Harus Memilih 2

Harus Memilih 2
Dia Kembali


__ADS_3

2 Tahun setelah kepergian Zania dari Swedia...


Berjalan terburu-buru sambil membawa tas kerjanya. Dia akan masuk kedalam kereta itu dan tanpa sadar dia menabrak seseorang hingga menyebabkan seluruh barang yang ada di tasnya itu berserakan keluar. Sungguh hari ini adalah hari yang sial menurutnya. Ketika dia ingin menegur orang yang menabraknya tersebut betapa terkejutnya dia, karena orang itu adalah sala satu dari orang yang selama ini perlu dia hindari. Karena dia belum siap untuk bertemu.


"Apakah aku menemukanmu?"ucapnya yang tidak lain adalah Devan yang menatap perempuan itu yang terkejut menatap Devan yang tersenyum tulus kepadanya.


Perempuan itu pun segera memasukan semua barang-barang yang berserakan itu kedalam tasnya dan berusaha bersikap tenang dihadapan Devan yang menatapnya lembut dan membantunya berdiri.


"Sudah 2 tahun. Kamu tidak ada rencana untuk pulang?. Kamu tidak merindukan mama sama papa?. Semua masalah yang kamu khawatirkan kami bisa menghadapi masalah itu jika kamu mengatakannya. Kenapa kamu mempersulit dirimu sendiri Nia"ucap Devan sedih menatap perempuan yang ada dihadapannya. Yang tidak lain adalah Zania.


"Aku akan pulang, tapi nanti. Aku pergi dulu Dev, sampaikan salamku ke mama, papa dan kak Revan kalau aku baik-baik saja"ucap Zania yang menuju kearah keretanya tapi dia terlambat karena kereta itu sudah berjalan.


Zania merutuki dirinya sendiri saat ini dan sebuah tangan mencelanya erat. Saat Zania menoleh betapa terkejutnya dia kali ini, karena kakaknya yaitu Revan ada disana juga.


"Kakak sudah memberi waktu padamu Nia. Dari kamu yang menghilang sampai tinggal di Swedia bersama Marcell, kakak tahu hal itu. Hingga kamu kabur dan menghilang dari kediaman keluarga Martin, kami juga tahu. Tapi kakak akan memberi kamu jempol banyak karena pelarian yang tidak bisa diketahui ini, kamu memang juaranya menghilang. dan sekarang waktu yang ditentukan itu sudah cukup, waktunya kamu kembali ke Indonesia."ucap Revan yang dengan reflek menggendong paksa adiknya itu. Zania pun mencoba memberontak hingga orang-orang disana melihat kearah mereka.


"She is my younger sister"ucap Revan yang langsung pergi dari sana bersama Devan yang mengikut dibelakang.


***


Disisi Marcell berada...


"Apa yang aku lakukan sudah benar?. Dengan memberitahukan keberadaan dia kepada keluarganya"ucap Marcell menatap cangkir yang dipegangnya saat ini.


Laki-laki yang diajaknya bicara pun hanya tersenyum menanggapi ucapan Marcell. Hingga seseorang yang duduk tidak terlalu jauh dari mereka merubah suasana diruangan itu.


"Apa pun yang kamu lakukan itu benar bro. Dan mulai sekarang lu, perbaiki sifat mendomisil, sorry maksudku pemaksa itu dari diri lu. Dan buat dia menyukaimu dengan sendirinya. Plus untuk tambahannya, lu nyatain lah perasaan lu yang sebenarnya. Saingan lu bukan hanya si Rifky yang super gantelman itu tapi si dokter. Gila saja itu wanita memang punya daya tarik tersendiri sih"ucap Andre yang langsung mendapatkan tatapan tajam dari Marcell. Jaxton pun menengahi.


"Sudahlah, kalian ini. Benar kata Andre, buat dia memilih lu dengan cara yang benar. Kita orang capek ya di amukin mulu sama lu Cell. Cuma karena kegalauan yang gak kehabisan ini"ucap Jaxton dan hanya mendapatkan helaan napas kasar dari Marcell.


"Apa dia akan menerimaku semudah itu"ucap Marcell menutup matanya dengan pelan sambil memikirkan wanita yang menjadi pikirannya sampai saat ini.

__ADS_1


#Flashback on


(Ketika Rifky dan Revan mendatangi Marcell untuk menanyakan keberadaan Zania)


"Kamu membuatnya pergi!. Kamu tahu jika dia sudah berbuat seperti itu, dia bakalan susah ditemukan. Kenapa kamu melakukan hal seperti itu Bang** kepada adikku"ucap Revan yang sudah menonjok wajah Marcell tanpa adanya perlawanan.


