
Semenjak kepergian teman-temannya kini Via sendiri tidak ada yang mendukung serta membelanya, para siswa sekelasnya pun banyak yang menyukai Dara ketimbang Via.
Di tambah lagi Dara menjadi murid yang pandai di kelas serta rama kepada teman-temannya. Hal tersebut membuat Via teringat akan almarhum Julia.
“Eh Dara, aku boleh bertanya ini soal no tujuh kamu mengerti tidak?” tanya salah satu Siswa di sekolah.
“Oh ini, coba cari dulu nilai X nya terus kalau sudah dapat nilai dari X baru di cari akar dari nilai X nya,” ucap Dara yang menjelaskan kepada Siswa itu.
Dari kejauhan tampak Via memperhatikan Dara dengan wajah kesalnya.
‘Kali ini kamu memang unggul semuanya dari aku Dara, dan sekarang aku pun hanya sendiri tapi nanti lihat saja aku akan membuatmu malu di hadapan teman yang lain,' batin Via yang kesal.
Via pun mulai mencari cara untuk mempermalukan Dara di semua teman sekelasnya agar tidak ada lagi yang simpatik kepadanya.
Hingga suatu hari Via mulai menemukan cara untuk memperlakukan Dara di semua murid Via merencanakan sesuatu untuk Dara, di saat itu di kala jam olah raga semua murid berada di luar kelas, Via yang secara diam-diam mengendap-endap masuk ke kelasnya.
Setelah berada di kelas ia mulai berjalan ke bangku Dara, sesampainya di tempat duduk Dara, Via membuka tas Dara dan melepas jam tangannya memasukkan ke dalam tas Dara.
‘Aku akan membuatmu malu Dara,' batin Via seraya tersenyum jahat.
Via yang telah selesai menjalankan aksinya pun mulai mengendap-endap keluar dari kelas yang sepi itu.
Namun di depan pintu kelas Via melihat arwah Julia yang sedang menatapnya tajam.
Via pun terkejut di buatnya, dan mencoba menghindar dari arwah Julia tersebut.
Via membuka pintu kelas dan segera bergegas keluar dari kelas itu.
Setelah itu Via yang merasa jantungnya berdetak kencang akibat melihat sosok arwah Julia mencoba untuk duduk di koridor sekolah untuk menenangkan dirinya.
‘Sialan hantu, itu masih saja menggangguku,’ batin Via yang tampak kesal.
‘Tidak henti-hentinya hantu Julia itu meneror aku, setelah semua temanku mati akibat dirinya,' sambung batin Via yang masih kesal.
Setelah mulai merasa tenang Via pun pergi menuju kantin.
Via di sana memesan makan serta minuman sesekali ia teringat akan teman-temannya yang selalu menemaninya.
‘Erlin, Siska, Indra, andai kalian ada di sini mungkin aku tidak merasa kesepian,' batin Via yang teringat akan kebersamaan mereka.
Via mengambil tisu di kantongnya lalu mengusapkan ke matanya, tidak dapat di ungkiri kesedihan di tinggal teman-temannya membuat Via merasa dirinya sendiri di tambah lagi semua murid di kelas lebih simpatik kepada Dara dan juga Roy yang terkadang terlihat dekat dengan Dara.
Satu jam telah berlalu, pelajaran olah raga pun telah selesai, dan kebetulan kali ini yang akan mengajar adalah bu Yasmin wali kelas mereka. Via dapat berakting di hadapan ibu Yasmi.
__ADS_1
Semua murid kembali ke kelas dengan mengganti pakaian olah raga mereka dengan baju seragam kembali termasuk Via.
Setibanya di kelas semua murid telah duduk di tempat duduk mereka dengan rapi sembari menunggu bu Yasmin yang akan masuk ke kelas mereka.
Tak berapa lama seseorang membuka pintu kelas dan itu adalah bu Yasmi.
“Selamat siang,” sapa bu Yasmi.
“Selamat siang Bu,” sahut serentak seluruh murid.
“Keluarkan buku catatan kalian ibu akan mencatat di papan tulis dan menjelaskan.”
“Iya bu,” sahut beberapa murid.
Sementara Via terlihat sedang sibuk sendiri mencari sesuatu.
“Via kamu sedang apa, tadi ibu suruh keluarkan buku catatankan!” tegur bu Yasmi.
Via yang di tegur bu Yasmi pun menghentikan mencari sesuatunya.
“I-itu Bu, Via sedang mencari jam tangan Via Bu, tadi sewaktu olah raga Via letakkan di atas meja sini bu, dan biasanya ada ini kok tidak ada. Via sudah mencari-carinya ke mana-mana dan jam tangan itu jam tangan mahal bu hadiah dari papah ketika Via ulang tahun kalau hilang nanti Via bisa di marahin sama papah,” Via yang menjelaskan kepada bu Yasmi.
