Haunted School

Haunted School
Kesedihan Dara


__ADS_3

Keesokan paginya Dara yang telah berada di sekolah mengambil ponselnya yang berada di dalam tas, ia menyalakannya ponselnya yang baru sempat di ces tadi pagi oleh dirinya.


Saat Dara menyalakannya ponselnya ada beberapa chat dengan nomor yang tidak di kenal masuk ke ponselnya Dara pun membaca chat tersebut.


“Dara, ini aku Roy aku pinjam HP orang lain, aku kecelakaan di jalan tol bisa aku meminta bantuanmu mobilku menabrak trotoar aku perlu bantuanmu sekarang aku tunggu di jalan X sekarang,” isi pesan yang di baca Dara.


Dara mulai panik dan mencoba menelepon nomor tidak di kenal itu kembali, namun saat Dara menelepon nomor itu, nomor itu pun tidak aktif.


Dara pun menghampiri Mia menceritakan kepadanya.


“Coba sini aku liat,” ujar Mia.


Mia mencoba melihat chat tersebut tak berselang lama Roy pun datang.


“Nah itu Roy,” Mia yang menunjuk Roy yang ingin masuk ke kelas.


Dara segera menggampari Roy.


“Kamu tidak apa-apa kan Roy? Apa ada yang luka?” tanya Dara dengan panik.


“Kamu kenapa sih Ra?” tanya Roy yang bingung seraya mengaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Bukannya tadi malam kamu kecelakaan mobilmu menabrak trotoar?” tanya Dara yang masih terlihat cemas.


“Kecelakaan apa aku baik-baik saja lagi pula mobilku bukan menabrak trotoar tapi mogok dan itu pun bukan malam hari dan aku pun sudah bilang kemarin siang denganmu, memangnya kamu dapat informasi dari mana?” tanya Roy yang bingung.


Dara segera mengambil ponselnya lalu memberi tahukan isi chat nomor tidak di kenal kepadanya.


“Coba kamu baca.”


Roy mengambil ponsel milik Dara lalu membaca isi chat Roy pun terkejut saat membaca isi chat itu.


“Ini ada yang tidak beres ada orang yang mengaku-ngaku aku Dara, untung saja kamu malam itu tidak pergi, kejadian serupa dengan almarhum Toni,” ujar Roy yang mengingat isi chat ponsel Toni.


Dara terdiam mendengar ucapan Roy, dan teringat akan pesan Julia yang mengharuskannya berhati-hati.


“Berti pembun*uh Toni masih berkeliaran, sepertinya dia mengincar kita juga,” celetuk Roy.


“Iya kita harus berhati-hati aku teringat akan pesan dari Julia untuk berhati-hati, tapi mengapa pembun*uh itu mengincar kita bertiga?” sahut Mia.


“Entahlah aku pun binggung,” ujar Dara.


Tidak berselang lama bel pun berbunyi mereka bertiga kembali ke tempat duduk masing-masing sembari menunggu guru yang masuk ke kelas.


Pelajaran berjalan seperti biasa, tanpa ada gangguan seperti kemarin. Para murid dapat belajar dengan tenang terlepas dari kasus meninggalnya Toni.


Kini tinggal mereka bertiga, Dara, Mia dan juga Roy. Mereka selalu bersama di sekolah itu lah yang bisa merela lakukan saat ini.


Hingga bel pun berdenting, pelajaran telah berakhir seperti biasa murid-murid keluar kelas dengan canda tawa. 


“Ayo Dara kita pulang,” ajak Mia yang menunggu Dara membenahi buku-bukunya.


“Iya tunggu sebentar,” sahut Dara.


Setelah itu mereka berdua pun pulang berjalan kaki di saat berada di luar pagar sekolah terlihat Roy sedang menunggu jemputan.

__ADS_1


“Roy, kamu sedang menunggu jemputan,” tegur Dara menepuk pundak Roy dari belakang.


“Iya Nih, mana pak Surya belum kelihatan-kelihatan, motorku juga sedang di servis ke bengkel jadinya terpaksa aku di antar jemput pak surya,” ujar Roy yang menjelaskan kepada Dara.


“Ayo Dara kita pulang, aku sudah lapar?” kata Mia seraya memegangi perutnya.


“Ya sudah aku duluan ya Roy,” ucap Dara.


“Iya Ra hati-hati,” ujar Roy tersenyum kepada Dara.


Dara pun kembali berjalan, ia yang berjalan lebih cepat ketimbang Mia yang berada di belakangnya.


“Dara tunggu!” seru Mia.


Sampai akhirnya berada di pinggir jalan raya untuk menyeberang.


Dara menoleh ke kanan ke kiri untuk memastikan kendaraan serta mobil berada jauh, Dara mulai melangkah kan kakinya ke aspal jalan dan tiba-tiba ada sebuah mobil dengan kecepatan tinggi ingin menabrak Dara.


Mia yang melihat hal tersebut pun segera berlari ke arah Dara.


“Dara Awas!” seru Mia yang menarik baju Dara.


