
Setelah mendapatkan telepon dari Julia, Mia pun kembali menelepon Toni.
Tut ...
Suara telepon tersambung.
“Hallo Toni, kamu di mana?”
“Ada apa Mia tumben pagi-pagi meneleponku?”
“Ada berita penting?”
“Berita apa Mia?”
“Jadi Julia meneleponku dengan menangis, Julia minta aku menjemputnya tapi sopir ku lagi cuti di tambah, tidak ada yang bisa mengantar, kamu bisa ke rumah dan kita jemput Julia.”
“Oke kalau begitu aku ijin sama Papah dulu ya pinjam mobilnya.”
“Iya Toni, jangan lama-lama ya kasihan Julia.”
“Iya Mia ya sudah tunggu aku, aku mau bersiap-siap,” Toni pun mematikan ponselnya bergegas keluar dari kamarnya.
Toni berjalan menuju depan teras rumahnya terlihat ayahnya yang sedang menikmati kopi sembari membaca koran pagi.
Toni pun duduk di samping ayahnya.
“Pah?” tegur Toni.
“Ada apa Toni?” tanya sang ayah sembari menyeruput kopinya dan tetap fokus membaca koran pagi.
“Mobil Papah ke pakai tidak hari ini Toni boleh meminjam mobil Papah?”
“Kamu mau ke mana?”
“Mau ke rumah teman Pah, sebentar aja, yah Pah boleh,” Toni yang berusaha membujuk sang Ayah.
“Ya sudah tapi jangan lama-lama Ya, soalnya sore Papah mau ke kantor,” ujar ayah Toni yang memberikan kunci mobilnya.
“Iya Toni janji tidak sampai sore, makasih Pah,” sahut Toni sembari mengambil kunci di tangan ayahnya.
Toni pun bergegas masuk ke dalam mobil milik ayahnya.
“Toni!” pekik sang Ayah.
“Apa Pah,” ucap Toni yang berada di dalam mobil.
“Hati-hati membawa mobilnya,” ucap sang ayah memperingati Toni.
“Iya Pah, Toni berangkat dulu,” sahut Toni pamit kepada Ayahnya.
Toni pun menjalakan mobil sanga ayah dengan kecepatan rata-rata.
‘Ada apa sih sebenarnya dengan Julia?’ batin Toni yang berkata-kata.
30 menit telah berlalu Toni pun telah sampai di depan halaman rumah Mia.
Toni menekan teraksonnya menandakan dirinya telah sampai di depan rumah Mia.
Mia keluar dari rumah.
“Bu Mia pergu dahulu,” ujar Mia yang pamit kepada ibunya.
Mia berjalan menuju mobil lalu masuk ke dalam mobil.
“Ayo jalan Toni,” perintah Mia.
Toni mulai menjalankan kembali mobilnya meninggalkan rumah Mia.
Di tengah perjalanan mereka berdua mengobrol santai.
“Ada apa sih sebenarnya Mia?” tanya Toni.
“Aku tidak tahu juga Toni, tadi Juli meneleponku dengan menangis dia sekarang berada di Vila milik Roy,” Mia yang menjelaskan kepada Toni.
__ADS_1
“Jangan-jangan Julia dalam bahaya Mia?” celetuk Toni berfikir negatif.
“Sttt, jangan ngomong yang enggak-enggak semoga saja Julia baik-baik di sana.”
“Lalu di mana Vila milik Toni itu?”
“Kata Julia sih di puncak, namanya Vila Kenanga,” sahut Mia yang memberikan informasi kepada Toni.
Toni pun mulai mempercepat laju mobilnya, ia mulai khawatir dengan sahabat baiknya Julia.
Satu jam telah berlalu namun merek berdua belum ketemu Vila kenanga.
Mia turun dari mobil dan bertanya kepada warga yang berjualan didaerah puncak.
“Permisi Bu, saya mau bertanya Vila Kenanga di mana ya Bu?” tanya Mia kepada ibu warung.
“Oh ade nanti lurus nanti ada simpang tiga belok kanan nah di sana Vila Kenanga,” sahut ibu pemilik warung.
“Terima kasih ya Bu,” sahut Mia bergegas masuk ke dalam mobil.
Di dalam mobil Toni menanyakan kepada Mia.
“Di mana Mia tempatnya itu Vila?” tanya Toni yang mulai menjalankan mobil.
“Kata ibu pemilik warung itu lurus habis itu ada simpang tiga ambil jalur ke kanan,” ujar Mia yang menjelaskan ke Toni.
Toni yang mengetahui kembali mempercepat laju mobilnya.
Setelah 10 menit Toni berserta Mia menemukan villa Kenanga.
“Toni itu vilanya!” ucap Mia sembari menunjuk dari dalam mobil.
“Oh iya Mia,” sahut Toni.
Toni memarkirkan mobilnya di depan Vila tersebut sesudah itu ia bersama Mia keluar dari dalam mobil berjalan menuju Vila tersebut.
“Ayo Toni kita hampiri Julia,” ujar Mia.
Mereka berdua berjalan menghampiri Julia masuk ke dalam Vila tersebut.
“Julia mana Toni?” ucap Mia yang melihat di sekelilingnya tidak ada Julia.
Setelah itu terdengar suara tangisan seseorang wanita di dalam sebuah kamar.
“Toni itu seperti tangisan Julia, apa kamu mendengarnya,” ucap Mia kembali.
“Iya aku mendengarnya ayo cepat kita hampiri,” celetuk Toni menarik tangan Julia.
Setelah itu mereka membuka kamar tersebut terlihat Julia yang duduk di atas tempat tidurnya sembari menangis.
