
#Flashback on
"Selamat telah membuatku kesal Zania Dwi Pratnojoe"ucap Marcell dengan tatapan dingin yang tidak hilang-hilang itu.
"Maksudmu apa sih, aneh"ucap Zania menghindari tatapan itu dan berbalik ingin pergi namun Marcell langsung membawanya pergi menuju motornya.
"Naik!"perintah Marcell dan Zania hanya menatap tanpa bergerak.
"Gak mau naik nih?. Serius gak mau?. Jika kamu membuatku meminta sampai dua kali..."ucap Marcell dan tiba-tiba Zania sudah berada diatas motornya, membuat Marcell langsung tersenyum senang.
"Good girls"ucap Marcell yang langsung menghidupkan motornya itu dan menjalankannya menjauh dari lingkungan sekolah.
Marcell sangat kesal, tidak tahu kenapa dia sangat kesal. Kesal sama Zania atau kesal dengan teman-temannya yang ceroboh. Hingga dia tanpa sadar dia mengendarai motor itu dengan kecepatan 100km/jam dan membuat Zania ketakutan. Sungguh dia berasa sedang menuju ajalnya ketika bersama Marcell saat ini. Tangan Zania reflek memeluk Marcell dengan sangat erat, Marcell yang sadar akan ketakutan Zania pun langsung tersenyum senang dan malah semakin menjahili Zania lagi. Hingga sampailah mereka di sebuah rumah yang berada diujung kota.
"Turun"perintah Marcell lagi dan Zania pun menurutinya.
"Maksudmu apa membawaku kesini"tanya Zania karena Marcell membawanya kesebuah rumah dengan adanya papan tamplet didepan bertulisan panti asuhan.
"Kamu terlalu banyak mengetahui, jadi sekalian aku memberi informasi"jawab Marcell yang langsung melangkah menuju rumah panti itu.
Zania pun mengekor dibelakang Marcell. Tiba-tiba datang seorang ibu-ibu yang menyambut kedatangan mereka.
"Nak Marcell, ada apa kemari nak"tanya ibu-ibu itu yang menyapa kami ramah.
"Ingin saja Bu"jawab Marcell lembut dan hal itu otomatis membuat Zania terkejut dong.
"Kamu bersama siapa ini nak Marcell, cantik, pacarnya ya"tanya ibu-ibu itu lagi dan Marcell dengan mudah menjawabnya.
"Iya Bu, namanya Zania, ibu Naurel bisa memanggilnya Nia"jawab Marcell membuat Zania melotot terkejut dong.
Setelah pulang dari panti itu pun Zania hanya diam dan merenungkan maksud dari Marcell membawanya ke panti asuhan dan maksud dari teman-temannya dan apa pun yang membuat Zania pusing hari ini.
Marcell menghentikan motornya dipinggir jalan karena melihat Zania yang terlihat sangat kesal melalui spion.
__ADS_1
Zania belum sadar jika motor itu berhenti, hingga Marcell turun dari motornya dan membuat Zania tertegun.
"Lagi mikir kan?. Aku sudah pernah bilang, jangan berurusan dengan Jaxton. Tapi kamu malah berurusan dengannya"kesal Marcell yang langsung diprotes sama Zania.
"Maksudmu apa sih Cell. Aku juga gak tahu, tiba-tiba teman-teman kamu itu mendatangi aku yang akan pulang. Aku pikir kamu yang kasih tahu mereka. Dan apa-apaan coba, cuma masalah seperti itu sampai memperbesar membawa orang tua"kesal Zania yang langsung membuat Marcell tertawa jahat.
"Kamu kira ini masalah sepele yang dialami oleh murid SMA biasa. Jangan seperti teman kamu yang bodoh itu Nia, kami bukan siswa bandel atau nakal yang ada dalam fikiranmu"ucap Marcell santai sambil duduk dipinggiran trotoar sedangkan Zania masih duduk diatas motor.
Zania meremas bajunya melihat dan mendengar apa yang Marcell ucapkan saat ini. Dia tidak bisa mempercayai hal itu.
"Kamu tahu kami mungkin bisa disebut penjahat, pencuri atau penjahat teknologi kali ya. Kami mencuri informasi, menjual, mendapatkan uang dan berbagi ke orang yang lebih membutuhkan. Itu siklus yang benar bukan?"ucap Marcell masih dengan seringai iblisnya.
"Maksudmu apa sih, gak usah bertele-tele"jawab Zania yang langsung turun dari motor itu.
