
Dengan perlahan dannsnagat hati-hati Roy masuk ke dalam rumah terbengkalai itu, ruangan itu cukup gelap dan lembab. Roy memasuki ruangan demi ruangan untuk mencari keberadaan Dara Jingga ia menemukan Dara yang tengah duduk di lantai yang sangat kotor dengan kondisi kaki serta tangan yang di ikat.
“Dara! Ra! Dara bangun!” ucap Roy seraya berusaha melepas ikatan yang ada di tangan Dara.
Bukkk!
tiba-tiba tengkuk Roy di pukul oleh sebuah balik kayu. Seketika Roy tersungkur dan tak sadarkan diri.
Roy yang awalnya ingin membantu Dara, kini juga ikut tertangkap oleh pak Ardi.
Rupanya pak Ardi sesari tadi sudah mengetahui jika ia dibuntuti dan dengan sengaja membiarkan dirinya di ikuti agar dapat menangkap Roy juga.
Akhirnya Roy diikat dengan mulut yang di tutup dengan lakban, sama seperti Dara.
Beberapa waktu berlalu akhirnya Dara pun sadar dan kaget melihat Roy berada di sebelahnya.
‘Roy! Kenapa dia bisa di tangkap juga?’ batin Dara.
“Hahaha ... sudah sadar rupanya,” ucap pak Ardi seraya membuka penutup mulut milik Dara.
“Pak Ardi! Jadi selama ini-”
“Benar itu saya, dan saya sengaja membawa kekasihmu itu agar bisa menemani kamu di detik-detik terakhir,” ucapnya sembari tertawa.
“Pak apa salah kami? Kenapa bapak tega berbuat seperti ini!”
“Karena aku tidak ingin ada yang mengetahu tentang diriku! mereka tidak boleh tahu! Kalau mereka tahu mereka tidak akan memuja ku lagi!” ucao Ardi.
“Jadi Bapak yang membunuh Toni?” ucap Dara menagis.
“Oh anak lancang itu? Dia pantas mati!”
Mendengar suara Dara membuat Roy tersadar. Ketika Roy sadar, dia merasakan bahwa tangan dan kakinya terikat dengan kuat dan mulutnya terjepit rapat dengan lakban.
Melihat Roy yang sudah sadar membuat Pak Ardi tertawa dan mengeluarkan pisau dari kantongnya.
"Kau sudah mati sejak awal, Nak. Kau takkan bisa keluar dari tempat ini," ucap pak Ardi sambil memegang pisau dengan erat.
Roy mencoba memperjuangkan hidupnya dengan menendang kaki pak Ardi yang berada di dekatnya, tetapi usahanya sia-sia. Pak Ardi bertindak cepat dan mengingatkan kaki tangannya untuk menghukum Roy atas keberaniannya memasuki tempat persembunyiannya itu.
“Pak jangan!” teriak Dara.
“Apa? Jangan? Hahhaha. Semakin kamu memohon semakin ingin juga aku menggoreskan pisau ini ke wajahnya,” ucap pak Ardi.
‘Sialan! Rupanya selama ini pak Ardi pelakunya!’ batin Roy.
“Roy... Roy. Anak pemilik yayasan yang tidak berguna!”
“Padahal aku sudah mencoba merusak mobilmu tapi sepertinya kebaikan Tuhan masih berpihak kepadaku. Tapi kali ini tidak! Ini hari terakhirmu maka nikmatilah! Hahahah.”
‘Jadi dia yang menyabotase mobilku?’ batin Roy.
Sesak! Lakban yang ada dimulut Roy pun di buka oleh pak Ardi.
“Sialan! Lihat saja kau nanti!” umpat Roy.
Bukk!
Tendangan pak Ardi mengenai wajah Roy, seketika wajahnya memar dan hidungnya mengeluarkan darah.
“Roy!” teriak Dara sambil menangis.
“Sayang sekali kalian harus berakhir di tempat ini.”
