
Di malam harinya Via yang berada sendiri di rumah sakit ibunya pulang ke rumah sebentar sedangkan sang ayah sedang ada urusan pekerjaan yang segera di selesaikan.
Jam telah menunjukkan pukul 10 malam di mana keadaan rumah sakit sangat sepi.
Bahkan suara langkah kaki terdengar sangat nyaring ketika lorong rumah sakit sepi.
Hingga tiba-tiba pintu terbuka, terlihat seorang suster dengan tatapan mata tajam menghampiri Via sambil membawa beberapa obat.
Via menatap penuh ke arah suster berekspresi datar tersebut. Via pun bangun untuk bersiap meminum obat yang akan suster itu berikan.
“Aku sudah minum obat, apa ini obat tambahan Sus?” tanya Via.
Suster itu hanya diam tak berkata apa pun, hingga Suster itu mengatakan sesuatu yang membutanya terkejut.
“Bagaimana jika kita bermain, Via.”
Seketika bulu kuduk Via berdiri, wajahnya mulai ketakutan melihat sosok suster itu yang ternyata adalah Julia.
“Ka-kamu!” ucap Via sembari menurunkan kakinya dari ranjang.
“Tolong! Suster! Suster!” teriak Via sembari meringkuk di pojok ruangan dengan kedua tangan meremas rambutnya.
Dua orang suster yang tengah berjaga malam itu pun berlari menghampiri ruangan Via.
“Ada apa? Kenapa kamu di lantai!”
Via pun di bantu berdiri oleh kedua suster itu dan kembali di baringkan di atas kasur.
Kedua suster itu terus bertanya namun Via tidak menjawab, ia malah gemetar dan ketakutan.
“Bagaimana ini?” ucap Suster itu pada temannya.
“Kita biarkan dulu dia istirahat.”
Kedua suster itu pun keluar dari ruangan Via dengan keadaan ketakutan. Tiba-tiba lampu di ruangannya mati Via pun terkejut.
Dengan cepat Via menarik selang infus yang terpasang dan mengambil infusnya, ia berjalan menuju luar ruangan untuk meminta bantuan.
“Sus? Suster lampu ruangan saya mati! Suster!” ucap Via.
Namun area itu seakan sepi tanpa ada orang satu pun, padahal kedua suster itu baru satu menit meninggalkan kamarnya.
Via pun berjalan menyusuri lorong rumah sakit untuk mencari para suster yang bertugas, suasana rumah sakit itu sedikit aneh ruangannya sepi dan remang serta sedikit berkabut.
Via terus berjalan hingga menaiki lift, ia bahkan tidak tahu lantai berapa yang ia tekan. Hingga pintu lift rumah sakit itu terbuka dan ia sampai di sebuah ruangan paling atas.
Suasananya sangat sepi, Via berjalan lurus menuju sebuah anak tangga dengan pintu besi.
Tanpa sadar Via sudah berada di atas gedung rumah sakit Via berjalan lurus tanpa henti hingga ia berhenti dan tersadar.
“Hah? Aku diaman?”
“Aaaaaaaaaa!” teriak Via saat mengetahui jika selangkah lagi ia maju maka hidupnya akan tamat.
Saat Via berbalik dan ingin berjalan kembali, tiba-tiba sosok Julia kembali muncul di hadapannya.
__ADS_1
“Aaaaa! Jangan! Jangan ganggu aku!” ucap Via.
Via begitu ketakutan, kakinya sampai gemetar. Tak sempat Via turun dari tempat itu, kakinya terpeleset seketika Via terjatuh dari atas gedung. Saat terjatuh Via masih sempat melihat ekspresi Julia yang tersenyum sembari menatap Via.
Sempat terdengar teriakan dari Via hingga akhirnya terdengar suara benturan yang cukup keras.
Akhir hidup Via yang na’as, ia harus mati begitu saja akibat rasa ketakutannya sendiri.
Karena area rumah sakit sepi saat itu, tubuh Via di temukan pada pukul 12 malam. Terdengar suara jeritan ketakutan tak kala seorang pengunjung rumah sakit yang tidak sengaja melintas. Ia ketakutan hingga meminta tolong.
