Haunted School

Haunted School
Balapan liar memakan korban


__ADS_3

Segerombolan  geng motor terlihat sedang berkumpul di pinggir jalan.


“Aduh mana ini Edo sudah hampir jam 10 belum kelihatan!” ucap Eki yang terlihat cemas menanti kedatangan Edo.


“Coba telepon Dia?” ujar Kevin yang ikut serta dalam geng motor tersebut.


“Sudah tapi tidak di angkat, oh iya Roy jadi datang tidak?” tanya Eki.


“Tadi sih katanya jadi mau ke sini tapi tidak tahu,” sahut Kevin.


Tidak lama kemudian terlihat seseorang menggunakan jaket kulit dengan menaiki motor besarnya.


“Itu Roy bersama Via, pucuk di cinta ulam pun tiba baru omongin sudah muncul,” kata Eki menunjuk Roy yang membonceng Via dari kejauhan.


Roy berserta Via yang telah sampai lebih terlebih dahulu ketimbang pada Edo mematikan mesin motornya lalu menghampiri merek.


“Maaf telat dikit, Edo di mana sudah datang belum?” tanya Roy.


“Belum di jalan mungkin di teleponi gak di angkat-angkat,” sahut Eki.


“Ya sudah kita tunggu dulu,” ujar Roy.


Tidak berselang lama Edo pun datang dengan menaiki motor besarnya berwarna putih.


“Itu Edo!” celetuk Kevin yang melihat Edo dari kejauhan menghampiri mereka dengan motornya.


Edo pun mulai turun dari motornya menghampiri mereka yang sedari tadi menunggunya.


“Sudah lama menunggu?” celetuk Edo.


“Lumayan lah,” sahut Eki.


Mereka semua mengobrol-ngobrol terlebih dahulu sembari menunggu jalanan mulai sepi.


Setelah beberapa jam telah berlalu dan jalan pun mulai terlihat sepi sementara jam sudah menunjukkan pukul 00.00 malam Eki mulai memerintahkan mereka semua untuk bersiap-siap.  


“Ayo kita mulai saja balapannya,” ujar Eki.


“Oke!” sahut Roy dengan singkat.


“Aku tinggal dulu ya sayang,” tutur Roy kepada Via.


“Iya hati-hati ya,” sahut Via yang terlihat tampak cemas.


Roy berserta Edo pun ikut serta dalam balapan liar itu sementara Kevin hanya menonton mereka bertanding saja.


Mereka semua mulai berbaris di jalan yang sepi mulai terlihat sepi hanya beberapa pengendara yang melewati jalan tersebut.

__ADS_1


Eki mulai menghitung mundur.


“3, 2, 1, Go!” pekik Eki 


 Sementara Via yang berdiri di depan di tengah-tengah barisan motor mulai menjatuhkan saputangannya.


Semua mulai memacu kecepatan motornya.


Awal putaran berjalan dengan baik Edo mulai memimpin balapan tersebut di sambung di belakang Edo, Roy yang tengah berusaha mengejarnya.


Edo yang menambah kecepatannya membuat mereka ketinggalan jauh di belakang Edo.


Edo tersenyum melihat dari kaca sepion mereka yang tertinggal jauh di belang Edo.


Namun secara tiba-tiba Edo melihat arwah Julia yang sedang menggunakan baju seragamnya sedang melintas di jalan tersebut dengan baju seragam bersimbah darah.


Edo yang melihat arwah Julia pun dengan spontan menarik tuas remnya seketika laju motor yang di naiki Edo sangat kencang membuat motor yang di kendarainya menjadi oleng dan menabrak pembatas sedangkan tubuh Edo pun terpental ke jalan lalu di lindas oleh truk yang melintas tidak sempat menarik tuas rem.


Seketika semua berhenti dan menghampiri Edo.


Terlihat helem yang di kenakan Edo pecah dan usus Edo terburai di aspal akibat terlindas mobil truk tersebut.


Edo pun meninggal di tempat, para pembalap liar mulai panik melihat keadaan Edo.


 Kecelakaan maut di jalan itu membuat balap liat di hentikan dan ada beberapa dari mereka yang melarikan diri karena takut di tangkap oleh polisi.


Edo di larikan di rumah sakit sementara Roy, Via, Eki, Kevin, dan Juga sopir Truk yang menabrak Edo dibawa ke kantor polisi.


