berpindah duduk disampingku yang memang kosong, karena itu tadi tempat duduk Devan yang sekarang duduk diatas panggung dengan beberapa narasumber lainnya.


"Aku duduk disini gak apa-apakan?"tanyanya meminta izin dan aku pun menyetujuinya karena pemilik kursi juga sudah duduk santai didepan sana.


"Aku akan jawab pertanyaanku, Ni. Aku disini karena kak Marcell sudah membebaskanku dari sana."ucapnya sambil tersenyum senang kearahku.


"Syukurlah kalau begitu, Jes. Memang lebih enak itu dinegara sendirikan?"ucapku yang diangguki semangat oleh Jesicca.


"Bukan apa-apa, Jes. Semua ada cerita bukan?. Karena cinta tidak harus memiliki. dan aku baru sadar jika aku lebih mencintai laki-laki lain selama ini. Perasaan yang selama ini aku abaikan dan aku tidak ingin menyesalinya lagi"ucapku menatap Devan yang juga menatapku khawatir. Jesicca menatapku dengan tatapan iba.


"Aku tahu apa yang kamu bicarakan, Ni. Semoga hubunganmu dan Devan berjalan lancar ya. Dan kamu jangan khawatir, aku gak akan ganggu hubungan kalian. Lihat deh si Devan sedari tadi menatapku dengan tatapan intimidasi begitu, bikin aku takut tahu"ucap Jesicca diselingi bercanda itu. Aku pun menahan tawaku melihat kelakuan Jesicca yang seperti itu.


Devan yang sedari tadi menatap kearahku dan Devan pun langsung dengan segera menghampiriku setelah acara seminar ini selesai dan saat itu pula Jesicca sudah berpamitan pergi dahulu karena ada janji dengan orang lainnya.


"Kamu tadi bicara apa sama Jesicca?"tanya Devan menatap khawatir kearahku. Aku pun mencoba membuatnya lebih tenang.


"Bukan apa-apa sayang"jawabku yang malah ditatap Devan dengan seribu tanya.


"Kok ekspresimu gitu sih"kesalku yang malah dibalas senyum olehnya.

__ADS_1


"Aku senang kamu manggil aku begitu. Panggilan sayang membuatku tenang"jawabnya yang langsungku cubit gemas pinggangnya itu.


"Mulai lebay"kesalku yang langsung berjalan duluan darinya yang mengikutimu dari belakang dan dengan cepat berjalan disampingku dan menggandeng tanganku ini.


"Dia gak berbuat jahat sama kamu kan?"tanya Devan lagi yang aku jawab dengan gelengan kepala.


"Syukurlah, aku hanya takut terjadi apa-apa sama kamu sayang"ucap Devan yang membuatku menghentikan langkahku itu dan Devan pun juga berhenti dan menatapku.


"Jesicca gak akan melakukan hal seperti itu lagi, Dev. Jadi kamu jangan mengkhawatirkan hal itu, oke. dan seperti yang kamu lihat, aku baik-baik saja kan?. Gak ada yang luka diriku atau sesuatu yang membuatku terganggu"ucapku sambil menatap Devan dalam. Devan pun menganggukan kepala setuju dan memelukku sebentar dan setelahnya menatapku lagi.


"Aku hanya takut, luka itu kembali terbuka. Tapi aku bersyukur semua itu baik-baik saja. Jadi aku tidak perlu mengkhawatirkan hal itu bukan"ucap Devan yang aku angguki dengan semangat.


"Kalau begitu mau pulang sekarang atau kita jalan-jalan dulu"tawarnya padaku sambil kami berjalan menuju parkiran sambil bergandeng tangan yang bagai dilem itu, gak mau lepas sedikit pun.


"Aku capek, kita pulang saja ya"ucapku memelas dan dia malah mengacak rambutku gemas.


"Baiklah kita pulang. Aku juga capek banget"jawab Devan dan kami pun pulang dari seharian kami bersama.


#Zania Pov' end


Hai gaes ...


Terima kasih telah setia menunggu update_an cerita author


Tunggu lagi ya, jangan pada ngilang dulu..


Ingat!


Update setiap hari Senin-Kamis

__ADS_1


See you next time gaes...


__ADS_2