Seketika rumah sakit yang tadinya sepi kini menjadi sangat ramai akibat penemuan tubuh Via yang bersimbah darah.
Polisi pun langsung datang ke rumah sakit, akibat laporan dari para pengunjung. Tubuh Via di angkat dan di periksa, garis polisi pun mulai di pasang.
Pihak rumah sakit pun dengan segera menghubungi keluarga dari Via untuk memberi tahukan berita duka tersebut.
Sementara itu ibu Via yang berada di rumah tengah mengangkat telepon.
“Halo?” ucapnya saat mengangkat telepon.
“Kami dari pihak rumah sakit ingin memberitahukan kabar duka ini.”
“Rumah sakit? Anak sama kenapa? Baik-baik saja kan?”
“Begini bu pasien yang bernama Olivia terjatuh dari gedung rumah sakit.”
Mendengar ucapan suster yang memberitahukan informasi tentang Via membuat Linda menjatuhkan ponselnya.
“Ya Allah Via?” ujar Linda yang terduduk di lantai seraya menangis.
Satu jam kemudian kedua orang mendatangi Via di rumah sakit.
Herman membuka kain yang menutupi Via, terlihat kepala Via yang telah di jahit, tangan serta wajah.
Via pun di bawa menggunakan ambulan ke rumahnya.
Sesampainya di rumah petugas medis mengangkat tubuh Via masuk ke dalam rumah isak tangis pun kembali pecah keluarga besar Herman pun sangat bersedih atas perginya Via, dan malam itu adalah malam yang kelam serta malam terakhir Via.
Keesokan paginya kabar duku menyelimuti sekolah Tunas Bangsa.
Para teman sekelas Via mendapati informasi itu dari Roy, di saat jam pelajaran belum berlangsung Roy menceritakan kepada Dara.
“Kamu serius Roy? Tentang kabar ini,” ucap Dara dengan wajah serius.
“Iya Dara untuk apa aku berbicara bohong denganmu, aku pun tahu kabar ini baru saja di saat aku sampai di sekolah ibunya menelepon aku dan memberitahu kabar tentang Via,” ujar Roy yang memberitahu Via.
Dara melihat mata Roy berkaca-kaca, Dara mengerti akan kesedihan yang Roy rasakan saat ini.
“Aku mengerti kesedihanmu Roy,” sahut Dara seraya mengelus pundak Roy.
Tidak berselang lama bel sekolah pun berbunyi semua murid kembali ke tempat duduknya masing-masing.
Sampai bu Yasmi memasuki kelas mereka.
“Selamat pagi semuanya, pagi ini sekolah Tunas Bangsa di rundung duka, salah satu murid di kelas ini yang bernama Olivia telah meninggal dunia tadi malam, ibu menunjuk Roy serta Dara untuk mewakilkan para siswa pergi ke pemakaman bersama ibu dan pak Ardi, Via akan di makamkan jam 9 pagi. Untuk para Siswa yang lain jika Via ada salah ibu sebagai perwakilan memohon maaf dan marilah kita berdoa untuk Via, berdoa di mulai,” ucap bu Yasmi yang menundukkan kepalanya di ikuti semua murid.
__ADS_1
“Berdoa selesai, Roy dan Dara ke kantor nanti jam 8, kita pergi bersama-sama ke pemakaman Via,” ujar bu Yasmin.
“Baik bu,” sahut serentak Roy berserta Dara.
“Baiklah para murid ibu hanya memberikan informasi, silakan kalian melanjutkan pelajaran kembali,” ucap bu Yasmi yang meninggalkan kelas menuju kantor.
Satu jam telah berlalu Roy berserta Dara pun meminta ijin kepada guru yang sedang mengajar untuk tidak mengikuti pelajaran hari ini, mereka menyampaikan tujuan mereka untuk menghadiri pemakaman Via.
Setelah di berikan ijin dari guru yang sedang mengajar di kelas Roy berserta Dara pun pergi keluar kelas menuju kantor.
