
Di saat yang lain mencibir Dara namun tidak dengan Mia serta Toni yang percaya akan ucapan Dara.
Mia beserta Toni menghampiri Dara yang terlihat sedang mengusap air matanya.
“Sabar ya, kami yakin kebenaran akan memihak kepadamu dan kami berdua juga yakin jika kamu tidak melakukan hal itu Dara,” sahut Mia memeluk Dara.
Dara pun menangis di pelukan Mia.
“Terima kasih kalian memang teman yang baik,” ucap Dara seraya masih memeluk Mia.
Setelah jam istirahat berlangsung Dara keluar dari kelasnya menuju taman kecil yang berada di samping sekolah.
Dara berdiam diri di sana seraya menangis menerima tuduhan yang ia tidak lakukan.
Sementara kedua temannya Toni berserta Mia sedang mencari bukti untuk membantu Dara, mereka berdua menanyakan satu persatu siswa atau siswi yang melihat ada seseorang masuk ke kelas atau tidak.
Hampir semua murid Toni dan Mia tanyakan namun semua menjawab tidak ada yang tahu mereka berdua hampir putus asa.
“Bagaimana ini Ton, sudah semua kita tanyakan tapi mereka tidak ada yang tahu,” kata Mia.
Toni terdiam ia berpikir siapa lagi murid yang belum mereka tanyakan, akhirnya Toni teringat kepada Sari murid yang paling pendiam di kelas.
“Eh Mia, masih ada harapan kita belum menanyakan kepada Sari, semoga saja Sari dapat membantu kita,” ujar Toni yang berharap.
“Oh iya Rendi,” celetuk Mia.
“Ayo kita cari Sari,” ajak Toni
Mereka berdua mulai mencari keberadaan Sari.
“Lia, ada melihat Sari?” tanya Toni.
“Enggak, aku tidak melihat Sari,” celetuk Lia.
Lalu Mia berserta Toni menanyakan kepada murid yang lain hampir semua menggelengkan kepalanya tidak melihat Sari.
“Ke mana Sari masa hampir satu kelas gak tahu Rendi di mana, aneh sekali,” eluh Toni.
“Toni Sari kan murid pendiam dan selalu menyendiri jarang mau untuk bersosialisasi.”
“Iya juga sih apa katamu Mia, ya sudah kita cari Sari lagi,” ajak Toni.
Mereka mencari keberadaan Sari dan akhirnya mendapatkannya.
“Tami liat Sari?” tanya Mia.
__ADS_1
“Oh Sari tadi aku melihatnya di perpustakaan,” ucapnya.
“Terima kasih ya Tami,” ucap Mia.
Mia berserta Toni pun pergi ke perpustakaan menghampiri Sari.
Sesampainya di perpustakaan Toni berserta Mia mencari Sari.
Sampai mereka berdua bertemu Sari yang sedang duduk sendiri sembari membaca buku cerita.
“Itu Sari, Toni,” ucap Mia seraya menunjuk Saru dari kejauhan.
“Oh iya ayo kita hampiri,” sahut Toni.
Mereka berdua pun menghampiri Sari.
“Mmm, Sari boleh duduk di sini,” ucap Mia yang meminta ijin kepada Sari.
“Silakan,” sahut Sari dengan singkat.
“Begini Sari ada yang mau aku tanyakan kepadamu, apa kamu di waktu pelajaran olah raga tadi ada melihat seseorang masuk ke dalam kelas,” tanya Mia.
Mendengar pertanyaan Mia, Sari menghentikan membaca bukunya.
Mendengar ucapan Sari, Mia semakin antusias.
“Apa kamu tahu siapa yang melakukan itu?” tanya Mia berharap Sari mau membantunya.
“Jika aku tahu memangnya kenapa? Dan aku pun malas ikut campur masalah ini, kamu tahu sendiri bagaimana sikap Via.”
“Sari aku mohon, jadilah saksi untuk membantu Dara, kamu tahu kebenarannya mengapa kamu hanya terdiam bukannya sama saja kamu membiarkan teman dalam kesusahan di tuduh apa yang dia tidak lakukan. Jika posisi Dara aku balik sekarang berada di posisimu aku yakin kamu juga akan sedih dan kecewa kepada semua yang menuduhnya,” Mia yang mencoba membuka pemikiran Sari.
Sari terdiam mendengar ucapan dari Mia. Ia pun menghela nafas panjang.
“Baiklah aku akan membantu kalian tapi, aku pinta bu Yasmi tidak memberitahu namaku kepada yang lain sebagai saksi mata,” ujar Sari yang malas bermasalah dengan Via.
“Baik kami akan meminta bu Yasmi merahasiakan siapa yang melaporkannya,” sahut Toni.
