
Seorang pria sedang duduk termenung di dalam kamarnya menatap ke luar jendela. Bayangan seorang gadis cantik enggan pergi dari benaknya. Senyumnya dan tingkahnya membuat pria itu selalu tersenyum seorang diri.
‘Dara, Sikap kamu beda dengan yang lain? Aku belum pernah menemukan orang dengan sikap rendah hati seperi kamu,’ Gumamnya seraya tersenyum.
Pikirannya melayang pada gadis satu kelasnya itu. Perasaan yang semakin di tahan malah semakin bertambah setiap harinya. Baru sebentar saja tidak melihat gadis pujaan hatinya membuat pria itu gelisah dan begitu merindukannya.
“Aku tidak bisa begini terus. Aku harus segera menghubungi Dara dan mengajaknya keluar hari ini,” Kata pria itu seraya meraih ponselnya yang berada di atas ranjang dan segera menghubungi Dara.
Panggilan terhubung, tak lama terdengar sapaan lembut dari seberang telepon.
“Kamu sibuk nggak?”
“Nggak. Kenapa?” sahut t Dara di balik telepon.
“Bisa temani aku mencari buku pelajaran nggak?” tanya Roy dengan gugup.
“Uumm ... Gimana ya. Aku takut.” Cicit gadis itu.
“Takut apa?” Roy mengernyitkan keningnya.
“Aku takut Via akan marah.” Jelas Dara. Suaranya terdengar ketakutan.
“Jangan hiraukan dia. Aku jemput sekarang ya. Tunggu aku di depan rumah.” Ujar Roy sedikit memaksa.
“Tapi Roy ....”
Dara belum menyelesaikan ucapannya ketika Roy telah menutup sambungan telepon. Ingin rasanya gadis itu menolak, tapi dia juga tidak enak pada Roy. Sehingga mau tidak mau ia terpaksa berganti pakaian dan bersiap.
Sementara Roy menutup telepon dengan hati yang bahagia. Ia terus tersenyum dan bergegas mandi dan bersiap. Mengenakan pakaian terbaik yang ia miliki untuk pergi bersama gadis pujaannya.
Setelah siap, pria itu segera menjemput sang pujaan dan mengajaknya pergi ke toko buku. Sebenarnya semua itu hanya alibi Roy saja. Ia mencari alasan agar bisa pergi bersama Dara. Keduanya menuju toko buku terdekat, berjalan bersama di rak panjang yang memajang buku pelajaran sekolah.
Setelah mendapatkan apa yang ia cari, keduanya segera keluar bersama.
“Kita langsung pulang aja ya,” ajak Dara pada pria yang berjalan di sampingnya.
Mendengar hal itu membuat Roy menghentikan langkahnya. Ia menatap tidak setuju pada gadis yang mengenakan T-shirt putih berlengan pendek itu. Melihat Roy berhenti, Dara pun ikut berhenti.
“Kenapa langsung pulang? Sebaiknya kita makan dulu.” Kata Roy.
“Tapi Roy, aku takut jika Via mengetahui bahwa kita jalan bareng.” Cicit gadis itu. Wajahnya terlihat sangat khawatir.
“Bisa nggak sih jangan selalu membahas Via? Aku sudah benar-benar muak dengan dia. Aku dan Via tidak ada hubungan apa-apa, hanya sekedar teman sekelas.”
Dara menatap pria yang ada di sebelahnya dengan ragu.
__ADS_1
“Ayolah, Dara. Aku juga tidak enak membiarkan kamu pulang dengan perut kosong. Apa kata orang tua kamu jika anaknya kelaparan ketika keluar denganku?”
Dara tampak memikirkan kembali ucapan Roy. Apalagi pria itu mengatakan bahwa hubungan Roy dan Via telah berakhir membuat gadis itu terpaksa kembali menerima ajakan Roy. Lagi pula perutnya juga lapar karena tadi belum sempat memakan apa pun di rumah.
“Baiklah. Ayo kita makan. Lagi pula penduduk di sini sudah berteriak minta di isi.” Ujar Dara seraya tertawa kecil menunjuk perutnya.
“Nah gitu dong. Lagi pula anggap saja ini sebagai tanda terima kasih karena kamu sudah menemaniku mencari buku.” Ucap Roy seraya tersenyum manis menatap gadis yang ada di hadapannya.
“Baiklah. Aku terima tanda terima kasih yang kamu berikan.”
“Kamu mau makan di restoran mana?” tanya Roy seraya melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.
“Terserah kamu aja, Roy. Aku ngikut aja.”
“Jangan gitu dong. Bilang aja kamu mau makan di mana, kita langsung ke sana.”
“Terserah kamu aja. Aku bisa makan di mana aja kok. Di emperan juga bisa.”
“Wah jangan dong. Ya udah kita ke restoran favorit aku aja. Di sana makanannya enak-enak. Di jamin kamu pasti bakalan suka.” Kata Roy dan Dara hanya mengangguk setuju.