Revan datang ke kediaman Martin bersama Rifky setelah perginya Zania dari kediaman itu beberapa minggu lalu.


"Sudah Van, jangan melukai tanganku untuk memukul orang sepertinya"ucap Rifky menatap sinis Marcell yang hanya bisa terdiam karena ada ayahnya Martin disana.


"Sebelumnya untuk tuan Revan dan Rifky, kalau duduk terlebih dahulu. Dan kamu!. Marcell, kamu juga duduk"ucap Martin kepada mereka yang ada disana.


"Begini, saya tahu kesalahan anak saya. Tapi untuk keberadaan Nia, kalian jangan khawatir, dia saya pastikan baik-baik saja. Karena anak saya Marcell pasti akan menemukannya. Saya pastikan itu, meski membutuhkan waktu. Bisa lama bisa juga cepat. Tergantung pintarnya Zania bersembunyi. Tapi yang saya dengar, Zania pandai bersembunyi seperti itu. Seperti saat dia menghilang dan yang menyebabkan orang yang sama, bukan"ucap Martin menatap Marcell yang hanya menunduk. Revan menatap Marcell sambil menghela napasnya kasar.


"Karena tuan Martin yang mengatakan hal ini. Saya bisa percaya. Kami juga akan tetap mencari keberadaan Zania dan terima kasih atas bantuannya tuan Martin. Tapi saya sangat menyayangkan tentang tuan Marcell, yang tidak bertindak profesional ini. Membawa masalah pribadi ke sebuah bisnis. Ini terlalu tindak kekanak-kanakan. Dengan mengancam adik saya, itu bukanlah tidakan yang benar. Padahal kemampuan tuan Marcell sangat meyakinkan tapi terlalu terbawa oleh urusan pribadi"ucap Revan masih sangatlah kesal.


Marcell pun menatap Revan dan menunduk kembali karena Martin memegang tangan anaknya itu.


"Saya yang minta maaf tuan Martin. Maafkan saya karena emosi saya ini. Saya hanya khawatir dengan keadaan adik saya"ucap Revan frustasi.


"Dia akan baik-baik saja"ucap Martin meyakinkan mereka yang ada disana.


#Flashback off


***


"Kata orangku yang ada disana. Dia sudah dibawa paksa pulang oleh kakaknya. Sifatnya hampir sama sepertimu sebenarnya, keras kepala"ucap Jaxton menatap sahabatnya itu yang masih sibuk dengan kertas-kertas yang ada dimeja kerjanya.


"Jangan sok sibuk begitu deh, gw tahu lu khawatir. Gak mau pergi ke Indonesia nih, gw pingin liburan. Setelah kerja keras gw selama ini"ucap Andre yang dibalas senyuman oleh Jaxton.


Marcell yang mendengar hal itu pun langsung mendongak menatap kedua sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kita perlu liburan sepertinya"ucap Marcell yang membuat kedua temannya itu tersenyum. Padahal merek sudah pada dewasa kan?. Tapi ya begitulah mereka. Mau bagaimana lagi?!🤭. Usia tidak mengikat prilaku bukan?.


***


Setelah perjalanan dari Singapura ke Indonesia akhirnya mereka sampai. Benar Zania selama ini bersembunyi di Singapura. Dan anehnya Rifky yang selalu bolak balik dari Indonesia-Singapura tidak mengtahui hal itu.


"Akan ada banyak pertanyaan buatmu?.Jangan salahkan kakak, semua orang menunggu dirumah"ucap Revan dan Rifky yang keluar dari mobil. Zania pun menyusul.


Mereka pun masuk kedalam rumah dan disambut oleh mereka yang sudah berkumpul. Mama Dewi yang melihat anak yang sangat dirindukannya itu pun langsung berlari dan memeluk erat. Sangatlah erat dan membuat dada dari Zania sesak dan menahan tangis yang akan pecah itu.


"Maafkan Nia ma"kalimat yang keluar dari mulut Zania dan membuat mama Dewi menangis setelahnya.


.


.


.


.


.


Next on...


...*Hai gaes.......


...Author akhirnya update juga nih chapter, atas segala desakan dari H_zee31🤣 untuk tidak menunda-nunda waktu🤭...


...Untung saja gak lagi Ngeleg nih otak, ditunggu besok yeah, ada kejutan mungkin, besok atau lusa...


...Maaf banget loh telat, up_nya......

__ADS_1


__ADS_2