“Julia!” Pekik Mia.
“Mia, Toni,” ucap Julia berlari memeluk Mia.
“Ada apa denganmu Julia?” tanya Mia sembari masih memeluk Julia.
“Antarkan aku pulang Mia,” sahut Julia yang enggan menjawab pertanyaan Mia.
“Iya aku bersama Toni akan mengantarkanmu pulang tapi kamu kenapa, mana yang lain?” tanya Mia.
“Aku tidak tahu Mia, aku bangun tidur mereka tiba-tiba tidak ada,” ujar Julia yang tetap tidak menjawab pertanyaan Mia.
“Ya sudah mari kita pulang,” sahut Toni.
Julia, Toni, berserta Mia keluar dari kamar tersebut secara tidak sengaja Mia menoleh ke tempat tidur terlihat seprai di atas tempat tidur tersebut terdapat bercak darah.
Namun Mia hanya diam saja, karena setiap ia bertanya kepada Julia ada apa dengan dirinya Julia enggan untuk bercerita.
Mia berserta Toni pun membantu membawa tas Julia setelah itu mereka bertiga masuk ke dalam mobil.
Toni pun segera menjalankan mobilnya menunggalkan Vila itu menuju rumah Julia.
Di dalam perjalanan Mia kembali menanyakan apa yang terjadi kepadanya saat Julia sudah kembali tenang.
__ADS_1
“Ini minum,” ucap Mia yang memberikan sebotol air minum kepada Julia.
“Terima kasih Mia,” sahut Julia mengambil botol tersebut lalu meminumnya.
“Kamu kenapa Julia?” tanya Mia kembali yang penasaran.
“Emm, ti-tidak apa-apa aku Cuma takut sendiri di Vila itu dan tidak tahu jalan untuk pulang jadi aku meneleponmu Mia,” ujar Julia yang berbohong.
“Tapi kamu tidak di apa-apain sama mereka kan?” Mia menanyakan kembali.
“Ti-tidak Mia, terima kasih ya kalian berdua mau datang menjeputku,” ujar Julia tersenyum ke arah Mia, mencoba menahan kesedihannya.
“Ya sudah, kita kan sahabat jadi saling membantu,” ujar Mia sembari memeluk Julia.
“Oh iya nanti kalau ibu dan ayahku bertanya tentang study Tour kamu bilang saja aku ikut kamu pulang Ya, soalnya kemarin aku di jemput oleh Via,” ucap Julia kepada mereka berdua.
“Iya Julia kami paham kok,” sahut Mia.
“Iya Julia tentang semua beres,” celetuk Toni sembari mengemudi.
“Kalian berdua adalah temanku yang baik. Maaf ya kemarin di sekolah aku sempat berbicara kasar dengan kalian,” ucap Julia yang merasa menyesal.
“Oh itu udah Julia santai aja lagi pula kita tidak marah kok,” kata Mia.
“Iya Julia santai aja,” celetuk Toni.
Satu jam telah berlalu mereka yang asik mengobrol di dalam mobil pun tidak terasa telah sampai di depan rumah Julia.
Toni memarkirkan mobilnya dan mereka bertiga kembali turun dari dalam mobil di sambut hangat oleh kedua orang tua Julia.
Namun Toni yang ingat kepada janjinya kepada sang ayah tidak lama membawa mobilnya, akhirnya berpamitan kepada kedua orang tua Julia, begitu pun dengan Mia yang juga berpamitan kepada orang tua Julia dan mereka berdua kembali pulang ke rumah masing-masing.
***
Januari 2023 kembali ke Mia yang bercerita kepada Dara
Mia yang telah sampai di depan rumahnya akhirnya mengakhiri ceritanya tentang Julia.
Dara pun mulai mendapat sedikit Info tentang Julia dari Mia.
“Dara aku duluan ya nanti cerita kita sambung lagi kapan waktu,” ujar Dara yang membuka pagar rumahnya.
“Oke Mia,” ujar Dara yang terus berjalan.
Dara mulai mengkait-kaitkan informasi yang di dapat dari Dara.
‘Berti ada sesuatu hal di masa hidup Julia yang dirinya tidak mau ceritakan kepada Mia, soalnya kata Mia tadi ada bercak darah di tempat tidur, ada apa ini aku jadi pusing memikirkan misteri ini,” eluh Dara.
Dara pun telah sampai di depan pintu rumahnya, Dara pun membuka pintu rumahnya.
“Assalamualaikum, bu Dara pulang,” ujar Dara.
Yang melihat ibunya berjalan menuju dapur.
Dara pun mengikuti sang ibu ke dapur.
‘Tumben ibu tidak menjawab salam dari Dara,' Dara yang bermonolog.
Setelah sampai di dapur Dara tidak melihat sang ibu di dapur dan kembali ke kamarnya untuk mengganti baju.
Saat dari mau masuk ke kamarnya terlihat sang ibu yang baru dari luar masuk ke dalam rumah.
“Loh ibu kok di luar, bukannya tadi di dapur?” tanya Dara yang kembali bingung.
“Dari dapur bagaimana Dara, tadi ibu di ke warung bu Ani kok membeli telur ini baru pulang dan masuk rumah,” ibu dara yang menjelaskan kepadanya.
Seketika Dara terdiam mengingat yang di lihatnya sebagai ibunya tidak menjawab salamnya hanya diam lalu berjalan ke dapur.
“Memangnya ada apa Dara?” tanya Ibunya.
“Emm, tidak apa-apa bu, ya sudah Dara mau ganti baju dulu,” ucap Dara masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1