“Sebenarnya itu ulah Via sendiri yang memasukkan jam tangannya ke dalam tas Dara, aku melihatnya di kala aku mau ke dalam kelas mengambil buku ceritaku dan aku melihat Via sedang membuka tas Dara lalu memasukkan jam tangannya ke tas Dara, aku pun mengintip itu di balik pintu dan tidak tadi masuk ke dalam kelas,” Sari yang menjelaskan kepada mereka berdua.
Toni serta Mia pun terkejut mendengarnya.
“Aku tidak habis pikir mengapa Via melakukan hal seperti itu kepada Dara, dulu Julia sekarang Via melakukan hal yang sama kepada Dara,” ucap Toni yang terlihat kesal.
“Kamu harus membantu kami Sari,” pinta Mia.
__ADS_1
Mereka bertiga pun pergi ke kantor untuk bertemu bu Yasmin menjelaskan kebenaran yang sebenarnya.
Sesampainya di kantor terlihat bu Yasmi yang sedang istirahat memakan roti, mereka bertiga mendatangi bu Yasmin dan memberitahukan semuanya kepada bu Yasmin.
“Tapi ibu janji ya jangan sebut nama Sari yang memberitahukan semuanya kepada ibu,” ucap Sari kepada bu Yasmin.
“Iya ibu janji tidak akan memberitahukan kepada yang lain jika kamu yang telah memberikan informasinya, ibu tidak habis pikir mengapa Via sampai tega seperti itu kepada Dara, dan ibu pun merasa bersalah kepadanya,” ucap bu Yasmin.
“Kalau begitu kami bertiga permisi dulu bu,” sahut Toni.
“Iya terima kasih Sari keberanian mu mengungkapkan kebenaran ibu sangat menghargainya, setelah jam istirahat selesai ibu akan ke kelas kalian dan akan mengungkap kebenarannya semua,” ujar bu Yasmin.
“Terima kasih ya bu,” sahut Toni.
Mereka bertiga pun keluar dari kantor selang beberapa menit bel pun bunyi petanda waktu istirahat telah berakhir.
Semua murid kembali ke kelas mereka masing-masing. Bu Yasmi pun mulai berjalan menuju kelas XI C.
Setibanya di kelas bu Yasmi kembali membicarakan tentang kasus jam tangan Via yang hilang.
“Maaf semuanya ibu kembali lagi ke kelas ini, ibu ingin mengungkap kebenarannya, sebelumnya ibu meminta maaf kepada Dara karena menuduhnya melakukan hal yang tidak ia lakukan, dan ada seseorang Siswi yang ibu sangat menghargainya dirinya mendatangi ibu dan berani mengungkap kebenarannya, tapi ibu tidak bisa memberitahukan siapa siswi tersebut,” bu Yasmi mulai menjelaskan maksud dirinya datang kembali ke kelas itu
Terlihat wajah Via yang tampak mulai panik mendengar ucapan bu Yasmin.
“Ibu lanjutkan kembali, Dara tidak melakukan hal itu, Dara tidak mengambil jam tangan milik Via, ada saksi mata yang melihat Via sendiri yang melakukannya, Via ibu benar-benar tidak habis pikir kenapa kamu melakukan hal seperti itu dan menuduh Dara berbuat hal yang tidak ia lakukan,” ucap bu Yasmi dengan tegas.
Semua murid menyoraki Via.
“Via maju ke depan kamu harus mempertanggung jawab kan perbuatanmu, hampir satu kelas yang telah kamu bohongi Via termasuk ibu dan ibu akan memberikan surat untuk orang tuamu.”
Via pun maju ke depan kelas dan mulai menjelaskan kepada semua temannya.
“Maaf semuanya, Via yang melakukan itu dan Via mohon jangan di berikan surat bu, Via mohon,” ucap Via seraya menundukkan wajahnya ia merasa sangat malu kepada semua temannya jika aksinya ternyata di ketahui oleh Siswi lain.
Dara pun mulai angkat bicara.
“Bu Yasmi dan teman-teman Dara sudah memaafkan Via setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, Tuhan saja maha pemaaf masa kit sebagai ciptaannya tidak dapat memaafkan, lupakan kejadian Ini maafkan Via,” ucap Dara yang membuat semua mulai terdiam.
“Baiklah ibu akan memaafkan mu Via, kamu sudah membuat dua kesalahan jika kamu membuat sekali lagi ibu tidak segan-segan untuk meliburkan mu tidak boleh mengikuti pelajaran selama tiga hari dan surat panggilan untuk orang tua mu,” ancam bu Yasmi kepada Via.
Roy yang mendengar ucapan Via menatap wajahnya dari kejauhan, seraya tersenyum kepadanya.
‘Hatimu begitu baik Dara,' batin Roy seraya menatap Dara dari kejauhan.
__ADS_1