Haunted School

Haunted School
Mengilangnya Toni


__ADS_3

Beberapa kali di saat tidurnya Dara kerap bermimpi tentang Julia, dalam mimpinya ia seakan diperlihatkan suatu reka adegan yang terjadi pada Julia.


Dalam mimpi itu Dara melihat Julia tengah dilecehkan oleh seseorang, tidak terlihat jelas siapa pria tersebut. Yang ia lihat hanya Julia yang tengah meronta dan berusaha melawan.


Namun apa daya, seluruh pakaiannya telah dilucuti hingga terjadilah adegan yang tidak pantas itu.


Satu yang menjadi petunjuk dara yaitu pria itu memiliki bekas luka bakar di punggung tangan sebelah kanan.


Saat berada di kelas Dara terus memikirkan maksud dari kejadian yang terus berulang di mimpinya itu.


Hingga tiba-tiba Mia mengagetkannya.


“Hayo! Jangan melamun nanti kesambet,” ucap Mia sambil menepuk pundak Dara.


“Mia! Kamu bikin aku jantungan aja!”


“Lagian pagi-pagi udah melamun aja,” sahut Mia sambil melepas tas yang ia kenakan.


“Lagi ngelamunin apa sih? Pasti lagi mikirin Roy ya,” ledek Mia.


“Bukan! Ngapain aku mikirin dia. Aku beberapa hari ini mimpi aneh dan berulang-ulang,” sahut Dara.


“Mimpi apaan? Ceritain dong,” Mia terlihat antusias dengan mimpi yang dialami Dara.


“Aku mimpi Julia dilecehkan oleh seseorang, tapi dalam mimpi itu aku gak bisa lihat siapa laki-laki itu,” sahut Dara.


“Ih kok serem sih,” ucap Mia.


“Kamu yang denger aja bilang gitu, apa lagi aku yang lihat adegannya,” sahut Dara.


Tidak lama Toni pun datang berbarengan dengan Roy, saat masuk ke dalam kelas mata Roy langsung tertuju pada Dara. Dengan senyum manisnya ia menatap Dara seakan menyiratkan rasa kasihnya itu dari balik tatapannya.


“Masih pagi Roy jangan ngebucin dulu!” ucap Toni.


“Apa sih Ton, orang aku gak ngapa-ngapain,” sahut Roy.


“Alah, dari tadi mata kamu itu jelalatan sana Dara,” sahut Mia sambil tertawa.


Mereka berdua pun duduk di kursi masing-masing sembari saling melempar candandaan. 


Tidak terasa bel pun berbunyi pertanda pelajaran akan segera dimulai semua siswa sudah bersiap untuk memulai pelajaran hingga seorang guru memasuki ruangan kelas.


Seluruh murid berdiri dan memberi salam lalu duduk kembali.


“Bagaimana? Apa kalian sudah mengerjakann tigas yang saya berikan?” tanya pak Ardi.


“Sudah Pak,” sahut para murid serentak.


“Ya sudah kita bahas bersama kalau begitu,” ucap pak Ardi.


Namun ia seperti mencari sesuatu di mejanya dan tidak menemukannya.


“Toni, bisa tolong ambilkan buku paket bapak yang ada di atas meja?” pinta pak Ardi.


“Bisa Pak.”


Toni pun bergegas keluar kelas dan berjalan menuju tuang guru lalu menuju meja milik pak Ardi, namun buku yang dimaksud pak Ardi pun tidak ada.


Toni pun berinisiatif mencari di antara tumpukkan buku-buku yang ada di atas meja namun tidak juga menemukannya.


‘Mana sih bukunya, katanya di atas meja,' Toni bermonolog.


Hingga Toni tanpa sadar menbuka laci di meja kerja pak Ardi dan akhirnya menemukan buku yang dimaksud, namun ia tidak sengaja menjatuhkan sesuatu yang terselip diantara buku lain.


Selembar foto jatuh kelantai, wanita di dalam foto itu sangat familiar baginya. Yang membuatnya tidak mengerti kenpa ada foto itu di meja kerja pak Ardi.


Tiba-tiba pak Ardi datang dengan sedikit tergesa-gesa ia menghampiri Toni. Terlihat Toni masih memandangi foto tersebut. 

__ADS_1


Dengan cepat pak Ardi mengambilnya dengan paksa, “Kenapa kamu lama sekali!” ucapnya dengan wajah memerah.


“Saya tadi nyari bukunya tapi di meja gak ada Pak, gak sengaja lihat laci bapak dan bukunya ada di situ,” sahut Toni.


“Ya sudah kamu kembali ke kelas!” bentak pak Ardi.


Toni sedikit menyenyitkan alisnya lalu berjalan meninggalkan pak Ardi yang tengah sibuk membenahi barang-barangnya.


Saat itu Toni berpikir hal itu terasa aneh, seorang guru menyimpan selembar foto siswanya dengan pose sedikit nakal itu.


Toni pun sampai di kelas dengan wajah bingung dan kembali duduk ke bangkunya.


“Loh katanya kamu di suruh ambil buku, mana bukunya?” tanya Mia.


“Gak nemu di meja pak Ardi gak ada,” sahut Toni.


Tidak lama pak Ardi pun masuk ke ruang kelas mata pak Ardi terus menatap ke arah Toni, Toni pun menjadi sedikit kebingungan dibuatnya.


‘Aa aku melakukan kesalahan?’ batin Toni.


Dara pun merasakan hal yang sama, mata pak Ardi terus menatap tajam teman yang duduk di belakangnya yaitu Toni. Hingga pembahasan selesai dan bel pun berbunyi. 


