
Harusnya tak ku paksakan
Bila akhirnya kan melukaiku
Mungkin ku tak akan bisa
Jadikan dirimu kekasih yang seutuhnya mencinta
namun kurelakan diri
jika hanya setengah hati
kau sejukan jiwa ini
^^^(Ada band_Setengah hati)^^^
***
Zania menatap dirinya dicermin. Memandang dirinya yang sudah sangat cantik dengan gaun hitam yang akan dia gunakan untuk pesta ulang tahun Mario ayah dari Rifky.
Gaun yang tidak terlalu terbuka membuatnya terlihat anggun dan elegan bersamaan dan rambut yang dia biarkan tergerai tapi sedikit dia kriting supaya mengembang.
"Sayang sudah ditunggu Devan itu dibawah. Mama sama papa mau berangkat juga ini. Revan sama Gladis sudah keluar dari tadi"ucap Dewi memanggil Zania yang segera bersiap-siap keluar.
"Iya ma, mama duluan saja. Nia mau keluar jugaan"ucap Zania yang sudah siap dan keluar.
Devan menatap kagum kekasihnya itu. Sungguh mereka menggunakan stelan baju yang sama. Devan juga menggunakan jas hitamnya dan kemeja hitam tidak luput dari apa yang dia pakai saat ini.
"You are very beautiful tonight dear"ucap Devan yang malah ditatap jengah oleh Zania.
"Terus kalau hari-hati biasa aku jelek gitu. Kamu kok malah ngeselin sih, malam ini"ucap Zania yang malah diketawain oleh Devan.
"Kalau hari-hari biasa kamu cantik tapi malam ini sangat cantik"puji Devan lagi dan mendekat kearah Zania dan menggandeng tangannya.
"Jangan cemberut, cantiknya nanti pudar"goda Devan lagi.
"Seterah saja, mau hilang atau nggak itu bukan urusanmu"kesal Zania yang dicubit manja oleh Devan.
"Sudah deh, ngambeknya kita telat loh nanti"ucap Devan yang dibalas helaan napas kasar dari Zania yang berjalan duluan.
Sampailah mereka di mansion keluarga besar Erlangga. Zania pun keluar dari mobil Devan dengan dibukakan pintunya oleh Devan yang sudah turun duluan.
"Silahkan my princess"ucap Devan sambil mengulurkan tangannya dan ternyata disamping mobil mereka ada seorang laki-laki yang juga baru saja keluar dari mobil menatap kearah mereka.
__ADS_1
"Marcell!"ucap Zania yang sadar akan keberadaan Marcell. Devan pun menoleh dan melihat Marcell yang memang tidak terlalu jauh jaraknya antara mereka.
"Zania"ucap Marcell bersamaan dengan Zania. Marcell pun menghampiri mereka.
Disana terlihat jelas ketidaksukaan dari Devan ketika Marcell menghampiri mereka.
"Kita bertemu. Bagaimana kabarmu?"tanya Marcell mengambil tangan Zania dan mengecupnya sekilas. Bukan hanya Zania yang terkejut tapi Devan juga. Devan pun segera melepaskan pegangan tangan Marcell itu dari tangan Zania.
Zania hanya bisa tersenyum canggung akan tindakan yang baru saja dilakukan oleh Marcell. Seperti biasa aura Marcell itu sangatlah angkuh, dingin kayak gunung es.
"Kabarku baik. Kamu datang untuk ayah Mario"ucap Zania yang digandeng mesra oleh Devan.
"Untuk om Mario dan untukmu"jawab Marcell percaya diri.
"Kita masuk yuk sayang"ucap Devan mengandeng Zania dan mengabaikan Marcell.
"Aku duluan ya Marcell"ucap Zania masih dengan canggung. dan Marcell menganggukan kepalanya, melihat Zania sudah pergi dari hadapannya.
"Malam ini kamu sangat cantik, Nia"ucap Marcell tersenyum melihat Zania pergi.
#Disisi Zania berada...
"Kenapa kamu diam saja ketika dia memperlakukan kamu seperti itu!"ucap Devan ketika mereka sudah ada membaur kepesta dan duduk dikursi yang sudah disediakan disana.
Zania menatap Devan malas.
"Seharusnya kamu tahu juga Ni. Kamu harus membatasi dirimu dengan laki-laki lain. Kenapa kamu gak bisa jaga perasaanku sih Ni"ucap Devan yang malah terbawa cemburu sedangkan Zania menahan senyumnya dan malah memprovokasi kekasihnya itu.
