
Di malam harinya seorang penjaga sekolah yang biasa di panggil Mang Ujang sedang berkeliling melakukan tugasnya. Pria itu berkeliling sendirian hanya berbekal sebuah senter yang ada di dalam genggamannya. Sesekali pria itu mengusap lengannya yang terbuka, menghalau rasa dingin yang sesekali membuat bulu kuduknya berdiri.
“Duh ... Kenapa malam ini terasa sangat dingin, ya?” ujarnya seraya terus berjalan menyusuri koridor sekolah yang panjang.
Ia terus berjalan menyinari ruang kelas demi ruang kelas. Rutinitas yang sudah ia jalani selama bertahun-tahun dan entah kenapa malam ini terasa agak berbeda dari malam-malam sebelumnya di tambah lagi hawa dingin membuat suasana di sana lebih mencekam.
Sesekali pria yang tak lagi muda itu menoleh ke belakang, merasa ada yang mengikutinya. Mang Ujang terus berjalan menyusuri kelas demi kelas hingga sampai ke lantai dua sekolah itu.
Mang ujang tidak sengaja melihat sekelebat bayangan hitam yang melintas tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Siapa di sana?” teriaknya seraya mengarahkan senter ke arah depan.
Ia mencoba menajamkan penglihatannya, sedikit menyipit demi memperjelas penglihatan.
Namun tidak ada sahutan ataupun suara apa pun membuat bulu kuduknya berdiri. Pria itu mengusap leher bagian belakang beberapa kali mencoba mengabaikan segala rasa yang membuatnya takut.
‘Ah mungkin aku salah lihat. Mana mungkin ada orang di sini? Lagian hari sudah malam, anak-anak pasti sudah pulang semua,' Gumamnya seraya melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
Waktu menunjukkan pukul 23.00 malam hal yang tidak mungkin ada orang di jam segini.
Ia melanjutkan langkahnya yang terhenti, menyinari ruangan demi ruangan menggunakan senter miliknya. Tiba-tiba terdengar suara tangisan dari sebuah ruangan yang berada tak jauh darinya.
“Suara apa itu? Kenapa terdengar seperti suara orang menangis?” mang Ujang melihat ke sekeliling sembari menajamkan pendengarannya kembali mencoba mencari sumber suara yang mengganggu.
“Siapa di sana? Jangan main-main dengan saya!” teriaknya kesal.
Detik berikutnya suara tangisan yang menyayat hati itu menghilang. Tampak seorang gadis muda berambut panjang mengenakan seragam sekolah yang berdiri membelakanginya. Rambut hitam panjangnya terurai.
“Heh! Apa yang kamu lakukan di sini? Kenapa belum pulang?” tanya mang Ujang seraya berjalan mendekati.
Terdengar suara tangisan dari gadis itu, membuat mang Ujang semakin penasaran.
__ADS_1
“Tooloong ....” rintih wanita itu.
“Kamu kenapa?” Mang Ujang terus melangkah dengan hati-hati.
“Too-long sa-ya ....” rintih gadis itu dengan suara yang menyayat hati.
Pria yang penuh dengan rasa penasaran itu mencoba menepuk pundak gadis berseragam putih abu-abu itu untuk menegurnya.
“Kamu kenapa?” tanya pria itu lagi.
Sang gadis hanya diam tak menyahut terdengar suara tangisan pelan dari gadis itu.
“Kenapa neng? Dari pada menangis di sini, mending ikut mang Ujang aja yok,” Ajak pria itu seraya tersenyum genit.
Tangannya yang semula berada di bahu gadis itu, kini turun ke bawah merambat ke lengan gadis misterius itu. Pria itu terkejut kala merasakan lengan gadis itu yang sangat dingin seperti es.
“Duh, dingin banget tangannya neng. Sini yok, mang Ujang angetin,” Tawarnya seraya tertawa kecil.
Jiwa kelelakiannya terbangun, melihat seorang gadis di sekolah yang sepi serta ada kesempatan membuatnya untuk memanfaatkan situasi.
gadis itu hanya terdiam dan menambah mang Ujang semakin penasaran dan tidak sabaran sehingga pria itu memaksa gadis itu untuk berbalik. Betapa terkejutnya ketika tubuh gadis itu menghadapnya, wajah pucat dan menyeramkan terlihat di hadapannya.