“Restorannya nggak jauh dari sini. Kita cukup berjalan beberapa blok terus belok kiri.”
“Oke, let’s go.”
Di dalam hatinya ia merasa bahagia karena bisa menghabiskan waktu bersama gadis pujaannya.
Keduanya sampai di restoran yang di maksud oleh Roy. Restoran itu bergaya modern dengan nuansa romantis. Restoran itu terdapat dua lantai, di mana lantai atas menyuguhkan pemandangan yang menakjubkan karena bisa melihat keramaian kota dari sana.
“Kita ke lantai atas aja yok? Di sana tidak terlalu ramai dan view-nya juga bagus banget. Kamu pasti bakalan suka.” Ajak Roy seraya tersenyum.
Ia memberanikan diri menarik jemari lentik milik Dara ke dalam genggamannya. Belum sempat Dara melayangkan protes, pria itu telah menariknya untuk menaiki tangga menuju lantai atas.
Sesampainya di lantai atas, Dara di buat takjub oleh view yang di suguhkan. Bahkan gadis itu lupa berkedip karena sibuk menikmati pemandangan indah di sore hari.
“Wah, cantik banget,” Ucap gadis itu seraya menatap tak percaya pada pria yang ada di sampingnya.
Melihat ekspresi Dara yang begitu senang membuat pria itu tersenyum puas.
“Syukurlah kalau kamu suka.” Katanya seraya tersenyum tulus pada Dara.
“Aku suka banget, Roy. Aku baru tahu kalau ada tempat sekeren ini di sini.”
“Makanya sering-sering jalan sama aku. Nanti aku tunjukan tempat keren lainnya.”
“Nggak ah. Pacar kamu galak kayak singa. Takut di makan.” Canda Dara seraya tertawa.
__ADS_1
“Dia bukan pacarku Dara. Bukankah sudah ku bilang kami tidak punya hubungan apa pun,” kata Roy mengangkat sebelah alisnya.
“Iya deh iya aku percaya walaupun meragukan.”
“Astaga kamu ini.” Pria itu mengacak rambut Dara dengan gemas sehingga membuat gadis itu menjerit kesal karena rambutnya yang kini berantakan.
“Roy! Nyebelin banget sih? Jadi berantakan, ‘kan rambutnya.” Ujarnya dengan kesal.
Gadis itu mengerucutkan bibirnya membuat Roy semakin gemas.
“Astaga jangan seperti itu! Kamu semakin lucu jika sedang marah.” Kata Roy seraya membantu Dara memperbaiki rambutnya yang berantakan karena ulahnya.
“Jangan modus! Dasar buaya!” mendengar hal itu Roy hanya tertawa geli.
Tanpa mereka sadari seorang gadis yang mereka kenal sedang berjalan menuju ke arah mereka dengan wajah yang memerah menahan marah.
“Apa yang kalian lakukan di sini?!” teriak gadis itu dengan marah.
Dara dan Roy menoleh, keduanya sangat terkejut mendapati Via yang ada di sana.
“Vi- Via,” Dara terkejut melihat Via di hadapannya.
“Via? Kamu ngapain di sini?” tanya Roy tak kalah terkejut dengan Dara.
“Kamu pikir aku sedang apa? Kamu kok suka banget deket dia sih Roy,” sindir Via menatap Roy dan Dara bergantian.
“Apa yang kamu katakan?”
“Kmau gak paham apa, aku itu suka sama kamu Roy. Aku gak suka kamu deket sama dia!” ucap Via sembari mendorong bahu Dara
“Via, apa yang kamu lakukan? Lihat! Semua orang sedang menatap ke arah sini. Jangan membuat aku malu.”
“Jika tidak ingin malu, maka jangan berani jalan berdua dengan gadis sialan ini di belakangku!” gadis itu sudah tidak terkendali. Ia begitu sangat marah dengan apa yang ia lihat. Via tidak terima karena Roy dan Dara diam-diam jalan berdua di belakangnya.
“Sudahlah, Via. Lagi pula aku yang mengajak Dara keluar. Berhenti menghujat Dara karena dia tidak salah! Sebaiknya kamu pulang sekarang!” kata Roy kesal.
“Kamu berani membela gadis sialan ini di depanku, Roy?” tanya Via tak percaya.
Kemarahannya semakin meluap, dengan kemarahan yang luar biasa membuat Via tak terkendali. Ia menarik rambut Dara dan mendorong tubuh gadis itu dengan kuat.
Ia tidak terima jika Roy lebih membela Dara di bandingkan dirinya. Dara tersungkur ke lantai, semua yang ada di sana menatap ketiga remaja yang sedang ribut itu.
“Apa yang kamu lakukan, Via?!” bentak Roy seraya membantu Dara untuk berdiri.
“Dia pantas mendapatkannya! Gadis tidak tahu diri itu memang pantas mendapatkannya bahkan lebih dari ini! Akan aku pastikan kalian berdua akan menyesal!” teriak Via seraya pergi meninggalkan Dara dan Roy.
__ADS_1