
Tiga bulan telah berlalu Dara pun semakin dekat dengan Roy, terkadang Roy pun mengantarkan Dara pulang serta mereka terlihat sering ke kantin bersama.
Di saat istirahat tiba-tiba Roy menghampiri Dara yang sedang membaca sebuah buku di koridor sekolah seorang diri.
“Hai, boleh aku duduk di sini?” Tanya Roy ketika berada tepat di hadapan gadis yang sedang menunduk membaca buku dalam genggamannya.
Gadis itu mendongak, lalu tersenyum ketika melihat Roy yang sudah berada tepat di depannya memasang wajah ceria nan ramah.
“Hai, Roy. Duduk aja, enggak ada yang ngelarang kok,” Kata Dara seraya tersenyum.
Ia menggeser tubuhnya sehingga Roy bisa duduk tepat di sebelahnya.
“Ada apa?” tanya Dara seraya menyimpan buku yang sejak tadi di pegangnya.
“Aku mau ngomong sesuatu sama kamu, Dara,” ucap Roy ragu.
Dahi Dara tampak berkerut, ia menatap Roy dengan bingung.
“Ngomong apa?” tanya Dara penasaran.
“Ta-tapi nggak di sini, Ra.”
“Loh, memangnya kenapa?” tanya Dara semakin penasaran.
“Ya, masak di sini sih Ra?” Roy mengedarkan pandangannya ke koridor sekolah yang tidak terlalu ramai.
Ada beberapa siswa yang terkadang lewat, ada juga yang duduk tak jauh dari tempat mereka berada.
“Kita ke roof top bentar, yuk Ra.”
“Mau ngomongin apa sih, Roy? Kok kayaknya serius banget.” Dahi gadis itu berkerut semakin dalam.
“Ini mah seribu rius, Ra. Serius banget,” kata Roy dengan wajah yang amat serius dan tegang.
“Apa ada masalah?” tanya Dara cemas.
“Nggak, sih. Tapi ini menyangkut hidup dan mati aku Ra. Hidup ku nggak akan tenang kalo nggak ngomong sekarang sama kamu, Ra.”
“Seserius itu?” Roy mengangguk. Melihat ekspresi Roy yang begitu serius dan tegang membuat Dara ikut pria itu ke roof top.
Keduanya berjalan bersama melewati beberapa anak tangga. Dara sangat penasaran sehingga hatinya tak berhenti untuk bertanya-tanya tentang apa yang ingin di bicarakan oleh pria yang ada di sampingnya.
Sesekali pandangannya tertuju pada Roy yang terlihat gugup. Bahkan ada keringat sebesar biji jagung di dahi pria itu. Sesampainya di tempat yang di tuju, Dara segera memberondong pertanyaan pada Roy.
“Mau ngomong apa sih, Roy? Kenapa terlihat sangat penting dan serius? Ada masalah apa sebenarnya?” tanya Dara tak sabar.
__ADS_1
“Anu ... Ra. Sebenarnya ....” Roy menarik napas panjang, ia menggaruk kepalanya yang tiba-tiba terasa gatal.
“Kenapa sih, Roy? Ada apa sebenarnya?” desak Dara seraya mengguncang lengan pria itu.
Roy tampak menarik napas dalam-dalam lalu menghembuskannya. Matanya terpejam sebentar, lalu berapa detik kemudian terbuka dan langsung menatap gadis cantik yang ada di hadapannya. Ia meraih jemari lentik gadis itu, lalu meremasnya lembut. Dara hanya melirik jemarinya yang berada dalam genggaman pria yang ada di hadapannya dengan beribu pertanyaan yang memenuhi isi kepala. Ia merasa penasaran, takut serta cemas.
Apalagi berbagai kejadian mengerikan terjadi belakangan ini. Ia takut jika semua kejadian demi kejadian mengerikan itu belum berakhir juga.
“Dara, Sebenarnya aku,” Roy memejamkan mata, sementara Dara menunggu pria itu selesai berbicara.
“Dara, kamu mau nggak jadi pacar aku?”
Deg ....
Jantung Dara seolah berhenti berdetak. Matanya melebar. Ia terkejut pada apa yang telah di dengarnya. Setelah beberapa detik gadis itu mengerjapkan matanya beberapa kali.
“Roy, aku nggak salah dengar?” tanya Dara ragu. Ia ingin memastikan bahwa ia tidak salah dengar.
Pria yang sedang menggenggam tangannya dengan erat itu membuka mata. Selanjutnya Roy mengangguk mantap.
“Kamu nggak salah dengar, Dara.”
“Kamu bercanda?” Dara masih tak percaya.
“Astaga Dara, aku nggak bercanda. Aku serius! Bahkan seribu rius!” kata Roy meyakinkan.
“Roy. Sebenarnya,” Dara menggantung kalimatnya. Ia ragu, tapi tak mungkin juga mengabaikan permintaan Roy.