Refleks tangannya yang semula berada di lengan gadis itu terlepas, tubuhnya mundur ke belakang. Darah segar menetes keluar dari pergelangan tangan gadis itu. Menggenangi lantai putih yang berada di bawahnya.
“Ka-kamu! Ju-Julia!” lidah mang Ujang terasa kaku matanya membelalak tidak percaya menatap sosok menakutkan yang berdiri tidak jauh darinya, menatapnya penuh dendam serta menyeramkan.
“Mang Ujang ....” lirih gadis itu seraya menyeringai menyeramkan.
“Jangan mendekat!” teriak mang Ujang histeris seraya bergerak mundur ke belakang.
Arwah Julia terus bergerak maju, melayang di udara dengan darah yang terus menetes dari pergelangan tangannya yang tersayat.
__ADS_1
“Saya mohon, ampuni saya ... Jangan ganggu saya,” Pria itu memohon dengan sangat.
Senter yang berada dalam genggamannya hilang entah ke mana, Mang Ujang mengatupkan kedua tangannya di depan dada. Tubuhnya menggigil ketakutan, kakinya terasa lemas bagai tak bertulang.
“Tolong, Julia. Ampuni saya. Jangan mengganggu saya , Tolong ampuni saya,” mang Ujang terus memohon, hingga tubuhnya membentur tembok yang ada di belakangnya.
Tiba-tiba hantu Julia menghilang, membuat pria itu sedikit lega. Ia berpikir jika sosok hantu menyeramkan itu benar-benar sudah menghilang dan mengampuninya. Tanpa sadar celananya basah karena ia tak sengaja buang air kecil.
“Ah sial! Jadi basah, ‘kan.” Gerutunya sembari kembali berdiri. Baru saja ia bernapas lega dan mencoba mencari senternya, ia di kejutkan oleh bau anyir serta amis yang menusuk hidung.
“Bau apa ini?” Mang Ujang mengendus bau yang sangat menyengat itu. Hingga ia merasakan bahunya yang basah. Ia meraba bahunya, tangannya terasa lengket dan betapa terkejutnya dirinya melihat darah yang ada di tangannya.
Mang Ujang mencoba memberanikan dirinya ia menoleh ke atas, mencari tahu darah itu berasal dari mana. Alangkah terkejutnya pria itu kala mendapati sosok arwah Julia yang di takuti berada di atas kepala dengan seringai ke arahnya.
“Ha-hantu!” Mang Ujang segera berlari menyelamatkan diri. Bukannya berlari ke bawah, tapi pria itu malah berlari menuju tangga ke lantai tiga.
Setelah sampai ke lantai atas, ia berhenti sejenak mengatur napasnya yang naik turun. Tangan kanannya memegangi dadanya yang sesak, sesekali menoleh ke belakang berharap hantu Julia tidak mengikutinya.
“Kenapa dia terus mengejarku? Apa dia mau menuntut balas?” desahnya putus asa.
“Ya Tuhan ... Hantu itu sangat menyeramkan” ucapnya seraya berjalan terseok-seok tanpa melihat ke depan.
Pria itu kembali terkejut ketika menabrak sesuatu, ia meraba ke depan. Memastikan benda apa yang di tabraknya sementara kepalanya terangkat. Jantungnya seakan copot ketika mang Ujang melihat kembali sosok hantu menyeramkan itu kembali.
“Pergi! Jangan ganggu saya! Pergi kamu!” teriaknya ketakutan.
Mang Ujang kembali berlari dan tanpa sadar dirinya berada di atas balkon. Ia terpaksa berhenti, menoleh ke belakang dan melihat sosok Julia yang terus melayang di udara mengejarnya.
“Tolong, jangan mendekat. Tolong ampuni saya,” Pria itu hampir menangis, memohon dengan sangat sembari terus berjalan mundur ke belakang. Tanpa sadar Mang Ujang sampai di ujung lantai, ia menjerit.
“Aaaaa ....” tubuhnya melayang di udara, terjun bebas. Tubuhnya menghantam lantai dengan keras.
__ADS_1
Matanya terbelalak seakan mau keluar dari tempatnya. Darah segar keluar dari kepala Mang Ujang, otaknya berhamburan.
Beberapa bagian tubuh pria itu patah, kaki kanan dan tangan kanannya terbalik ke belakang. Darah segar menggenangi tubuhnya . Ia tewas mengenaskan! Tampak sosok hantu Julia menatapnya dari lantai atas dengan senyum misteriusnya.