
"Nanti aku mampir kerumah, kamu mau dibelikan apa sayang"tanya Devan di telphon.
Zania yang ditelphon Devan itu pun berpikir sejenak sebelum menjawabnya.
"Pulang jam berapa memangnya Dev, kalau kamu capek gak usah mampir. Aku gak mau kamu kelelahan apalagi habis melakukan operasi begitu"ucap Zania yang berada dikamar selesai mandi dan sedang menyisir rambutnya saat ini.
"Habis ini aku pulang, aku rindu. Apa gak boleh mampir ke rumah"ucap Devan yang dibuat-buat memelas.
Zania yang tahu hal itu menahan tawanya.
"Aku gak suka kamu kayak cewek gini. Manja tahu gak"ucap Zania menahan tawanya ketika memarahi Devan.
"Makanya kamu mau dibawain apa sayang"tanya Devan lagi yang sudah bersiap-siap keluar ruangannya.
"Ya sudah bawain dirimu yang sehat dan sampai ke rumah dengan selamat, aku tunggu"ucap Zania tersenyum dan Devan pun juga tersenyum mendengar ucapan Zania barusan.
"Semakin sayang deh aku sama kamu. Aku kesana ya, i love you sayang"ucap Devan yang langsung memutuskan sambungan telponnya itu.
Zania memandangi ponselnya itu dan tersenyum.
"Dasar laki-laki ini"ucap Zania yang sudah selesai menyisir rambutnya dan setelah itu keluar dari kamarnya.
Zania pun keluar dari kamarnya dan menuju keruang keluarga. Disana sudah ada Revan yang baru saja pulang kerja.
Zania pun langsung mendekat kearah kakak laki-lakinya itu.
"Ish...bau sekali disini, mandi sana"ucap Zania yang duduk disamping kakaknya itu.
Revan pun memincingkan matanya menatap adiknya itu yang sudah menutup hidungnya. dan jailnya Revan langsung memeluk adiknya itu dengan menenggelamkannya di ketiaknya.
"Kamu bilang bau bukan?. Kalau begitu rasakan bau keringat kakak, hhhhh"ucap Revan sambil ketawa.
Zania pun memberontak, mencoba melepaskan kurungan kakaknya. Mereka memang seperti itu kalau bertemu. Seperti kucing sama tikus gak pernah akur.
"Kakak sumpah deh, bau banget. Lepasin nggak!!!. Nia itu sudah mandi. Kakak!!!. Kakak jangan bikin kesal Nia!"kesal Zania menggelitik pinggang kakaknya dan membuat Revan tertawa tapi rengkuhannya tidak mengendor sedikit pun.
"Ampun dek...sumpah kamu ya"geli Revan.
"Makanya lepasin Nia dulu. Nia mau muntah rasanya"ucap Zania lebay.
"Tidak akan, wkwkwk"ucap Revan hingga ada seseorang yang menjewer telinga Revan dan orang itu adalah Gladis.
"Aw...sakit-sakit, ampun-ampun"ucap Revan menoleh dan terkejut. Dia pun langsung melepaskan Zania.
__ADS_1
"Sayang"ucap Revan terkejut kaku. Gladis menatap horor Revan. dan Zania yang melihat hal itu merasa senang karena melihat kebucinan kakaknya yang terkenal kaku kayak kanebo itu.
"Kamu itu kayak anak kecil ya. Sana mandi!. Malah gangguin Nia. Sudah tahu baru pulang kerja malah kayak gitu"kesal Gladis yang menarik Revan untuk berdiri untuk pergi mandi.
"Iya sayang, aku cuma kasih pelajaran sama anak Badung ini saja kok"ucap Revan memegang tangan gadis yang dicintainya itu.
Zania yang melihat kakaknya seperti itu pun tidak bisa menahan tawanya.
"Kak Revan mulai bucin. Si kanebo kering bucin, mantap...u"ucap Zania mentertawakan kakaknya itu. dan Revan menatap adiknya horor.
Zania pun gak ada takutnya karena Gladis sudah mencubit tunangannya.
"Sudah ih...sana mandi, habis itu turun dan ikut makan malam"ucap Gladis ke Revan yang tersenyum karena perhatian calon isterinya itu.
"Oke. Kakak akan balas dendam sama kamu"ucap Revan memperingati dan Zania meledeknya tanpa takut dan langsung diperingati oleh Beno ayah mereka.
