
Dentung bel pelajaran terakhir pun berbunyi, semua murid bersorak karena sudah waktunya pulang.
Satu persatu mereka keluar kelas, begitu pula dengan Dara, Mia dan juga Roy.
Mereka berjalan beriringan dan menuju mobil milik Roy, mereka semua masuk ke dalam mobil.
“Kita mau cari ke mana dulu nih?” tanya Mia.
“Ke rental game dulu deh,” ucap Roy.
“Emang kamu tau di mana rental nya?” tanya Mia.
“Tau kok, kami sering ke sana soalnya.”
Mobil Roy pun melaju menuju sebuah rental game yang lokasinya di pinggir jalan.
Mereka bertiga pun masuk ke dalam, Roy pun bertanya kepada penjaga rental tersebut.
“Bang tanya dong,” ucap Roy.
“Eh Bos! Mau main?” tanya penjaga itu.
“Gak, mau tanya di Toni ada main ke sini gak?”
“Toni? Yang badanya tinggi itu?”
“Iya yang biasa sama aku ke sini,” sahut Roy.
“Gak ada sih, terakhir ke sini ya sama kamu,” jelasnya.
“Ya udah Bang, makasih ya.”
Mereka bertiga pun masuk kembali ke dalam mobil.
“Ke mana lagi?” tanya Dara.
“Ke tongkrongan aja deh,” sahur Roy sembari menjalankan mobilnya.
Mobil pun kembali melaju, Roy mengambil jalan kecil yang muat hanya satu mobil, di sekitar jalan itu terdapat bangunan-bangunan yang sangat tua.
“Ini tempat apaan Roy?” tanya Mia.
“Ini bangunan tua, udah ada sebelum kita lahir,” sahut Roy.
“Kalian nongkrong di tempat sepi kaya gini?” alis Mia tiba-tiba berdenyit.
“Di ujung sana ada cafe bagus, kami biasa nongkrong di sana,” sahut Roy.
“Cafe?”
Hingga mobil Roy berbelok ke jalan sebelah kiri, terlihat ada banyak motor serta mobil yang terparkir.
“Wah rame banget,” ucap Dara.
“Iya padahal tadi jalannya sepi,” ucap Mia.
“Iya, biasanya aku lewat jalan satunya tapi mobilku gak bisa masuk.kalau lewat situ. Ayo turun.”
Mereka bertiga pun turun, dengan masih mengenakan baju seragam mereka memasuki kawasan food court serta jejeran cafe yang sudah ramai pengunjung.
“Jam segini udah rame ya,” ucap Mia.
“Ini kan udah sore,” sahut Roy.
“Kayaknya seru deh, Dara kapan-kapan kita main ke sini ya,” ajak Mia.
“Iya nanti kita bareng ke sini.”
Roy pun memasuki sebuah cafe sekaligus vape store tersebut. Kepulan asap memenuhi ruangan tersebut dengan berbagai macam aroma.
“Tempat apaan nih, banyak asap gini!” eluh Mia.
“Namanya juga vape store ya berasap lah, ayo kita naik!” ajak Roy sembari menaiki anak tangga yang terdapat di ujung ruangan itu.
Saat naik, terlihat banyak para pria dan wanita tengah duduk santai sembari menikmati makanan.
Tiba-tiba terdengar seseorang menyapa Roy.
__ADS_1
“Oy Roy!” ucapnya sembari membumbung kan telapak tangannya ke atas.
Roy pun menghampiri orang tersebut, telapak tangan mereka saling beradu dan kemudian bersalaman.
“Udah lama kamu gak main ke sini, tau tahu bawa cewek dia lagi,” ucapnya.
“Mereka teman sekelas aku bang, oh iya si Toni ada main ke sini gak?” tanya Roy.
“Gak ada deh kayaknya, udah jarang dia ke sini,” sahut pria tinggi berkulit coklat itu.
“Emang kenapa sih kok mukanya serius banget.”
“Toni hilang, kata orang tuanya kemarin malam pergi sampai sekarang gak balik,” sahut Roy.
“Gini aja, kalau aku lihat atau ketemu Toni nanti aku kabarin deh,” ucapnya.
“Ya udah kalau gitu makasih ya Bang,” ucap Roy.
Mereka pun turun dan keluar dari cafe tersebut dan kembali masuk ke dalam mobil.
“Kita cari dia di taman kota,” ucap Roy sambil menginjak pedal gasnya.
“Kemana sih Toni, gak biasanya dia begini,” ucap Mia yang sangat khawatir.
“Semoga aja dia gak kenapa-kenapa,” ucap Dara.
Sesampainya di taman kota, mereka pun berpencar mencari keberadaan Toni bahkan Dara berinisiatif bertanya kepada para pengunjung sambil memperlihatkan foto Toni yang ada di ponselnya kepada orang-orang.
“Maaf Mbak, pernah lihat orang ini gak?” tanya Dara memperlihatkan foto Toni.
“Enggak pernah Dek,” sahut orang itu.
“Baik Mbak terima kasih,” sahut Dara.
Cukup lama mereka menyisir taman tersebut namun tidak membuahkan hasil, hingga mereka merasa kelelahan karena berkeliling taman yang cukup luas itu.
“Aduh aku capek,” eluh Mia.
“Iya kakiku sampai sakit,” sahut Dara.
“Udah mau malam, kayaknya kita pulang aja gimana?” tanya Roy.
Mereka pun sepakat untuk pulang, Roy mengantarkan Mia dan Dara pulang ke rumah mereka masing-masing.
Roy masih terus mencari keberadaan Toni hingga larut malam dan akhirnya Roy pun menyerah.