“Kalian ada yang tahu jam tangan Via?” tanya bu Yasmi.
Semua murid menggelengkan kepalanya mereka tidak tahu akan jam tangan Via.
“Kamu yakin Via kamu taruh di atas meja sewaktu pelajaran olah raga?” bu Yasmi bertanya kembali.
“Iya bu Via yakin, Via taruh di atas meja,” ujar Via seraya meyakinkan bu Yasmin.
“Jika memang begitu, semua Siswa dan Siswi ibu minta tarus tas kalian di atas meja semuanya, ibu akan periksa tas kalian satu persatu!” perintah bu Yasmin.
Semua murid pun mengikuti perintah ibu Yasmi mereka menaruh tas mereka di atas meja sementara ibu Yasmi mulai berjalan menuju para Siswa satu persatu.
Bu Yasmi mulai mendatangi Mia dan membuka tas Mia namun tidak menemukan jam Via di tas Mia, bu Yasmin kembali berjalan menghampiri Toni, saat bu Yasmin membuka tas Toni tidak ada di dalamnya akhirnya bu Yasmi berjalan kembali dan membuka tas Dara.
Saat bu Yasmin membuka tas Dara, ia terkejut melihat sebuah jam tangan merek terkenal berwarna hitam, Bu Yasmi langsung merogoh ke dalam tas Dara dan mengeluarkan jam tangan.
“Via apakah ini milikmu,” tanya bu Yasmi seraya menunjukkan jam tangan yang ia temukan dari kejuhan.
“Iya bu itu jam tangan Via, kenapa ada di tempat Dara? Rupanya murid yang di bilang teladan bisa mencuri juga,” ucap Via yang sengaja ingin mempermalukan Dara.
Beberapa Siswa ada yang berteriak mengejek Dara. Dara mencoba membela diri menjelaskan kepada bu Yasmi bawa dirinya tidak melakukan hal tersebut.
__ADS_1
“Sudah-sudah semuanya diam, Via ambil jam tanganmu, ibu harap kamu bisa menyimpan jam tangan mu lebih berhati-hati lagi agar tidak terulang kembali kejadian seperti ini,” ujar bu Yasmi memberikan jam tangan milik Via
“Dara ikut ibu ke kantor ibu kecewa kepadamu Dara,” sambung kembali bu Yasmi.
“Bu, Dara tidak melakukannya Bu, Dara berani bersumpah Dara tidak melakukan itu,” Dara mencoba meyakinkan ibu Yasmin.
“Dara ikut ibu ke kantor nanti jelaskan di kantor saja, yang lain rangkum dulu dari halaman 5 sampai dengan 12,” perintah bu Yasmi.
Dara pun mengikuti di belakang bu Yasmi berjalan menuju kantor.
Sementara Toni serta Mia tidak percaya jika Dara melakukan hal seperti itu.
“Mia, Mia,” seru Toni memanggil Mia.
“Iya Toni,” sahut Mia.
Toni menghampiri Mia dan duduk di sampingnya tempat Dara.
“Ini ada yang tidak beres aku yakin Dara tidak melakukan itu, semua ini hanya rencana busuk Via untuk membuat reputasi Dara di kelas ini tidak baik,” kata Toni.
“Iya sih Ton, aku juga setuju kepadamu. Tapi bagaimana kita bisa membantu Dara?” celetuk Mia.
“Begini nanti di jam istirahat kita tanya murid satu persatu di kelas ini, semoga saja salah satu dari kita ada yang melihat kejahatan Via,” ucap Toni yang berharap.
“Iya Toni semoga saja, ada jalan keluar untuk Dara,” ucap Mia yang juga berharap Dara bisa mereka tolong.
Sementara di sisi lain Dara sedang berada di ruangan bu Yasmi.
“Dara mengapa kamu melakukan itu?” tanya bu Yasmin dengan tegas.
“Dara tidak melakukannya Bu.”
“Tapi bukti itu mengarah kepadamu.”
“Bu percaya kepada Dara bu, Dara tidak melakukan itu,” Dara yang mencoba meyakinkan bu Yasmin.
“Ibu tidak bisa percaya kepada orang yang salah Dara, dan ibu kecewa kepadamu. Ini ada surat panggilan untuk orang tuamu,” ujar bu Yasmi.
Dara tidak bisa berkata-kata dirinya hanya dapat meneteskan air mata ketika di beri surat dari bu Yasmi.
Hatinya sangat sakit hal yang ia tidak lakukan di paksa untuk melakukan, Dara pun kembali ke kelasnya semua murid mulai mencibir dirinya sebagai pencuri.
__ADS_1