Haunted School

Haunted School
Teror terhadap Via


__ADS_3

Ke empat penculik itu berlari terpencar salah satu dari mereka ada yang berlari menuju jalan raya, penculik itu sesekali menengok ke belakang terlihat arwah Julia yang ada di belang sampai akhirnya penculik itu tidak memperhatikan jalan di depannya sebuah truk dengan kecepatan tinggi menabrak penculik tersebut dan meninggal di tempat.


Sedangkan ketiga penculik yang mencoba untuk bersembunyi kembali di teror oleh Julia.


Salah satu dari mereka ada yang berlari melewati jembatan yang terbuat dari kayu sampai akhirnya tergelincir dan jatuh ke sungai yang alirannya deras tubuhnya terbawa oleh aliran sungai yang deras, dan kedua penculik yang lainnya mengalami kematian yang mengenaskan ada yang tersengat oleh aliran listrik yang tinggi di karena kan ada perbaikan kabel listrik yang berada di jalan kabel listrik itu terjuntai dan mengenai tubuh penculik tersebut sampai akhirnya meninggal di tempat


Sedangkan satu penculik lagi yang di teror oleh Julia mengalami kematian yang mengenaskan seperti ke tiga temannya yang lain.


Keesokan paginya Via yang dengan hati yang sangat senang berangkat ke sekolah, Via yang berharap Dara akan celaka dan menganggap rencananya akan lancar untuk mencelakakan Dara. 


Hingga tiba di sekolah Via berjalan menuju kelasnya, sesampainya di kelas Via sangat terkejut melihat Dara yang telah duduk di bangkunya sedang mengobrol dengan sahabat baiknya yaitu Mia berserta Toni.


Sepanjang jalan masuk ke kelas Via memperhatikan Dara, ia sangat bingung karena hari ini Dara dapat masuk sekolah di tambah lagi tidak ada sama sekali luka atau lecet di tubuh Dara.


Hal ini membuat Via tambah geram kepada Dara di samping itu Roy pun sekarang lebih dekat dengan Dara ketimbang dirinya.


Via yang sedang duduk di bangkunya seraya  memperhatikan Dara yang sedang mengobrol dengan temannya.


‘Sial ini anak kenapa hari ini bisa masuk kelas,' Via yang bermonolog.


‘Apa rencanaku gagal lagi, lagi pula tidak ada luka atau lecet sedikit pun di tubuhnya,' sambung Via kembali.


Toni yang merasa sedang di perhatikan oleh Via, mulai bercerita kepada Dara.


“Eh Dara seperti Via dari tadi memperhatikan kamu,” ucap Toni dengan nada yang pelan agar tidak terdengar oleh Via.


“Sudahlah biarkan saja,” ucap Dara yang tidak memedulikannya.


“Oh ya Dara tadi pagi aku dengar berita, ada 4 pereman yang meninggal dengan cara mengenaskan dan kejadiannya mereka meninggal itu di hari yang sama, ini agak aneh sih,” ucap Toni yang menceritakan kepada Dara.


“Eh serius Toni,” ujar Dara menanyakan kepada Toni kembali.


“Iya Dara untuk apa aku bohong, menurut kesaksian warga setempat, ke empat preman itu awalnya membawa seorang remaja sekolah ke sebuah gudang kosong di malam hari, ada warga yang melihatnya dan handak mencari  tahu,” Toni menceritakan kembali kepada Dara.


Dara yang mendengar cerita Toni pun terdiam, mengingat dirinya kemarin selepas pulang sekolah di culik oleh empat pereman lalu di bawanya ke gudang kosong.


 Sementara Via yang mendengar cerita Toni dari kejauhan pun sangat terkejut.


‘Rupanya Dara dapat menyelamatkan diri, siapa yang membantunya apa jangan-jangan arwah Julia? Dan arwah Julia itu yang membunuh para penculik itu?’ batin Via yang bertanya-tanya.