Sesampainya di kantor polisi mereka di minta keterangan tentang kejadian kecelakaan yang menimpa Edo termasuk sopir truk yang menabrak Edo.


“Kalian berempat kami bebaskan tapi ingat jika saya melihat kalian lagi balap liar, saya tidak segan-segan memasukkan kalian semua ke dalam penjara,” ujar salah satu polisi yang memberi peringatan kepada mereka berempat.


“Ya Pak, saya janji tidak akan mengulanginya kembali,” tutur Roy yang merasa bersalah.


“Ya sudah kalian bisa pulang, kasihan orang tua kalian cemas menunggu anaknya, kali ini kami hanya memberi peringatan tegas untuk kalian” ucap salah satu polisi yang sedang melakukan interogasi. 


Mereka berempat pun di bebaskan dan kembali ke rumah masing-masing.


Keesokan paginya kabar kematian Edo mulai terdengar di sekolah Tunas Bangsa.


Roy pun mulai di panggil ke ruangan kepala yayasan.


Tok ... Tok ...


Suara Roy mengetuk pintu.


“Masuk,” pekik pak Damar dari dalam ruangannya.

__ADS_1


“Ada apa Pah,” ucap Roy yang berdiri di depan meja pak Damar.


“Ada apa katamu! Apa kamu tahu berita tentang kamu balapan liar menjadi topik di sekolah ini,” sahut Damar yang marah atas kelakuan Roy anaknya.


“Iya Pah, Roy tahu dan janji tidak akan mengulanginya lagi,” tutur Roy dengan menundukkan wajahnya.


“Bikin malu saja! Kamu ini anak kepala yayasan tapi kelaluanmu itu bikin Papah malu,” Damar yang tidak dapat menahan emosi.


“Iya Pah maafin Roy, Roy janji tidak akan mengulanginya lagi,” sahut Roy yang merasa bersalah.


“Janji-janji dulu juga kamu seperti itu sampai karena ulahmu satu orang siswa meninggal!” 


Roy terdiam mendengar ucapan dari Ayahnya, ia benar-benar menyesal dengan kenakalannya kali ini teman satu kelasnya merenggang nyawa.


“Ya sudah kembali ke kelasmu saja, tapi ingat jika kamu bikin onar lagi Papah tidak segan-segan memindahkan kamu keluar negeri!”  ancam Damar.


“Tapi Pah, Roy tidak mau.”


“Jika kamu tidak mau, bersikaplah baik kamu mengerti!” Damar kembali memperingati anaknya.


“Iya Pah, Roy ke kelas dulu,” sahut Roy berjalan meninggalkan ruangan Damar.


Sesampainya Roy di dalam kelas, Ia di hampiri teman-temannya dan di tanyai.


“Roy bagaimana pasti papahmu marah?” ujar Kevin.


“Yah begitulah, papah mengancam jika aku bikin onar kembali tidak akan segan-segan memindahkan aku ke sekolah luar negeri,” Roy yang bercerita kepada teman-temannya.


“Aku tidak mau kamu pergi sayang,” ujar Via yang duduk di samping Roy.


“Iya aku tidak akan pergi dari sekolah ini kok Via,” sahut Roy.


Di dalam kelas sendiri para siswa sedang menunggu guru masuk untuk menerima pelajaran.


Hingga di tengah obrolan mereka bu Yasmin wali kelas mereka masuk ke dalam kelas bersama dengan seorang Siswi.


“Selamat pagi,” bu Yasmi yang memberikan salam.


“Selamat pagi Bu,” sahut serentak seluruh siswa.


“Sekolah kita d rundung kabar duka kembali oleh meninggalnya Edo, mari semua kita berdoa dengan kepercayaan masing-masing untuk almarhum Edo, berdoa di mulai,” tutur bu Yasmin menundukkan kepalanya berdoa di dalam hati.


Di serta seluruh siswa yang menundukkan kepalanya berdoa di dalam hati.


“Berdoa selesai, sebelum ibu melanjutkan pelajaran matematika kita kedatangan Siswi baru pindahan dari SMA harapan. Ayo Dara perkenalkan dirimu!” Perintah bu Yasmi dengan lembut.


  

__ADS_1


__ADS_2