
Keesokan paginya Dara yang telah tiba di sekolah terlihat bingung Dara melihat dua mobil polisi dan ambulan yang terpakir di gerbang sekolah.
Dara pun mulai berjalan memasuki sekolah, terlihat banyak polisi berada di halaman sekolah, tampak dari kejauhan ada seseorang yang menghampirinya.
“Julia!” Pekik Mia yang berjalan menghampirinya.
“Ini ada apa Mia? Banyak polisi dan juga petugas medis di sini?” tanya Dara yang tampak bingung.
“Mimpi kamu yang menceritakan seorang laki-laki terjatuh dari gedung sekolah terjadi Dara dan pria yang di maksud adalah mang Ujang penjaga sekolah kita,” ujar Mia bercerita dengan Dara.
Dara yang mendengar cerita dari Mia pun sangat terkejut.
“Astagfirullah, mang Ujang apa ini benar Mia?” tanya Dara yang meyakini dirinya.
“Iya Dara ini benar, sekarang polisi sedang menyelidiki kasusnya kematian mang Ujang dan menurut info yang aku dengar sementara, kasus kematian mang Ujang itu murni kecelakaan kerja, ” Mia menggaskan kepada Dara.
Seketika Dara terdiam, dirinya tengah berfikir apa yang di lakukan olehnya kepada Julia sehingga mang Ujang meninggal secara menegaskan.
“Minggir-minggir semuanya,” ujar petugas medis yang mengangkat jasad mang ujang ke dalam ambulan.
Setelah itu semua guru menertibkan semua murid yang berkumpul melihat evakuasi polisi.
“Ayo semuanya masuk kelas!” perintah seorang guru laki-laki.
Semua murid pun memasuki kelas mereka masing-masing, menunggu sampai bel berbunyi.
Evakuasi kematian mang Ujang pun berjalan dengan lancar dan di duga kecelakaan kerja para polisi kembali ke mobil mereka masing-masing dan pergi meninggalkan sekolah itu.
Terlihat di kelas yang tampak gaduh semua murid yang sedang menceritakan kasus kematian mang Ujang penjaga sekolah mereka.
Begitu pula dengan Via berserta teman-teman yang juga membicarakan kematian mang Ujang.
“Aku yakin kematian mang Ujang ini bukan karena kecelakaan kerja tapi perbuatan arwah Julia,” celetuk Via kepada teman-temannya.
“Sudah Via, aku tidak mau membahas Julia lagi. Aku takut semenjak kita main Jailangkung ingat apa yang di katakan arwah Julia kepada kita, kalian akan mati, kata-kata itu selalu terngiang-ngiang di pikiranku,” ungka Erlin dengan wajah takut.
“Iya Via bagaimana jika kita mengalami hal yang sama dengan mereka secara kita sering membulli Julia di saat dirinya masih hidup,” sahut Siska yang juga merasakan takut.
Via yang mendengar ucapan dari kedua temannya mulai terdiam dan mencoba untuk menenangkan dirinya.
“Apaan sih kalian ini Julia sudah mati mana bisa membunuh kita,” sahut Via.
“Buktinya kematian Dara, Edi dan Juga Kevin akibat ulah Juli,” ujar Siska yang menepis ucapan Via.
__ADS_1
Di saat mereka sedang asik mengobrol secara tiba-tiba ada seorang siswi yang tiba-tiba pingsan dan setelah itu siswi itu mulai mengamuk-ngamuk.
Beberapa siswa yang melihat siswi itu mengamuk seperti orang kesurupan mencoba untuk menenangkannya.
Namun belum sempat menenangkan siswi tersebut siswi lain pun ikut mengalami kesurupan.
Seisi kelas menjadi sangat gaduh mereka yang kesurupan berteriak-teriak histeris ada juga yang terlihat marah-marah serta mengamuk.
Termasuk Mia sahabat Dara sendiri yang ikut kerasukan, Dara yang melihat teman-teman kelasnya kesurupan bergegas meminta kepada para guru yang sedang berada di kantor.
“Toni, jagakan Mia aku mau ke kantor guru meminta pertolongan,” ujar Dara yang bergegas berdiri dan berlari menuju kantor guru.
Sesampainya di kantor ibu Yasmi yang melihat Dara tengah panik menanyakan apa yang terjadi.
“Ada apa Dara, kelihatannya kamu sangat panik?” tanya bu Yasmi.
“Bu semua murid di kelas XI C mengalami kesurupan masal Bu,” ucap Dara seraya mengatur nafasnya tidak beraturan.
