
“Oh iya bagaimana selepas pulang sekolah kalian berdua ke rumahku saja kita pecahkan mimpi itu bersama-sama,” ucap Mia.
“Oh iya benar aku setuju,” sahut Dara serta Mia.
Sementara di sisi lain Via sedang merencanakan sesuatu.
Via yang sedang berkumpul di kantin sekolah bersama teman-temannya, Erin, Siska, Indra, serta Roy.
“Aku yakin kasus kematian Kevin ada sangkut pautnya dengan kematian Julia,” ucap Via.
“Jangan asal menuduh seseorang sayang,” tegur Roy.
“Begini saja kalau kalian tidak percaya bagaimana jika selepas pulang sekolah kita bermain Jailangkung, tanyakan kepada arwah Julia apa dia yang membunuh teman-teman kita?” ujar Via yang mengajak teman-temannya.
“Aku tidak mau ikut permainan semacam itu lagian aku tidak percaya dengan hal semacam itu,” kata Roy yang tidak setuju dengan rencana Via.
“Kalau kamu tidak percaya Roy kenapa tidak mencobanya?” tantang Via.
“Aku tidak mau memainkan permainan bodoh semacam itu,” sahut Roy yang pergi meninggalkan mereka semua.
“Dara apa permainan itu tidak berbahaya?” tanya Erin yang merasa takut.
“Kamu tidak mau tahu kenapa Kevin bunuh diri?” tanya Via.
“I-iya aku ingin tahu, selama aku kenal Kevin dia tidak akan melalukan hal seperti ini,” sahut Erin.
“Ya sudah ikuti saja, nanti selepas pulang sekolah kita ke kamar ganti tempat Julia bunuh diri aku sudah menyiapkan semua perlengkapannya tadi malam,” sahut Via.
Mereka bertiga tidak dapat berkata apa-apa atas ide ekstrem yang di tawarkan oleh Via.
Namun Erin, Siska serata indra pun merasa sangat penasaran atas kasus kematian tiga temannya.
“Bagimana? Kalian mau tidak ikut?” tanya Via kepada mereka bertiga.
“I-iya kami ikut,” Erin serta Siska.
“Kamu Indra bagaimana? Mau ikut tidak?” tanya Via.
“Ya sudah aku ikut jika Siska ikut aku,” ujar Indra dengan wajah terlihat mulai takut.
“Oke baik, selepas pulang sekolah kalian jangan pulang dulu kita kumpul di ruang ganti,” ujar Via.
__ADS_1
Mereka semua telah sepakat memainkan permainan itu di selepas pulang sekolah di ruang ganti tempat di mana Julia bunuh diri.
Berjam-jam kemudian bel sekolah kembali berbunyi menandakan kegiatan belajar mengajar telah usai para murid pun di persilahkan untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.
Namun tidak dengan Via, Siska, Erin serta Indra yang sedang menunggu sekolah mulai sepi.
Sesekali mereka di tegur oleh teman mereka.
“Kalian berempat tidak pulang?” tegur salah satu murid sekelas mereka.
“Ada yang kami tunggu,” ujar Via.
“Ya sudah aku duluan,” celetuk siswa tersebut.
Beberapa menit kemudian sekolah terlihat mulai sepi, Via berserta kawan-kawan segera pergi ke ruang ganti.
Sesampainya di ruang ganti Dara telah mempersiapkan semua perlengkapan dari selembar kertas karton yang di potong menjadi selembar ketas HPS, Dengan di tuliskan huruf abjad di atas kertas karton tersebut dan beberapa tulisan IYA dan kata TIDAK di pojok kiri dan kanan kertas karton tersebut, setelah itu Via mengeluarkan boneka jailangkung.
Mereka berempat duduk di lantai tepatnya di depan ruangan ganti yang telah di kunci permanen oleh pihak sekolah.
Via, Erin, Siska, serta Indra duduk membentuk lingkaran mengelilingi kerta itu sembari memegang boneka Jailangkung secara bersama-sama.
“Kita membaca mantranya bersama-sama,” ujar Via
“Sudah kalian percaya saja kepadaku,” ujar Via yang meyakinkan teman-temannya.
Via mulai membaca mantra yang terbilang sakral konon katanya jika kita membacakan mantra Jailangkung tersebut arwah akan datang.
“Jailangkung, Jailangse di sisini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang di jemput pulang di ....” Via yang membacakan bersama-sama ketiga temannya.
Mereka semua membacakan mantra Jailangkung tersebut namun tidak ada reaksi apa-apa.
“Via bonekanya tidak bergerak?” tanya Siska.
“Mungkin kita harus mengulanginya sampai beberapa kali?” ucap Via.
Mereka berempat pun mengulangi membaca mantra itu sampai ke tiga kalinya barulah boneka Jailangkung yang di pegang oleh mereka semua secara bersamaan, mulai muncul reaksi di serta angin yang berembus di ruangan ganti tersebut.
Boneka Jailangkung yang mereka pengang mulai bergetar. Erin yang mulai takut pun ingin melepas genggaman tersebut.
“Jangan ada yang melepas genggaman kalian di boneka Jailangkung ini,” tegur Via yang mengetahui Erin mengedorkan genggamannya.
__ADS_1
Via mulai menanyakan arwah yang masuk ke dalam pulpen yang di buat menjadi boneka Jailangkung tersebut.
“Aku ingin bertanya apakah kamu arwah Julia?” tanya Via ke pada boneka Jailangkung itu yang telah di masuki sesosok arwah.
“IYA,” boneka Jailangkung yang bergerak menuju kata IYA
“Apakah kematian Dina kamu yang bunuh Julia?” tanya Via dengan serius.
“IYA,” jawab boneka Jailangkung itu kembali.
“Apakah kematian Edo serta Kevin kamu juga penyebabnya?” tanya Via yang sangat antusias.
“IYA,” boneka Jailangkung itu kembali bergerak menjawab pertanyaan Via.
Terlihat raut wajah ketakutan di mereka berempat.
“Kenapa kamu membunuhnya Julia apa salah merek?” Indra yang mencoba bertanya.
Boneka Jailangkung itu pun mulai bergerak ke huruf Abjad.
“D-E-N-D-A-M.”
“Dendam!” Seru Via.
“Via aku tidak mau main lagi?” ujar Erin yang ketakutan.
“Jangan kita harus menyelesaikan permainan ini,” ujar Via.
Namun beberapa menit kemudian boneka Jailangkung itu bergerak menuju huruf abjad kembali seperti ada yang ingin di ucapkan.
“K-A-L-I-A-N A-K-A-N M-A-T-I.”
Via berserta yang lain pun mengeja huruf demi huruf dan membacanya.
“KALIAN AKAN MATI,” ujar Via yang sontak saja melepaskan boneka jailangkung tersebut.
Mereka semua pun melepas genggamannya dan berlari keluar dari kamar ganti tersebut.
“Ayo kita pulang Via?” ajak Erin.
“Iya gila kamu Via, gara-gara kamu bagaimana jika kita semua di teror oleh arwah Julia!” tegur Indra yang kesal dengan ide Via.
__ADS_1
“Sudahlh kalian semua jangan memojokkan aku lebih baik kita tinggalkan sekolah ini pulang ke rumah masing-masing,” saran Via.
Mereka semua pun pergi meninggalkan sekolah tersebut pulang ke rumah masing-masing.