Sesampainya di kantor ibu Yasmi sudah menunggu mereka berdua di kantor.
“Mari kita berangkat,” ajak pak Ardi.
Mereka berempat pun pergi menuju ke pemakaman Via dengan menaiki motor, bu Yasmi yang di bonceng pak Ardi sementara Dara di bonceng oleh Roy.
Beberapa menit telah berlalu mereka berempat telah sampai di pemakaman Via, terlihat Linda ibu dari Via yang sedang menangis di atas makam anaknya seraya mengelus nisan Via.
Mereka berempat berjalan menuju makam Via, sementara bu Yasmi menghampiri orang tua Via.
“Kami turut berduka cita atas kepergian Via semoga amal ibadah Via di terima serta di tempatkan di tempat yang indah dan keluarga yang di tanggalkan di beri kesabaran,” ucap bu Yasmi seraya memeluk ibunya Via.
“Terima kasih bu, ibu berserta yang lain sudah datang di sini,” sahut Linda seraya meneteskan air matanya tanpa henti.
“Yang sabar ya bu, semoga ibu dan bapak dapat melepas kepergian Via,” sahut bu Yasmin.
Di saat semua orang sedang menangis Dara melihat sesosok arwah Julia yang sedang berdiri di samping pak Ardi.
‘Julia,' batin Dara.
Tidak berselang lama Julia pun menghilang, dendam di masa lalu kini dapat terbalaskan kepada orang-orang yang pernah menyakitinya di masa hidupnya.
‘Apa kini kamu dapat tenang Julia, semua orang di masa lalumu yang telah menyakitimu sudah menerima akibatnya satu persatu maafkan kesalahan mereka Julia dan pergilah dengan tenang,” batin Dara.
Dara melihat Roy yang duduk di samping nisan Via mengelus Nisam tersebut sembari meneteskan air mata, walaupun Via bersikap protektif dengannya namun tidak dapat di ungkiri kenangan bersama Via bertahun-tahun membekas di hati Roy.
Di saat semua telah pergi Roy masih berada di makam Via seraya mengelus nisannya.
“Maafkan aku Via, mungkin di waktu kamu bersamaku aku pernah melukai hatimu, kini kamu telah tenang di sana, meninggalkan kenangan di hatiku,” ucap Roy seraya mengelus nisan Via.
Dara yang melihat Roy bersedih mendekatinya mencoba untuk menenangkannya.
“Sabat ya aku tahu rasanya, aku pernah di posisimu di saat orang yang kita cinta pergi untuk selamanya. Dulu aku pun pernah dekat dengan seorang siswa dia begitu baik dan humoris aku selalu di buatnya tertawa sampai akhirnya siswa itu pergi meninggalkan aku selamanya karena penyakit kanker otak yang menggerogotinya, hingga sekarang aku belum bisa membuka hatiku untuk orang lain,” ujar Dara menceritakan masa lalunya seraya tersenyum kepada Roy.
“Pasti pria itu sangat baik,” sahut Roy yang kembali menatap makam Via.
“Tidak hanya baik dia selalu membuat aku tersenyum di saat dirinya pun sakit, memang sangat menyakitkan namun sekarang dia sudah tenang di sana dan tidak merakan sakit kembali, begitu denganmu sekarang Via telah tenang di sana walau tidak bersamamu Via dapat kembali berkumpul dengan teman-temannya kamu pun sudah menjaga hati mu untuk Via sampai ajal menjemputnya,” ucap Dara yang memberikan semangat untuk Roy.
“Terima kasih Dara, dari mu aku belajar banyak hal,” sahut Roy yang mulai tersenyum.
“Yuk mari kita kembali ke sekolah” ajak Roy menggandeng tangan Dara.
Jantung Dara berdetak kencang, ia pun mungkin sudah melupa rasanya jatuh cinta kembali, namun dengan Roy. Dara merasakan itu kembali.
Mereka berdua pun akhirnya meninggalkan makam Via dan kembali ke kelas.
__ADS_1