Dara pun dapat terselamatkan dan mereka berdua menyeberang kembali menunggu kendaraan agak sunyi.


Sesampainya di sebarang jalan Dara serta Mia yang memasuki Komplek rumahnya berjalan sembari mengobrol.


“Makasih ya Mia, untung saja ada kamu yang menolongku.”


“Iya Dara untung saja kamu tidak apa-apa, tapi memang sopir gila mengemudikan mobil cepat sekali,” ucap Mia yang kesal.


Tidak terasa Dara pun telah sampai di depan pagar rumahnya.


 “Mia aku duluan ya,” ucap Dara yang membuka pagar rumahnya.


“Iya Dara,” sahut Mia.


Dara pun masuk ke dalam pekarangan rumah menuju pintu rumahnya.


“Assalamualaikum, Bu! Bu!” panggil Dara seraya mengetuk pintu rumahnya.


“Iya sebentar,” sahut ibunya yang berada di dalam rumah.


Tidak lama ibunya pun membukakan pintu untuk Dara.


Dara masuk ke dalam rumah sembari mencium punggung tangan ibunya.


“Ayo cepat ganti bajunya ibu sudah memasakkan makanan kesukaanmu.”


“Iya Bu, Dara ke kamar dulu yang ganti baju,” sahut Dara yang berjalan menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar Dara pun mengganti baju seragamnya dengan baju kesehariannya.


Setelah selesai barulah Dara keluar dari kamarnya menuju makan.


Terlihat di meja makan sang ibu sudah duduk di sana, Dara menghampiri ibunya dan duduk di samping sang ibu, mereka berdua pun menikmati makan sore sembari mengobrol santai.

__ADS_1


 “Bagaimana sekolahmu?” ujar ibunya.


“Baik Bu, ibu mendengar berita bahwa Toni di temukan di kubur di belakang sekolahmu, dan banyak murid di sana yang meninggal secara mengenaskan ibu jadi khawatir kamu sekolah di sana Dara, tadi ibu menelepon ayahmu dan menceritakan kepada ayahmu dan ibu serta ayah telah sepakat tahun depan saat ayah mu pulang kita akan pergi dari sini meninggalkan rumah dinas ini,” ibunya menjelaskan kepada Dara.


Dara yang mendengar itu pun sangat terkejut.


“Kita mau pindah ke mana bu dan sekolah Dara bagaimana?” 


“Soalnya akumu akan menetap di luar kota untuk selamanya jadi kita harus ikut ayahmu, dan sekolahmu akan pindah,” ujar ibunya yang menjelaskan kepada Dara.


Seketika Dara menghentikan makanannya.


“Kamu mau ke mana Nak? Kenapa makanannya tidak habis?” tanya ibunya.


“Dara kenyang Bu tadi makan di kantin, Dara ke kamar dulu ya Bu, Dara lelah sekali hari ini,” ujar Dara yang meninggalkan ibunya di meja makan sendirian.


Dara yang sampai di kamarnya merebahkan tubuhnya lalu menutupi wajahnya dengan guling ia pun menangis mendengar ucapan sang ibu yang mengharuskan dirinya pindah sekolah.


‘Kenapa di saat aku sudah mulai merasakan rasa nyaman selalu ada kata pisah,' batin Dara.


Ceklek 


Suara pintu yang berbuka.


“Dara kamu baik-baik saja sayang,” ujar ibunya yang menghampirinya di kamar.


Dara pun segera mengusap air matanya.


Ibunya yang berjalan mendatanginya dan duduk di tepi tempat tidur.


Dara yang sedang tidur membelakangi ibunya.


“Ibu tahu kesedihanmu sayang, di saat kamu sudah akrab dengan teman-temanmu kamu harus meninggalkannya,” kata ibunya seraya mengelus kepala Dara.


Dara hanya terdiam tidak bisa berkata apa-apa.


“Kamu tahu sendiri ayahmu adalah abdi negara yang harus siap di tetapkan di mana-mana begitu pun dengan ibu yang harus siap menemani ayahmu, jika kamu sudah dewasa nanti kamu akan mengerti sayang,” ujar ibunya yang menasihati Dara.


“Ibu hanya punya kamu dan ayah Nak, kamu selalu menemani ibu di saat ayahmu pergi dinas dan ayahmu juga bekerja untuk keluarganya,” sambung ibunya


Dara pun bangun dari tidurnya dan duduk di samping ibunya lalu memeluk sang ibu.


“Maafkan Dara ya Bu, Dara hanya sedih saja mendengar ingin pindah sekolah lagi,” ujar Dara yang mencoba menutupi perasaannya.


 “Nanti setelah kamu dewa dan dapat bekerja kamu bisa menemui Roy kembali sayang,” ujar sang ibu yang mengetahui perasan anaknya.


 Dara hanya terdiam sembari memeluk ibunya, ia mencoba belajar dewasa. 


Dara pun kembali tersenyum kepada ibunya.


“Nah begini anak ibu jangan sedih kalau senyumkan cantik,” ujar ibunya yang mencoba menghibur putri semata wayangnya.


    


 

__ADS_1


__ADS_2