"Kamu juga harusnya bisa membatasi diri dari para perempuan diluar sana. Bukan tebar pesona. Jadi, jangan salahkan aku. Karena kita sama saja"jawab Zania masih menahan senyumnya itu.
"Ni!"kesal Devan menatap Zania dan memegang kedua tanga kekasihnya itu.
"Dev!"ucap Zania bersamaan.
Lalu seseorang datang dan membuyarkan tatapan mereka yang beradu itu.
"Pasangan ini, menghipnotis para tamu tahu gak. Padahal ini bukan acara tunangan atau pernikahan kalian. Hargai yang punya acara dong"ledek Riri yang menghampiri sahabatnya itu.
Zania pun melepaskan genggaman tangan Devan tapi dengan cepat diraih oleh Devan lagi.
"Aduh...posesif banget sih kamu bang Dev"goda Riri yang tidak ditanggapi oleh Devan yang masih menatap Zania dalam. Zania yang ditatap seperti itu pun luluh dan menunduk sebentar setelahnya membalas tatapan kekasihnya itu.
"Aku minta maaf sayang. Kamu tahu sendiri aku juga tadi terkejut"ucap Zania yang ditatap takjub oleh Riri akan ucapan Zania barusan.
__ADS_1
"Gak salah denger nih aku Ni"ucap Riri dengan senyum menyebalkannya. Zania pun menatap musuh Riri yang malah cengengesan.
"Maafin aku juga ya. Aku hanya cemburu tadi"ucap Devan mengecup tangan Zania dan semakin membuat Riri terkejut.
"Astaga dua orang ini gak lihat tempat kali ya"ucap Riri menggelengkan kepalanya heran dengan sahabatnya ini.
"Aku hanya ingin menghilangkan bekas laki-laki tadi"ucap Devan tersenyum dan Zania geli melihat ke posesifan Devan. Karena Devan dulu gak seperti itu.
"Kamu semakin dewasa semakin kayak remaja tahu gak"celetuk Zania yang dibalas senyuman dari Devan sedangkan Riri mulai jengah dengan keduap pasangan itu.
"Oke, aku disini memang gak dianggap"celetuk Riri yang langsung diketawain mereka berdua.
Seseorang yang tidak jauh dari sana melihat interaksi mereka. Raut wajah sedih terlihat jelas disana.Tapi apalah daya, untuk sekarang dia harus mengalah.
"Cemburu"goda seorang laki-laki paruh baya ke lelaki itu yang tidak lain adalah Rifky dan Mario ayahnya.
"Apa terlihat jelas diwajahku yah?"tanya Rifky dengan memejamkan mata sejenak itu.
"Jelas sekali. Karena ini acara pesta ayah. Ayah gak ingin melihat kesedihan diruangan ini"ucap Mario menggoda anaknya itu.
Rifky hanya menghela napasnya kasar dan seorang anak kecil menghampirinya.
"Ayah"panggil anak kecil itu yang ternyata adalah Azka yang datang bersama Bella yang semalam baru saja sampai di Indonesia.
"Anak ayah"ucap Rifky menggendong Azka yang tidak lama kemudian direbut oleh Mario.
"Sini kakek gendong. Cucu kakek memang paling ganteng ya"ucap Mario menggendong cucunya itu yang tersenyum senang dalam gendongan Mario. Rifky maupun Bella pun tersenyum akan interaksi itu dan para undangan pun melihat interaksi pemilik acara itu pun ikut senang.
Sedangkan di lain sisi ada seseorang yang terdiam akan interaksi itu. Dia adalah Zania. Devan yang memahami situasi itu pun menggenggam erat tangan Zania dan Zania pun berusaha tersenyum kearah Devan. Tapi kekhawatiran itu masih terlihat jelas disana.
"Kamu baik-baik saja"tanya Devan dan dibalas anggukan oleh Zania yang juga ditatap khawatir oleh Riri yang juga masih diantara mereka.
Marcell yang melihat semua itu hanya tersenyum sinis dan menatap Zania dalam.
"Jika dia tidak bisa membuatmu melupakannya. Aku yang akan membuatmu melupakannya dengan caraku"ucap Marcell yang langsung menengguk abis minuman yang sedari tadi dia pegang.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Next on