Setelah itu Via kembali memperhatikan Dara dari tempat duduknya, Via terkejut mana kala dirinya melihat arwah Julia yang berada di belakang Dara sedang menatapnya tajam.


Melihat sosok Julia yang menyeramkan Via tidak berani memperhatikan Dara kembali.


‘Benar dugaanku, hantu Julia itu yang membantunya, buktinya aku melihat di belakang Dara,' Via yang bermonolog dan mulai merasa takut.


 Bel mulai berbunyi petanda pelajaran akan segera di mulai, semua murid telah duduk di bangkunya dengan rapi menunggu bu guru masuk ke kelas untuk memberikan pelajaran.


Seorang guru pun telah tiba di kelas dan akan memberikan materi pembelajaran di pagi itu.


“Selamat pagi para murid, keluarkan buku paket kalian ibu akan menjelaskan mengenai mencari nilai X,” ujar bu Yasmin yang mengajar pelajaran matematika. 


Via mengambil buku tulisnya di dalam tasnya, dan mulai membukanya, saat Via sedang membuka buku tulisnya dan ingin mencatat materi pelajaran Via sangat terkejut melihat darah segar yang bertulisan di buku tulisnya. “Kau akan mati.”


Sontak saja Via berteriak kencang dan melempar buku tulisnya membuat para siswa menoleh ke arahnya begitu pun dengan bu Yasmin.

__ADS_1


“Ada apa Via?” tanya bu Yasmin.


“I-itu bu ada darah di buku Via,” ucap Via menunjuk buku tulisnya yang terjatuh di lantai.


“Darah?” sahut bu Yasmin berjalan menuju buku Via yang terjatuh di lantai.


Bu Yasmi mengambil buku catatan Via dan membuka lembar demi lembar, namun dirinya tidak melihat darah seperti yang di ucapkan oleh Via.


“Via di buku ini tidak ada apa-apa?” ucap bu Yasmin seraya memberitahu buku catatan Via.


Via yang melihat buku catatannya di atas meja pun mencoba membuka lebar demi lembar, namun benar saja tidak ada apa-apa di buku itu.


“Benar bu tadi Via liat darah di dalam buku itu,” sahut Via meyakinkan bu Yasmin.


“Kamu ada-ada saja Via, sudah-sudah jangan bikin masalah di kelas lagi,” tegur bu Yasmin.


Bu Yasmin pun berjalan menuju papan tulis untuk melanjutkan pembelajaran yang sempat terganggu.


 Empat jam telah berlalu bu guru serta pak guru yang masuk ke kelas mereka pun bergantian sesuai jam pelajaran, sampai akhirnya bel tanda istirahat telah berbunyi.


“Bapak akhiri pelajaran, dan minggu depan kita akan ada ulangan,” ucap pak guru Ardi.


Pak guru Ardi pun berjalan keluar kelas, sementara yang para murid merapikan bukunya bersiap-siap untuk istirahat.


Via yang saat itu berada di kantin sedang memesan makan.


“Bu mie ayamnya satu sama teh es,” ujar Via yang memesan makanannya.


“Iya neng Via tunggu sebentar,” sahut ibu kantin yang sedang menyiapkan pesanan untuk Via.


“Ini neng pesanannya,” ujar bu Kantin yang menyodorkan semangkok mie ayam beserta minuman.


“Terima kasih bu,” sahut Via.


Via pun menikmati makan pesanannya ia memakan dengan sangat lahap mie ayam  yang telah ia pesan.


Di saat Via menyuap kembali mie ayam masuk ke mulutnya Via melihat di dalam mangkok yang berisi mie ayam itu berubah menjadi belatung yang sedang menggeliat-geliat tercampur dengan mie ayam tersebut.


Sontak saja Via memuntahkan makanan yang ia makan tadi ke lantai.


“Bu! Bu! Ini bagaimana sih masa mie ayamnya banyak belatungnya,” ujar Via yanh marah kepada bu kantin.


Bu kanti pun segera menghampiri Via dan melihat apa yang terjadi.


“Ada apa neng Via?” tanya bu kantin yang bingung.