Sikap pak Ardi begitu berbeda, ia terlihat seperti orang yang tidak waras ia terus tertawa seakan apa yang ia lakukan itu sangat lucu.
__ADS_1
“Kenapa bapak melecehkan Julia!” ucap Dara yang mencoba mengulur waktu.
“Julia? Aku tidak memaksanya. Kami suka sama suka lagi pula Julia sangat cantik dan bodynya sangat menggoda,” ucap Ardi sambil membayangkan wajah dan tubuh Julia.
“Ahh... mengingatnya saja membuatku sangat bersemangat,” ucap Ardi.
“Bagaimana kalau aku melakukan sebuah permainan? Hah? Bagaimana? Roy kamu pasti akan menyukainya. Hahaha.”
Tangan Ardi mengegrayangi kaki serta paha Dara, seketika Dara berteriak.
“Jangan! Pak tolong jangan!” ucap Dara.
Sreeekk!
Baju seragam putih itu di robek dan terbuka, hingga baju mini di balik seragam itu pun terlihat.
“Lihat Roy, indah bukan?” ucap pak Ardi yang menarik Roy dan mendekatkan kepala Roy ke gunung Dara.
“Dara maaf,” ucap Roy sembari meringis kesakitan.
“Apa Roy? Kamu bilang apa? Masih kurang? Baik aku akan membukanya!”
“Aaaaaa! Jangan pak!” teriak Dara.
‘Si bedebah ini memang kurang ajar!’ batin Roy.
“Nah sekarang kamu nikmati saja pemandangan yang indah ini ya!” ucap pak Ardi yang menarik Roy ke depan Dara sehingga kini posisi mereka saling berhadapan.
Pak Ardi tiba-tiba pergi meninggalkan mereka berdua di ruangan itu, suara mobilnya pun terdengar dan menjauh.
Dengan cepat Roy bangun dan mendekat ke sebuah jendela dengan kaca yang pecah itu, Roy mencoba memotong tali pengikat di tangannya dengan cara menggesekkan tali itu ke pecahan kaca yang masih menancap di jendela tersebut.
Butuh waktu beberapa menit hingga akhirnya tali itu putus.
Dengan cepat Roy melepas jaketnya dan memasangkannya ke tubuh Dara, ia pun melepaskan ikatan Dara dengan sebuah pisau Kevin yang terselip di kaos kakinya yang sengaja ia bawa untuk berjaga-jaga.
“Aku gak apa-apa Ra, sekarang ayo kita keluar sebelum orang sialan itu datang,” ucap Roy.
tiba-tiba terdengar suara Ardi dari belakang Roy.
“Mau melarikan diri?” ucap pak Ardi.
Dengan sigap Roy melindungi Dara, ia berada di bagian depan untuk melindungi Dara.
Ardi menyerang Roy dengan membabi buta hingga Roy kewalahan karena energinya telah habis akibat di pukul dan di tendang oleh Ardi.
Hingga tanpa basa basi Ardi menyerang Roy dengan sebilah pisau yang sengaja ia siapkan untuk membunuh Roy.
“Roy!” teriak Dara histeris.
Satu tusukan di bahu Roy membuat Roy tersungkur, Dara mengalir deras, baju kaos berwarna putih itu pun kini penuh dengan darah.
Dara menangis histeris karena Roy tertusuk oleh pisau.
“Dan sekarang giliran kamu anak manis,” ucap Ardi sambil menarik rambut Dara dan menempelkan pisau penuh darah itu ke pipi Dara.
Dara pun hanya bisa pasrah dengan apa yang akan terjadi pada dirinya.
Namun tiba-tiba gerak Ardi terhenti, ia seakan melihat sesuatu matanya terbelalak seakan tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
“Ju-julia,” ucap Ardi terbata.
Arwah Julia muncul di hadapan Ardi, wajahnya sangat pucat dengan darah mengalir di tangannya.
“Pergi kamu! Pergi!” teriak Ardi.
__ADS_1
Arwah Julia terus mendekat ke arah Ardi hingga membuat Ardi lengah, dan ia tidak sadar kalau Roy masih bisa berdiri.
