
Via meninggalkan restoran dengan sangat marah. Gadis itu mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan rasa marah yang mendominasi.
Kedua tangannya mencengkeram setir mobil dengan kuat, menatap jalanan dengan mata yang tajam penuh dendam.
“Brengsek mereka berdua! Beraninya gadis gila itu mengabaikan peringatan dariku. Dan apa tadi? Roy bahkan membelanya? Ini semua tidak bisa di biarkan. Jika begini terus, aku akan benar-benar kehilangan Roy. Aku tidak bisa kehilangan Roy! Aku harus bertindak sebelum semuanya terlambat!” ujar gadis yang sedang di liputi oleh amarah itu.
Di jalanan yang sepi ia segera menepikan mobilnya. Segala rencana buruk tersusun dengan cepat di kepalanya. Tujuannya cuma satu, ia hanya ingin menyingkirkan Dara untuk selamanya.
Rasa cinta dan obsesi yang begitu besar membuat mata hatinya tertutup. Segala cara akan ia lakukan agar bisa memiliki Roy dan tidak akan membiarkan siapa pun mendekati pria yang di cintainya itu.
Via menghubungi nomor seseorang yang di kenalnya, lalu memberikan perintah pada orang itu demi melancarkan niat jahatnya.
Setelah pembicaraan mereka selesai, Via segera menutup sambungan telepon. Gadis itu tersenyum licik sembari menatap jalanan yang sepi.
“Rasakan kamu, Dara! Makanya jangan berani main-main dengan Via! Bukankah sudah sering aku peringatkan sebelumnya? Salah siapa tidak mempedulikan peringatan yang aku berikan. Sekarang, tanggung sendiri akibatnya. Dan aku yakin, setelah ini tidak akan ada yang berani mendekati Roy dan menantangku.” Ia tertawa terbahak-bahak, membayangkan wajah Dara akan menjerit ketakutan dan memohon padanya.
Via segera pergi meninggalkan tempat itu dengan mobilnya membelah jalanan membawa dendam yang membara di hatinya.
***
Siang itu terasa sangat panas dan terik, Dara berjalan sendirian ketika pulang sekolah. Sesekali ia meringis ketika panas menerpa wajahnya. Gadis itu menggunakan tangannya untuk sedikit menaungi wajahnya agar sinar matahari yang terik tidak terlalu panas mengenai wajahnya.
“Mengapa hari ini panas sekali? Mana taksi nggak ada yang lewat.”
Gadis itu menggerutu, sesekali ujung sepatu yang ia kenakan menendang batu kerikil yang ada di jalan. Jalanan itu tampak sepi, jarang ada yang melewati. Dan tanpa Dara ketahui, di belakangnya ada beberapa orang yang sejak tadi membuntutinya sedari tadi.
__ADS_1
Ketika gadis itu sibuk menggerutu dan berjalan menyusuri jalanan yang sepi, tiba-tiba pria berbadan besar penuh tato membekap mulutnya dari belakang. Sontak saja hal itu membuat Dara mendelik ketakutan. Ia mencoba meronta-ronta, memukuli tangan besar yang membekap mulutnya. Dara tidak ingin mati sia-sia, ia terus melawan dan berusaha kabur.
“Diam! Jangan mencoba melawan jika tidak ingin mati di sini!” ancam pria dengan suara berat yang satu lagi.
Dara menjerit tertahan, suaranya tidak keluar karena mulutnya di bekap dengan kuat oleh pria asing. Akhirnya tenaga Dara yang lemah tidak bisa menandingi kekuatan beberapa pria yang jauh lebih kuat darinya.
Tubuh gadis itu pun lemas dan tak berdaya, dengan sangat mudah beberapa pria berbadan besar itu segera membawa tubuh Dara ke sebuah rumah kosong yang telah di tinggalkan oleh pemiliknya. Rumah itu jauh dari pemukiman warga.
Bangunan itu banyak di tumbuhi semak belukar dan rumput liar yang tinggi hampir menutupi seluru bangunan. Terlihat menyeramkan terlebih jika malam hari. Dara tersadar dari pingsannya, matanya terbuka dan mencoba mengingat kejadian sebelumnya. Menyadari hal buruk sedang menimpanya, Dara segera berontak. Tubuhnya di ikat dengan tali tambang dan mulutnya di tutup dengan sebuah kain. Gadis itu sudah menangis, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan yang kosong.