“Ini coba ibu liat mie ayamnya banyak belatung,” kata Via seraya menunjuk mie ayamnya.


Bu Kantin melihat di dalam mangkok hanya berisi mie ayam yang telah Via makan tidak ada belatung yang seperti Via ucapkan.


“Ini tidak ada belatungnya neng, coba neng Via liat,” kata bu Kantin.


Via pun melihat ke dalam mangkok tersebut dan ternyata memang benar Via tidak melihat belatung di dalam mangkok itu, bekas makanan yang ia muntahkan pun tidak ada belatungnya.


“Tadi benar ada di dalam mangkok itu Bu,” ujar Via meyakinkan bu kantin.

__ADS_1


“Neng Via nih ada-ada saja masa ibu yang masak tidak tahu jika ada belatung yang masuk,” pungkas bu Kantin.


Via pun berhenti berdebat dengan bu kantin, ia pun melanjutkan menyantap makanan yang sempat terhenti.


Via mulai duduk kembali ke tempat duduknya dan kembali memakan mie ayam tersebut, saat Via sedang duduk ia merasakan hawa dingin yang membuat tubuhnya merinding.


Sesekali Via meraba tengkuknya yang merasa merinding namun sebuah kejadian membuat Via sangat ketakutan.


Via melihat arwah julia sedang duduk di sampingnya secara jelas dengan wajah berlumuran darah serta sayatan di pergelangan tangannya.


Via sangat terkejut dan langsung berlari.


“Neng Via! Neng Via! Bayar dulu makanannya!” pekik bu kantin yang memanggil-manggil Via yang sedang berlari.


Roy pun yang ke kantin berpapasan dengan Via dan menanyakan kepada bu kantin apa yang sebenarnya terjadi. 


“Ada apa Bu, kenapa Via berlari seperti orang ketakutan?” tanya Roy yang bingung. 


“Ibu juga tidak tahu, tadi alasannya mie ayam yang di pesan neng Via ada belatungnya, lalu ibu liat tidak ada setelah itu neng Via lari mana belum di bayar lagi ini pesanannya,” bu kantin menjelaskan kronologi kejadian kepada Roy.


“Berapa semuanya Bu? Biar saya yang bayar?” ucap Roy.


“semuanya 30 ribu nak Roy,” sahut bu kantin.


Roy merogoh kantongnya dan memberikan uang 50 ribu kepada bu kantin.


“Ini bu saya yang bayar, kembalinya ambil saja,” sahut Roy.


Setelah itu Roy pun pergi dari kantin mencari Via.


Via berlari menaiki anak tangga menuju ruangan kelasnya. 


Saat Via menaiki anak tangga sesekali ia menoleh ke belakang namun sosok Julia ada di belakang dirinya Via yang takut pun berlari sembari menaiki anak tangga sampai di lantai kedua dan ingin menuju kelas kakinya tergelincir dari tangga dan akhirnya tubuh Via jatuh terguling-guling dari anak tangga tersebut.


Semua Siswa yang melihat kejadian itu pun melaporkan kepada guru, dan bu Yasmi selaku wali kelas Via segera menelepon ambulan untuk membawa Via ke rumah sakit.


 Tidak lama kemudian ambulan pun datang, petugas tim medis pun segera membawa tandu mengangkat tubuh Via ke atas tandu dan juga memakaikan penyangga untuk lehernya


Via segara di bawa masuk ke mobil ambulan di temani oleh bu Yasmin yang masuk ke mobil ambulan berserta Roy yang ikut ke rumah sakit menaiki motornya


Sesampainya di rumah sakit Via segera di masukkan ke ruangan UGD.


Saat Via berada di UGD, bu Yasmi pun menelepon orang tua Via untuk memberitahukan bahwa Via sedang berada di rumah sakit karena jatuh dari tangga sekolah.


Ayah serta ibu Via yang mendengar kabar dari bu Yasmi pun segera menghampiri Via ke rumah sakit.


 


   


  


  


  

__ADS_1


__ADS_2