Bukkk! Sebuah pukulan mengenai belakang leher Ardi hingga membuatnya tersungkur dan tak sadarkan diri.
“Dara bantu aku mengikatnya,” pinta Roy.
Dara pun mengambil tali yang digunakan Ardi untuk mengikat mereka berdua Roy mengikat dengan sekuat mungkin agar tidak terlepas.
Roy menatap ke arah Julia, “Terima kasih, dan maafkan atas semua kesalahanku Julia,” ucap Roy.
Sosok Julia pun menghilang seperti asap yang tertiup angin.
Ia pun mengambil ponsel yang ia sembunyikan lalu menghubungi Mia lewat panggilan video.
“Mia!” ucap Roy.
“Astaga Roy muka kamu kenapa?” tanya Mia.
“Mia apa ibu Sarah ada di sana?” tanya Roy.
“Ada, bu Sarah belum keluar.”
“Bisa minta tolong gak arahin ke bu Sarah,” pinta Roy.
Dari dalam Video itu terlihat Mia mengarahkan ponselnya ke arah bu Sarah.
“Bu,” ucap Roy.
“Roy muka kamu kenapa?” ucap bu Sarah terkejut.
“Bu saya sudah menemukan orang yang menculik Dara dan sekaligus membunuh Toni. Apa ibu bisa panggilkan polisi? Alamatnya sudah saya kirim ke Mia,”
“Baik kalian bertahan di sana Ibu akan segera memanggil polisi dan juga ikut ke sana,” ucap bu Sarah.
Telepon pun di tutup oleh Roy, mereka berdua duduk di samping tubuh pak Ardi nyang tak sadarkan diri itu.
“Roy pak Ardi gak mati kan?” tanya Dara.
“Kenapa? Kamu kasihan sama dia?”
“Bukan gitu, kalau dia mati nanti kamu bisa di tangkap polisi,” ucap Dara.
Sambil meringis menahan sakit Roy membantah ucapan tersebut.
“dia gak mati, dia Cuma pingsan,” ucap Roy.
“Roy darah kamu keluar terus, wajah kamu juga pucat,” ucap Dara.
“Udah tenang aja selama pisau itu gak nembus jantung, aku gak bakalan mati.”
Satu jam kemudian dari kejauhan terdengar suara ngiungan sirine mobil polisi, hingga suara itu semakin dekat.
Terdengar suara langkah kaki yang cukup banyak, Dara pun berteriak.
“Kami di sini pak!” teriak Dara.
Beberapa polisi menemukan mereka, rupanya bu Sarah juga ikut dalam pencarian. Bu Sarah terkejut dengan apa yang terjadi pada Roy.
“Astaga Roy! Pak tolong murid saya pak,” ucap bu Sarah yang gemetar ketika melihat Roy bersandar di pelukan Dara dengan bersimbah darah.
Tubuh Roy di bopong dan di bawa masuk ke dalam mobil, begitu pula dengan Dara.
Yang lebih membuatnya terkejut adalah sang pelaku, yaitu seorang guru yang terkenal santun serta rendah hari itu.
Dengan di bantu oleh beberapa polisi Roy masuk ke dalam mobil di ikuti dengan Dara, mereka berdua pun di larikan ke rumah sakit yang ada di kota.
__ADS_1
Roy merasa terima kasih dan senang karena berhasil diselamatkan. Ia juga sadar bahwa ternyata keberanian dan tekad yang dimilikinya tidak cukup untuk menyelesaikan masalah tersebut. ia membutuhkan bantuan orang lain untuk dapat menyelamatkan dirinya dan Dara.
Dari pengalaman ini, Roy belajar bahwa kadang-kadang kita harus meminta bantuan orang lain ketika menghadapi situasi sulit. Tidak ada yang bisa melakukan semuanya sendiri dan meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan. Justru sebaliknya, meminta bantuan menunjukkan bahwa kita tahu batasan dan kekurangan diri sendiri.