Mencoba untuk melepaskan diri dan untungnya tali yang mengikatnya longgar. Dara bisa melepaskannya tanpa kesulitan yang berarti, ia dengan mudah melepaskan tali yang mengikatnya. Gadis itu segera melepaskan kain yang menyumpal mulutnya dan bergegas pergi untuk melarikan diri.
Langit telah berubah gelap, suruhan Via sedikit ceroboh karena tidak mengikat Dara dengan kencang dan meninggalkan gadis itu tanpa pengawan sehingga membuat gadis itu bisa melarikan diri.
Gadis itu terus berlari, sesekali menoleh ke belakang untuk memastikan tidak ada yang mengejarnya. Tapi ketika ia tengah berlari dan menoleh ke belakang tubuhnya menabrak sesuatu yang keras sehingga membuat tubuhnya jatuh terpental ke belakang. Ia mengaduh, melihat sikut dan lengannya yang tergores tumbuhan yang tajam. Gadis itu meringis menahan perih.
“Wah mau kabur rupanya?” kata seorang pria berbadan tinggi besar dengan tato elang di lengannya.
Dara mendelik, tubuhnya refleks mundur ke belakang. Ia pikir dirinya sudah lolos dari para orang-orang mengerikan yang menyekapnya. Tapi ternyata Dewi Fortuna belum berpihak padanya.
“Tolong lepaskan saya, Pak. Saya ingin pulang,” mohon Dara dengan tangis yang pecah. Ia benar-benar merasa ketakutan dan tidak ingin mati di tangan para orang bayaran itu.
Mendengar kata-kata yang lolos dari mulut gadis itu membuat para pria yang ada di hadapannya tertawa terbahak-bahak.
“Apa katamu? Lepaskan?”
__ADS_1
Gadis itu mengangguk polos.
“Tidak akan pernah! Bisa-bisa kami tidak mendapatkan uang jika melepaskan mu.” Kata temannya yang lain.
“Saya mohon, Pak. Tolong lepaskan saya! Jangan sakiti saya.”
“Nanti saya akan melepaskan kamu, tapi tunggu setelah kami menikmati tubuhmu terlebih dahulu lalu memotong tubuhmu menjadi beberapa bagian.” Balas pria itu dengan tawa yang menggelegar.
Sontak saja apa yang di katakan pria berbadan besar itu membuat nyali Dara ciut. Membayangkan akan di perkosa beramai-ramai dan setelahnya di bunuh, membuat gadis itu merinding bukan main. Ia tidak ingin mati sia-sia seperti ini.
Maka dengan cepat ia berdiri dan berlari sekuat tenaga. Mengabaikan perihnya duri bahkan rumput tajam yang menyayat kakinya yang tidak mengenakan apa pun. Sepatu yang ia kenakan entah hilang kemana sehingga ia harus bertelanjang kaki menerobos semak belukar.
“Tolooong ....” teriaknya dengan keras seraya terus berlari tak tentu arah.
Para orang bayaran Via terus mengejarnya dan tidak akan membiarkan gadis itu lolos begitu saja. Dengan napas yang hampir habis, Dara terus berlari dengan air mata yang terus keluar membasahi wajahnya.
Gadis itu berlari dengan terseok-seok hampir putus asa. Nasib baik sepertinya belum mau berpihak pada gadis itu. Tubuhnya yang lemah jatuh tersungkur menghantam tanah. Sementara beberapa orang yang mengejarnya semakin dekat dan segera menangkapnya. Dara meronta, ia terus menjerit minta tolong tapi di bekap oleh beberapa pria yang kini menyeret tubuhnya dengan kasar menuju rumah kosong tempatnya di sekap tadi. Tapi belum sampai ke rumah kosong itu, sosok wanita memakai seragam sekolah tiba-tiba muncul di hadapan mereka sehingga membuat ke empat pria berbadan besar itu terkejut bukan main. Ke empat pria itu menghentikan langkahnya bahkan mundur ke belakang dan melepaskan Dara tanpa sengaja.
Tiba-tiba sosok Julia menampakkan wujudnya di depan pria tersebut, dengan wajah pucat dan tangan yang berlumuran darah. Matanya melotot ke arah penculik tersebut dan melayang ke arahnya.
Sontak pria itu berlari dengan terbirit-birit sambil berteriak.
“Ha-hantu!” teriak ke empat pria tersebut dan berlari tunggang langgang menyelamatkan diri meninggalkan tubuh Dara yang tergeletak menyedihkan di semak belukar.
Dara pun terselamatkan oleh kehadiran wujud Julia, sementara itu para penculik itu di kejar oleh Julia satu per satu.
__ADS_1