“Baik pembahasan kita selesai, kita bertemu lagi di jadwal selanjutnya,” ucap pak Ardi sembari berjalan keluar kelas.


Saat pak Ardi keluar, Dara dan Mia pun berbalik ke arah Toni.


“Eh Ton, pak Ardi kok natap ke arah kamu terus sih?” tanya Mia.


“Entah, aku juga gak ngerti,” toni mengangkat kedua bahunya.


Toni sebenarnya ingin memberi tahu penemuannya itu kepada Mia dan juga Dara namun ia memilih untuk menyimpannya sementara waktu dan menceritakannya di saat yang tepat.


Pelajaran terus berlanjut dan berjalan lancar, semua murid pun pulang ke rumahnya masing-masing termasuk Toni.


Toni yang saat itu tengah sibuk bermain game di ponselnya, terhenti karena ada chat masuk dan itu dari nomor yang tidak di kenal.


“Toni!” tulis nomor itu dalam chat.


“Ini aku Mia,” balasnya lagi.


“Lah kamu ganti nomor? Kenapa? Tumben,” balas Toni lagi.


“Ton, nanti malam kita ketemuan yuk di sekolah.”


“Hah? Mau ngapain sih?” tanya Toni.


“Ada yang ingin aku ceritain, aku gak berani pulang aku takut orang tuaku marah Ton.”


“Ya udah, aku kesana aja gimana,” balas Toni.


“Nanti malam aja Ton, jam delapan.”


“Ya udah nanti aku ke sana.”


Toni pun menutup pesan chat tersebut dan merasa heran dengan Mia.


‘Aneh banget si Mia ngapain sampai malam di sekolah,' Toni bermonolog.


Hingga malam hari, Toni bergegas menaiki motornya untuk pergi ke sekolah. 


Saat sampai di pintu gerbang, Toni pun masuk dengan cara masuk lewat pintu kecil di samping pagar sekolah.


Dengan bermodalkan senter yang ia nyalakan dari ponselnya Toni pun mencari keberadaan Mia.


“Mia! Mia! Kamu dimana?” teriak Toni.


“Mia!”

__ADS_1


Bukkk! 


Sebuah pukulan mendarat di tengkuk Toni hingga membuatnya tersungkur kesakitan.


Dalam keadaan tempat yang gelap, kaki Toni di tarik dan di seret menuju belakang sekolah.


Toni saat itu masih setengah sadar akibat pukulan itu dan tidak mampu melawan.


Tiba-tiba perutnya di hantam oleh sesuatu hingga membuatnya menjerit, hantaman itu berulang kali hingga suara Toni tidak terdengar lagi hanya terdengar nafas yang berat serta rintihan kesakitan.


Bukk!


Kepala Toni di tendang berulang kali hingga wajahnya penuh darah, dan sebuah balok kayu menghantam kepalanya dengan keras membuat Toni langsung meregang nyawa tanpa tahu siapa pelakunya.


*** 


Pagi hari sekolah berjalan seperti biasa, Dara dan Mia seperti biasa berbincang terlebih dulu sebelum pelajaran dimulai. 


Hingga bel berbunyi dan semua murid tengah duduk rapi di bangkunya masing-masing.


“Toni kok gak masuk, kenapa ya?” tanya Mia.


“Sakit mungkin,” sahut Dara.


“Ah paling juga bolos ke rental game,” sahut Roy.


“Gak biasanya Toni gak ngabarin aku,” ucap Mia.


“Coba aja nanti kita chat dia,” usul Dara.


Dara mencoba menghubungi Toni namun ponselnya tidak aktif.


“Bagaimana Dara?” tanya Mia.


“Ponselnya tidak aktif,” sahut Dara memberitahu Mia.


“Udah paling besok Toni masuk sekolah kok,” ucap Roy.


Tidak lama seorang guru pun masuk ke kelas mereka, dan memulai pelajaran.


“Kita ulangan hari ini,” ucap pak Ardi selaku guru kimia.


“Yah bapak kok ulangan,” sahut salah satu siswa.


“Sudah-sudah jangan banyak protes, Dara tolong di bagikan,” ujar pak Ardi yang menyodorkan kertas materi ulangan untuk para murid.


“Baik pak,” sahut Dara.


Dara berdiri dari bangkunya kemeja pak Adri mengambil kertas yang di berikan pak Ardi untuk di bagikan kepada seluruh murid.


Setelah semua murid mendapatkan soal ulangan mereka pun mulai mengerjakannya, seketika ruangan terasa hening semua murid tengah fokus untuk mengerjakan tugas mereka.


Ada juga dari beberapa murid yang berusaha mencari jawaban dengan menyontek ke temannya.


Sampai satu jam telah berlalu mata pelajaran kima pun telah selesai.


“Ayo kumpul-kumpul waktunya sudah habis,” perintah pak Ardi.


Satu persatu murid mulai mengumpulkan hasil ulangan mereka di meja pak Ardi.


“Baik hasil akan bapak bagi di pertemuan kita selanjutnya,” ucap pak Ardi yang pergi membawa kerta ulangan para murid XI C.


“Dara pak Ardi ganteng sekali ya,” ujar Mia yang terpesona akan paras manis pak Ardi.


Dara yang mendengarnya pun tertawa melihat temannya yang sedang terpesona akan paras pak Ardi.


“Masih ganteng  aku ya kan Dara,” celetuk Roy yang tidak mau kalah.

__ADS_1


“Ehhem, ya jelas Dara akan membela mu Roy,” Mia mendeham seraya menatap Dara yang tersenyum.


 


__ADS_2