“Kenapa? Kamu nggak bisa, ya?” Roy mulai pesimis.
Raut wajahnya berubah sedih, bahkan genggaman tangannya mengendur. Melihat perubahan wajah Roy membuat Dada buru-buru mencegah pria itu untuk pergi.
“Roy, sebenarnya aku juga suka sama kamu udah dari lama. Aku mau kok jadi pacar kamu,” Kata Dara tanpa pikir panjang.
Mendengar hal itu membuat senyum segera terbit di wajah tampan pria itu. Raut wajah yang semula sedih kini berubah menjadi bahagia tak terkira.
“Kamu beneran, Ra?” tanya Roy memastikan. Dara mengangguk.
“Iya, aku beneran. Aku mau jadi pacar kamu Roy.” Ucap Dara sehingga membuat Roy menjerit kegirangan bahkan ia melompat.
“Yeay ... Akhirnya cinta aku di terima!” teriaknya senang.
Beban seberat lima kilo seolah terangkat begitu saja dari dadanya. Ia mengecup lembut punggung tangan gadis yang kini resmi menjadi kekasihnya itu.
“Jadi, kita pacaran sekarang?”
__ADS_1
Dara mengangguk.
“Makasih, ya Ra. Makasih udah mau jadi pacar aku. Aku janji, nggak akan ada perempuan lain di hati aku. Cuma kamu, Ra. Cuma kamu,” janji Roy pada Dara.
“Iya, aku percaya,” Kata Dara seraya tersenyum.
Ia pun merasa bahagia karena telah menerima Roy untuk menjadi kekasihnya. Karena sebenarnya benih-benih cinta itu telah lama tumbuh bermekaran di taman hatinya. Dan tak di sangka ternyata pria yang diam-diam ia kagumi juga menyimpan perasaan padanya.
Cinta mereka tidak bertepuk sebelah tangan. Saling bersambut hingga berani menyatakan perasaan masing-masing. Roy menarik tubuh Dara ke dalam dekapannya. Ia merasa sangat bahagia karena cintanya terwujud.
Dara pun membalas pelukan kekasihnya dan menenggelamkan kepalanya ke dada bidang Roy. Ia diam-diam juga tersenyum, hatinya terasa melayang ke udara. Ia bahagia, sungguh bahagia. Gadis itu merasakan kecupan ringan di pucuk kepalanya, lalu ia merasakan rambutnya yang di acak dengan gemas oleh kekasihnya itu. Ia mendongak, siap protes dengan apa yang di lakukan oleh Roy.
“Roy! Rambut aku jadi berantakan!” ia cemberut sembari memperbaiki rambutnya yang acak-acakan. Pria itu hanya tertawa kecil.
“Astaga pacar aku gemesin banget sih. Lihat tuh bibirnya minta di karetin.” Ia menarik dengan gemas bibir Dara yang maju beberapa senti.
“ROY!” teriak Dara kesal. Ia bahkan memukul lengan pria itu dengan kesal.
“Aduh ... Maaf-maaf. Iya, aku salah. Sini aku benerin.” Katanya seraya merapikan kembali rambut kekasihnya sementara Dara masih cemberut.
“Duh lucu banget sih pacarnya aku. Udah rapi nih. Jangan cemberut lagi dong.” Kata Roy seraya menoel dagu kekasihnya itu.
“Kamu sih, nyebelin!” Rajuk Dara seraya melipat kedua tangannya di depan dada.
“Nyebelin apa ngangenin?”
“Mana ada ngangenin! Yang ada kamu itu nyebelin!”
“Iya-iya aku nyebelin,” Roy mengalah, ia menarik kembali gadis yang sangat di cintainya itu ke dalam pelukannya. Mengecup kembali rambut hitam milik kekasihnya dengan penuh rasa sayang.
“Ra, tahu nggak?”
“Nggak.”
“Astaga. Belum ngomong juga.” Dara terkikik geli.
“Iya, mau ngomong apa?”
“Aku tuh bahagiaaaa banget.”
“Sama. Aku juga bahagia banget.”
“Jangan pernah pergi, ya. Aku nggak tahu akan jadi apa aku kalau kamu pergi dari kehidupan aku.”
“Tenang aja, aku nggak akan pergi kok. Aku akan tetap berada di samping kamu apapun yang terjadi, kita akan selalu bersama untuk melewati semuanya.”
__ADS_1
“Terima kasih karena udah hadir dalam hidup aku, Ra.” Ucap Roy tulus.
Ia bersyukur di pertemukan dengan gadis sebaik Dara dan kini menjadi kekasihnya. Ia tak menyangka sebelumnya bahwa akhirnya mereka akan menjadi sepasang kekasih. Angin membelai lembut wajah keduanya. Langit pun tampak cerah, secerah wajah pasangan baru yang sedang berpelukan.