
Keesokan harinya Indra, Siska dan Via merasa tidak tenang karena di teror oleh arwah Julia.
Saat di dalam kelas Via memberi usul kepada Siska dan juga Indra.
“Aku gak bisa kaya gini terus, aku stres karena julia sialan itu!” ucap Siska.
“Aku juga sampai gak bisa tidur semua lampu di rumah aku nyalakan saking takutnya,” sahut Indra.
“Gimana kita ke dukun aja,” usul Via.
“Hah? Hari gini masih percaya dukun kamu Via,” ucap Indra tertawa seakan usul Via itu tidak masuk akal.
“Kamu pikir bisa melawan arwah Julia dengan apa? Dia itu hantu Indra bukan manusia. Masa minta tolong sama polisi yang ada kita di bilang gak waras,” ucap Via.
“aku setuju sama Via,” sahut Siska.
“Memangnya kamu tahu dimana kita bisa mendapatkan informasi tentang dukun yang sakti?” tanya Indra.
“Tenang aja, pulang sekolah aku minta sopirku buat antar kita,” ucap Via.
Bel pun berbunyi, pelajaran pertama pun dimulai Via yang saat itu bersiap untuk mengeluarkan buku-bukunya tiba-tiba terkejut karena melihat seseorang berdiri di samping Siska.
“Si-siska!” ucap Via dengan mata melotop.menatap ke arah samping Siska.
“Via, kamu kenapa?” tanya Siska.
tiba-tiba Via langsung berdiri dan berlari ke luar meninggalkan ibu guru yang saat itu bersiap untuk mengabsen.
“Via mau kemana kamu!” teriak ibu guru.
“Via!”
Via tidak memedulikan panggilan tersebut, ia terus berlari ketakutan hingga sampai di tengah halaman sekolah.
Via terdiam dan kebingungan kenapa bisa dia berlari sampai ke tengah lapangan.
“Ngapain kamu di sana? Cepat masuk!” seorang guru menegur Via yang saat itu berada di tengah lapangan.
Mata Via kembali terbelalak melihat sosok Julia berada di belakang guru tersebut.
“Gak! Aku gak mau masuk!” teriak Via.
“Pergi kamu! Pergi!” teriak Via.
Teriakannya itu membuat para siswa yang saat itu belum memulai pelajaran pun keluar kelas. Via terus berteriak sembari meremas kepala dengan kedua tangannya.
Beruntung Siska datang untuk memenangkan Via.
“Via ini aku! Via!” ucap Siska cukup keras.
Seketika Via tersadar dan kaget melihat banyak siswa berkerumun dan memandang ke arahnya.
Guru lain menyuruh Siska untuk mengantar Via ke ruang UKS. Siska menemani Via selama berada di ruang UKS.
“Via kamu tadi kenapa?” tanya Siska.
“Tadi aku lihat Julia di samping kamu, terus dia ngejar aku Sis sampai ke tengah lapangan. Aku takut banget,” ucap Via.
“Ya sudah pulang sekolah kita pergi ke dukun itu.”
Waktu berjalan terasa sangat lambat, Via terus menerus menatap jam dinding yang ada di ruangan UKS itu.
Hingga terdengar bel sekolah berulang-ulang, pertanda jika jam pelajaran sudah berakhir.
Saat itu juga Via langsung menghubungi sopir pribadinya itu untuk menjemputnya.
__ADS_1
“Halo Pak Dani, jemput sekarang!” ucap Via.
Via pun langsung menutup teleponnya, Siska yang juga berada di sana pun mengikuti Via masuk ke kelas untuk mengambil tas mereka.
Saat masuk ke dalam kelas, terlihat Indra tengah duduk di bangkunya untuk menunggu mereka berdua.
“Kalian lama banget sih,” ucap Indra.
“Udah jangan banyak omong! Ayo cepetan kita keluar!” ucap Via.
Mereka bertiga pun keluar gerbang sekolah, di depan gerbang sebuah mobil berwarna merah tengah menunggu mereka.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil tersebut.
“Jalan Pak! Tapi jangan ke rumah,” ucap Via.
“Kemana Non?” tanya sopir itu.
“Udah jalan aja nanti aku kasih tau jalannya,” ucap Via.
Mobil pun melaju melintasi jalan ibu kota, hingga Via menunjukkan arah untuk keluar dari perbatasan kota.
“Non kita mau kemana?” tanya sang sopir itu.
“Udah jangan banyak tanya! Nyetir aja yang bener!” ucap Via.
“Via kamu jangan gitu dong, jangan gak sopan sama orang tau!” ucap Indra.
“Udah deh kamu diam aja Indra!” ucap Via.
Mobil yang merekan tumpangi mulai memasuki sebuah jalan yang cukup sepi dengan banyak pepohonan yang rimbun.
“Via kok tempatnya begini sih? Ini beneran tempatnya?” tanya Siska.
“Udah kamu tenang aja,” sahut Via.