“Iya Dara ibu akan segera ke sana dengan guru yang lain,” ucap Bu Yasmi.
Bu Yasmi pun meminta bantuan kepada para guru yang lain untuk membantu menenangkan murid-murid yang sedang kesurupan.
Sesampainya di saja bu Yasmi, pak Ardi, pak Ahmad serta bu Fitri membantu para siswa yang sedang kesurupan dengan melakukan doa bersama.
Doa bersama pun di panjatkan yang di pimpin oleh pak Ahmad selaku guru agama di ikuti oleh beberapa siswa yang tidak mengalami kesurupan.
“Alhamdulillah semua telah sadar,” ujar Pak Ahmad seraya mengusap wajahnya dengan kedua tangannya.
Semua murid telah kembali tersadar dan kembali ke bangku mereka masing-masing sementara para guru yang membantu pun kembali ke kantor.
15 menit kemudian bel telah berbunyi menandakan pelajaran akan segera di mulai.
Saat para siswa sedang bersiap menanti guru yang masuk dan menyiapkan buku pelajaran mereka di atas meja, terdengar panggilan dari pengeras suara kepada Via, Siska, Erin serta Indra.
Mereka berempat di panggil ke kantor untuk mengadap bu Yasmi.
“Via, kita berempat di panggil ke kantor sama bu Yasmi ada apa ini?” ujar Erin yang terlihat tampak panik.
“Aku pun tidak tahu,” ucap Via.
“Ya sudah ayo kita datangi saja,” sambung Via kembali.
Mereka berempat pun bergegas pergi ke kantor menemui bu Yasmin.
__ADS_1
Sesampainya di kantor mereka berempat pun di sidang di ruangan bu Yasmin.
“Duduk kalian semua ibu mau penjelasan dari kalian!” ucap bu Yasmin dengan tegas.
“Ada apa memangnya bu?” tanya Via yang terlihat bingung Via merasa dirinya tidak berbuat salah.
Bu Yasmi membuka laci mejanya mengambil sebuah benda dan di letakan di atas mejanya.
Via, Erin, Siska, serta Indra yang melihat benda itu begitu terkejut.
“Apa ini kalian bisa menjelaskan!” ucap bu Yasmi dengan tegas.
“Ibu dapat boneka Jailangkung ini dari mana?” tanya Via yang gugup.
“Ada salah siswa dari kelas lain yang melihat kalian berempat memainkan boneka ini di ruang ganti dan baru saja siswa itu menjelaskan dan memberikan kepada ibu! Apa kalian yang memainkan boneka ini!” ucap bu Yasmi dengan tegas menanyakan kepada mereka berempat.
Mereka berempat yang telah kepergok pun tidak dapat mengelak.
“I-iya bu, kami berempat yang memainkan boneka Jailangkung itu,” ucap Via sembari menandukan wajahnya.
“Ada apa dengan kalian ibu tidak habis pikir kalian siswa dan siswi berpendidikan mengapa sampai memainkan hal bodoh ini?” ujar Bu Yasmi yang terlihat marah kepada mereka berempat.
“Maafkan kami Bu, kami ingin mencari tahu atas kematian teman kami Dara, Edo, serta Kevin dengan memanggil arwah Julia memalui boneka ini, karena kami pikir kematian mereka ada sangkut pautnya dengan Julia Bu,” Via yang menjelaskan kepada Bu Yasmi.
“Iya Bu kami hanya ingin mencari tahu, apa mereka di bunuh oleh arwah Juli,” celetuk Erlin.
“Astagfirullah Via, Erin, Siska dan juga Indra kalian tahu tidakkan bodoh kalian ini dapat mengundang Jin lain dan itu yang terjadi kerasukan masal di kelas kalian,” tutur bu Yasmi kepada mereka berempat.
“Maafkan kami Bu, kami berempat memang bersalah?” ujar Indra.
“Karena ulah kalian hampir semua teman sekelas kalian kerasukan, ibu akan memberi surat peringatan kepada kalian, jika kalian membuat onar dalam kurung waktu sebulan ini ibu tidak segan-segan memanggil orang tua kalian!” ancam bu Yasmin.
“Ja-jangan bu, kami janji tidak melakukannya lagi,” celetuk Indra yang tidak mau orang tuanya tahu kenakalannya di sekolah.
“Ya sudah kalian berempat kembali ke kelas!” perintah bu Yasmin.
“Baik Bu,” ucap serentak mereka berempat.
Via, Erin, Siska, serta Indra pun berdiri dari tempat duduk mereka berjalan keluar kantor menuju ke kelas mereka, untuk melanjutkan pelajaran.
__ADS_1