“Toni kamu sebenarnya kemana sih!” ucap Roy yang merasa putus asa.
***
Pagi harinya saat di sekolah mereka mendapat kabar jika hilangnya Toni sudah di laporkan pada pihak yang berwajib.
Pihak polis pun sampai datang ke kelas mereka untuk meminta keterangan, namun tidak ada yang bersama Toni saat Malan itu.
Saat Dara berjalan sendirian di lorong sekolah, Tiba-tiba Dara di panggil oleh seseorang.
“Dara!”
Dara pun terhenti dan langsung kenal dengan suara itu, dengan cepat Dara berbalik.
“Toni!” pekik Dara.
Saat Dara ingin menghampiri, Toni malah berbalik dan berjalan pergi menuju belakang sekolah.
“Toni! Tunggu!” ucap Dara.
Hingga sampai di area belakang sekolah Toni tiba-tiba menghilang.
“Loh kok hilang?” ucap Dara.
‘apa ada yang sedang mengerjaiku?’ batin Dara.
Dara pun berbalik dan memilih untuk kembali ke dalam kelas, saat di kelas ia melihat Mia tengah murung.
“Mia kamu kenapa?” tanya Dara.
“Apa Toni akan baik-baik aja?” tanya Mia.
__ADS_1
“Kita berdoa saja semoga tidak terjadi apa-apa,” sahut Dara.
Sebenarnya Dara ingin memberi tahu kan hal yang ia lihat namun melihat Mia yang begitu murung Dara pun mengurungkan niatnya dan lebih memilih menyimpannya dulu.
‘Kenapa aku melihat Toni?’ batin Dara masih berkecamuk.
Saat pelajaran dimulai, Dara berusaha fokus dalam pelajarannya namun tidak dengan Mia, ia terlihat melamun bahkan ia tidak memperhatikan guru yang tengak menjelaskan.
Waktu istirahat pun tiba, Dara, Mia dan Roy pun berkumpul di kantin dan membahas masalah pencarian Toni.
“Gimana pulang sekolah kita cari lagi,” ucap Mia.
“Ya udah kita coba cari di penjuru kota kalau bisa,” sahut Dara.
Sebenarnya Dara memiliki perasaan tidak enak tentang Toni, bahkan ia tidak dapat merasakan adanya Toni di kota tempat ia tinggal.
‘Kenapa aku merasa Toni sangat jauh dan aku merasa tidak bisa menggapainya?’ batin Dara.
“Ra! Dara!”
Panggilan Mia memecah lamunan Dara, “eh iya kenap Mia?”
“Kamu kok melamun sih Ra, kamu ada masalah?” tanya Mia.
“Enggak kok Mia,” sahut Dara.
“Aku takut kalau Toni itu bukan hilang, tapi di culik,” seru Roy.
“Di culik? Buat apa? Toni kan bukan anak pejabat,” sahut Mia.
“Iya juga sih, tapi kita kan gak tahu motif seseorang,” sahut Roy.
“Yang terpenting kita coba cari Toni lagi setelah pulang sekolah.”
“Aku ke toilet dulu ya sebentar,” ucap Dara.
“Iya jangan lama-lama nanti pangeran kamu ini ribut,” ucap Mia sembari tersenyum.
Dara pun berjalan menuju toilet wanita yang letaknya berdekatan dengan jalan menuju belakang sekolah. Sebelum masuk toilet Dara penasaran dan kembali menuju belakang sekolah yang penuh semak serta pohon besar itu.
Namun Dara tidak berani melangkahkan kakinya untuk masuk ke tempat itu, karena disana terdapat pohon besar yang pastinya ber penunggu. Di tambah lagi ia takut akan ada ular atau pun serangga.
Dara pun membalikkan badannya, tapi langkahnya terhenti karena mendengar suara.
“Tolong! Tolong!”
Suara itu pelan tapi sangat mirip dengan suara Toni. Dara menghiraukan suara itu dan lebih memilih untuk kembali ke kantin.
Setelahnya mereka semua kembali ke kelas karena sudah hampir jam pelajaran akan di mulai.
Pelajaran berjalan lancar, saat pulang sekolah mereka kembali melakukan pencarian.
Mereka berkeliling kota untuk mencari Toni hingga mereka masuk ke gang-gang sempit namun tidak juga ada informasi yang mereka dapat.
Lagi-lagi usaha mereka sia-sia, sekian banyak orang yang mereka tanya namun tidak satu pun pernah melihat Toni.
“Gimana Roy apa kita sudahi aja pencarian Toni? Sebentar lagi magrib,” ucap Dara.
“Iya, sepertinya kita harus pulang. Kalau gitu kalian aku antar,” ucap Roy.
Mobil Roy pun melaju menuju rumah Mia untuk mengantarkan Mia terlebih dulu.
Tinggallah Dara dan Roy, saat itu Dara pun bercerita tentang apa yang ia lihat tadi siang.
“Roy, sebenarnya aku melihat Toni di sekolah tadi siang,” ucap Dara.
“Hah? Kamu serius?”
Dara menganggukan kepalanya, “Iya, tapi saat ingi aku hampiri Toni malam pergi dan menghilang begitu aja,” sahut Dara.
“Ah, mungkin aja kamu salah lihat.”
Roy pun berhenti di depan rumah Dara, Dara pun turun dan berpamitan kepada Roy.
“Kamu hati-hati ya.”
“Iya, sudah kamu masuk sana,” ucap Roy.
__ADS_1
“Ya udah kalau gitu.”
Dara pun masuk ke dalam rumahnya, sedangkan Roy melaju pergi dan pulang ke rumah.