Hingga Via menyuruh sopirnya untuk berhenti di sebuah rumah kecil terbuat dari kayu, letaknya di pinggir jalan namun sedikit ke dalam.
“Pak tunggu di sini dan jangan ke mana-mana!” pinta Via.
Mereka bertiga pun berjalan menuju rumah itu dan mengetik pintu.
Tok tok tok!
“Permisi!” ucap Via sedikit keras.
Tidak lama pintu itu terbuka, seorang pria paruh baya pun muncul pria itu menatap dengan tahun ke arah Via.
“Ayo silahkan masuk,” ucap pria itu.
Mereka pun masuk ke dalam rumah dukun tersebut dan duduk di lantai.
“Ada apa kalian kemari?” tanyanya.
“Begini mbah Kusno, saya tahu tentang Mbah dari teman saya. Tujuan kami ke sini ingin meminta jimat mbah,” ucap Via.
“Anak ingusan seperti kalian sudah mengerti jimat,” ucapnya terkekeh tertawa.
“Jimat untuk apa?” tanyanya lagi.
“Begini Mbah, akhir-akhir ini kami diteror oleh hantu,” ucap Siska.
“Hantu? Arwah wanita satu kelas dengan kalian,” ucap mbah Kusno.
“Kok mbah tau?” tanya Indra.
__ADS_1
“Dia kan dukun pasti tau lah Ndra!” ucap Via.
“Sudah kamu diam!” ucap mbah Kusno.
“I-iya mbah,” ucap Via
Mbah Kusno mulai menabur kemenyan ke atas tungku, asap pun membumbung bau menyengat dari asap kemenyan itu pun menyeruak ke seluruh ruangan.
Mbah Kusno mulai membaca mantra lalu mengambil tiga buah benda berbentuk persegi yang di bungkus dengan kain hitam ukurannya sangat kecil. Mbah Kusno mulai mengelilingi benda itu di atas tungku kenyan sambil terus membaca mantra.
Setelahnya mbah Kusno menaruh ketiga benda tersebut ke atas tumpukkan bunga tujuh rupa.
Mbah Kusno berdiri dan mengambil segelas air lalu menyipratkan air tersebut kepada mereka bertiga menggunakan tangannya sambil terus membaca mantra.
‘Untung gak di sembur,’ batin Via.
Setelah beberapa menit, mbah Kusno mengambil benda yang ia letakkan di atas bunga tadi dan memberikannya kepada Via, Siska dan juga Indra.
“Ini kalian ikatkan ke leher atau ke pergelangan tangan kalian, dan ingat bawa ini kemana pun kalian pergi sekali pun itu hanya ke toilet,” pinta mbah Kusno.
“Baik Mbah,” ucap Via.
“Lalu apa ada pantangan yang harus kami hindari Mbah?” tanya Indra.
“Tidak ada, hanya kalian cukup membawanya pun kalian pergi,” sahut mbah Kusno.
“Baik Mbah, kalau begitu ini dari kami,” ucap Via sambil memberikan sebuah amplop.
Mbah Kusno tersenyum ketika melihat sebuah amplop putih yang sedikit menggembung itu.
Via dan yang lainnya pun keluar dari rumah tersebut lalu masuk ke dalam mobil.
“Jalan Pak,” ucap Via.
“Non Via ngapain ke rumah itu?” tanya sopir itu.
“Ke dukun pak,” sahut Indra spontan.
“Astagfirullah Non ngapain ke dukun,” ucap Sopirnya.
“Berisik! Ayo cepetan jalan!” ucap Via.
Langit cerah perlahan berubah warna, waktu sudah menunjukkan pukul 18.00, mobil terus melaju hingga memasuki perbatasan kota.
Hingga pukul malam hari akhirnya mereka sampai di rumah masing-masing.
Via masuk ke dalam rumah dan langsung menuju kamarnya.
“Akhirnya si Julia sialan itu gak bisa deketin aku lagi,” ucap Via dengan senyum liciknya.
Sementara itu di tempat mbah Kusno berada, ia tengah membuka amplop yang saat itu di berikan oleh Via.
Ia tertawa bahagia ketika melihat isi amplop tersebut.
“Hahaha anak jaman sekarang gampang sekali di bohongi,” ucap mbah Kusno.
“Gimana pak?” tanya seorang wanita yang keluar dari sebuah ruangan.
“Hari ini dapat banyak bu. Nih besok masak yang enak,” ucap mbah Kusno sambil memberikan semua yang yang ia dapat.
“Wah banyak banget ini Pak,” ucap istri dari mbah Kusno itu dengan wajah semringah.
“Kalau kaya gini tiap hari bisa kaya kita pak,” ucap istrinya itu.
“Nah Bapak kan sudah dapat duit banyak, malam ini boleh dong,” ucap pria paruh baya itu sembari menteringai dan menggerakkan ke dua alisnya.
__ADS_1
“Gak! Aku capek habis ngurusin kambing!”
“Loh ... loh Bu! Bapak gak di kasih nih? Bu!” panggilnya pada istrinya.