"Hacker, bodyguard, pemilik gedung, dan perlu aku sebutin lainnya, pasti kami sudah tahu bukan. Mereka bukan sembarangan orang, sekolah kita pun sama. Bisa disebut itu bukan sebuah sekolah, melainkan sarang informasi"jawab Marcell lagi yang membuat Zania terdiam.
"Aku tidak ingin mengetahui hal itu. Dari pada aku tetap disini dan berbicara terlalu tinggi denganmu, lebih baik aku pulang saja"jawab Zania yang akan pergi karena dia tidak suka pembahasaan yang terlalu berat untuknya.
Marcell pun langsung mencekal tangan Zania dan menatap dingin seolah Zania adalah musuh yang harus segera dimusnahkan.
"Kamu sudah tahu semuanya, mana mungkin aku melepaskanmu begitu saja"ucap Marcell dengan senyum sinis yang tidak pernah ketinggalan dari wajahnya itu.
Zania pun mencoba melepaskannya.
"Mengetahui apa!. Kamu yang memberitahukan hal itu tanpa aku minta bodoh!. Dan aku gak peduli dengan apa yang kamu lakukan bersama temanmu itu, mau kamu jadi mafia, penjahat, pembunuh, penculik atau apa pun itu aku gak peduli, lepaskan!!"kesal Zania menghempaskan tangan Marcell secara kasar dan pergi dari sana tanpa mempedulikan Marcell yang sudah menggeram marah.
#Flashback off
***
Setelah pergi dari mansion Marcell, Zania menyewa sebuah kamar hotel untuk dirinya menginap.
Zania merasa sangat lelah hari ini. Apalagi tadi dia berjalan cukup juah karena tidak adanya taxi yang lewat disekitaran mansion tempat Marcell berada.
__ADS_1
Saat ini pun dia berbaring lemah di kasur yang sangat asing baginya.
"Aku perlu memastikan sesuatu, tapi aku belum ingin kembali"ucap Zania menatap atap ruangan kamar hotel itu.
Namun, karena rasa ingin tahu yang tinggi. Zania pun membuka handphonenya dan mengecek sesuatu disana. Akhirnya dia merasa lega, karena hal dia khawatirkan, tidak sesuai ekspetasi yang dia bayangkan.
"Aku tahu kamu mampu dan cepat menghadapi hal itu Rifky"ucap Zania tersenyum menatap handphonenya.
"Tapi aku lebih takut dengan Marcell, mungkin saat ini dia terlalu terburu-buru. Tapi aku tidak bisa meragukan orang-orang yang ada dibelakang punggungnya"ucap Zania lagi.
"Aku harus segera pergi dari sini, sebelum mereka datang lagi"ucap Zania yang sangat lelah, hingga dia tertidur.
***
"*Apa kamu bilang!. Nia sudah keluar dari mansion Marcell. Terus keberadaan Nia sekarang dimana?"kesal Rifky yang sekarang sedang berada dikantor masih mengurusi beberapa masalah yang dibuat oleh Marcell dkk.
"Mrs. Zania menginap disebuah hotel, Mr. Rifky"jawab orang kepercayaan Rifky yang ditugaskan untuk mengamati keadaan Zania di Swedia.
"Awasi terus dan jangan sampai, laki-laki menemui Zania. Kamu mengerti bukan"kesal Rifky karena selalu kecolongan oleh Marcell yang terlalu cepat bertindak.
"Siap, Mr."jawabnya*
Rifky pun mematikan sambungan telphon tersebut. Dia sangat frustasi saat ini, meskipun masalah yang dibuat oleh Marcell sudah hampir beres. Tapi Zania masih ada di sana. Dan bisa kapan saja, laki-laki gila itu mengganggunya.
"Kenapa laki-laki terlalu menahan Nia seperti itu!. Aku harus mencari tahu hal itu. Dia tidak baik untuk Nia. Kenapa kamu gak mau pulang Nia"ucap Rifky sendiri sedih.
Sampai detik ini, atau sampai kapan pun, Rifky tidak ingin melihat Zania menderita lagi. Karena saat itu juga, Rifky akan menyalahkan dirinya sendiri akan apa yang terjadi. Karena Zania berhak bahagia, meskipun bersama orang lain, walaupun bukan dengan dirinya.
Next on...
Tunggu Senin depan gaes...
Jangan pada ngulang dulu ya..
__ADS_1
Tunggu saja kejutan disetiap episode/chapter🌺🌺🌺