"Kalian ini sudah dewasa, masih saja kayak gini"ucap Beno menengahi membuat Revan dan Zania yang ada disana pun tersenyum kecut karena ayah mereka sudah turun tangan.
"Nia dulu pa, bukan Revan"bela Revan untuk dirinya sendiri.
"Sudah deh, dari pada bela diri gak jelas gitu kamu mandi sana"ucap Gladis dan Revan pun menghela napasnya kasar dan langsung pergi dari sana dan menatap adiknya itu horor tapi tetap diledekin oleh Zania.
"Awas kamu ya"kesal Revan.
"Kamu juga Nia. Sukanya jailin kakakmu terus. Kalian itu sudah pada dewasa tapi masih kayak anak kecil gini"ucap Beno yang sudah duduk di kursi single samping Zania.
"Ya emang kak Revan bau pa. Ya gak Gladis!. Makanya aku suruh mandi, malah dia kasih keringatnya ke aku, Nia kan sudah mandi jadi ikutan bau kan ini"kesal Zania yang dilihatin oleh Gladis yang tersenyum melihat tingkah Zania yang seperti itu.
Beno yang melihat itu pun hanya menghela napasnya kasar sambil menggelengkan kepala maklum.
"Tapi papa senang, Nia kembali. Rumah ini terasa hidup lagi sayang"ucap Beno ke Zania.
"Papa"ucap Zania dan tiba bel rumah berbunyi.
"Itu pasti Devan"ucap Zania dan ditatap oleh ayahnya itu.
"Devan kesini?"tanya Beno.
"Iya pa, Devan kesini, dia mampir. Nia kedepan dulu ya. Duluan kedepan Gladis"ucap Zania tersenyum ke calon kakak iparnya itu.
"Iya"jawab Gladis.
"Gladis ke dapur ya pa, mau bantu mama dan bik Ani"ucap Gladis yang diangguki oleh Beno.
__ADS_1
Zania pun melihat siapa yang datang ke rumah orang tuanya itu dan benar orang itu adalah Devan dengan membawa bingkisan makanan yang paling Zania ketahui karena itu adalah makanan kesukaan Zania.
"Dev..."panggil Zania dan Devan pun langsung masuk sambil memberikan bingkisan makanan yang berisi ayam geprek dan sambel super.
"Kok malah bawa makanan gini sih"ucap Zania menatap beberapa kotak makanan yang berlogo geprek ini ditanganya.
"Aku duduk dulu ya capek"ucap Devan tersenyum tanpa membalas ucapan Zania. Zania pun langsung membawa bingkisan itu ke arah ruang makan dan meminta bik Ani untuk menyajikannya di meja makan malam nanti.
Sambil membawa minum Zania pun kedepan dan melihat Devan sedang mengobrol dengan ayahnya.
"Diminum dulu"ucap Zania meletakan cangkir itu didepan meja Devan dan ayahnya Beno.
"Baru pulang kerja langsung kesini. Kamu gak capek?"tanya Zania ke Devan yang tersenyum karena perhatian dari Zania.
"Dia habis bertengkar sama kakaknya yang pulang kerja bukannya mandi malah bersantai diruang kerja. Mungkin habis ini dia marahin kamu Dev"goda Beno yang membuat Zania kesal.
"Papa apaan sih"kesal Zania yang malah diketawain oleh Beno.
"Kalian itu pasti kalau bertemu kayak kucing sama tikus ya"ucap Devan mengacak rambut Zania gemas. Beno yang melihat hal itu pun tersenyum.
"Memang kak Revan itu bau keringat Dev"kesal Zania yang membuat Devan kembali tersenyum.
"Kalau begitu papa kedalam ya. Jadi nyamuk papa disini. Dan jangan macam-macam sama anak papa"ucap Beno pamit dan diangguki keduanya.
"Dasar anak muda"ucap Beno yang sudah mempercayakan Zania ke Devan.
Setelah Beno pergi Devan pun memegang kedua tangan Zania dan menatapnya.
"Jangan marah dong. Gitu saja kok marah sih"ucap Devan yang tetap dicemberutin oleh Zania.
"Aku itu gak marah"kesal Zania.
"Tapi aku tuh lagi bucin sama kamu"ledek Revan yang sudah ada dihadapan mereka. Dengan senyum jahil yang terpancar jelas disana. Devan yang melihat itu hanya bisa menahan tawanya. Karena sikap kakak adik ini.
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
^^^.^^^
__ADS_1
^^^Next on...^^^