
Malam mulai larut Erin pun telah tertidur dengan sangat lelapnya hingga jam telah menunjukkan pukul 03.00 dini hari teror arwah Julia mulai kembali meneror Erin.
Saat itu di kala Erin tengah tertidur dengan lelap terdengar suara decitan jendala kamar Erin yang terbuka.
Tampak sosok arwah Julia yang berada di luar jendela memanggil-manggil nama Erlin.
“Erlin kemarilah, ikutlah bersamaku,” ucap arwah Julia tepat berdiri di luar jendela Erlin dengan wajah yang menatap Erlin sedang tidur.
Erlin yang tiba-tiba terbangun turun dari tempat tidurnya dengan tatapan yang kosong menatap arwah Julia.
“Keluarlah Erin, ikutlah bersamaku,” ucapan arwah seolah-olah sedang menghipnotis Erlin.
“Iya Julia, aku akan ikut bersamamu,” sahut Erlin dengan tatapan mata yang kosong dirinya tidak sadar seperti sedang terhipnotis.
Erlin berjalan dengan perlahan keluar kamarnya.
Saat dirinya telah keluar dari kamarnya menuju ruang tamu tidak terlihat siapa-siapa di sana semua orang sedang tertidur di kamar mereka masing-masing termasuk orang tua serta kakak Erlin sendiri.
Erlin mulai membuka pintu rumahnya dengan pandangan yang lurus ke depan serta tatapan mata yang kosong.
Erlin melangkahkan kakinya keluar dari pintu terlihat arwah Julia yang sedang berdiri menunggunya dengan wajah yang pucat menatap tajam mata Erin.
“Ikutlah bersamaku Erlin,” ucap Arwah Julia dengan lirih namun dapat membuat seseorang yang mendengarnya merasa merinding.
“Baik Julia aku akan ikut bersamamu,” ujar Erlin melangkahkan kakinya.
Erlin yang berada di belakang Julia mengikutinya entah akan pergi ke mana, Erlin terus berjalan mengikuti arwah Julia.
Jalanan terlihat sepi tidak ada satu pun pengendara yang lewat di jalan itu, Erlin tetap berjalan dengan pandangan lurus ke depan.
Sampai akhirnya arwah Julia berhenti di atas jembatan.
“Terjunlah Erin, terjunlah,” ujar arwah Julia yang memerintahkan Erlin terjun dari atas jembatan tersebut, di bawah jembatan itu terlihat bentangan sungai yang panjang tanpa terlihat ujungnya.
“Terjunlah Erlin!” arwah Julia yang mengulangi perintahnya.
Erlin yang mendengar perintah Julia pun menganggukkan kepalanya.
Erlin yang mulai berjalan mendekati besi-besi pembatas di jembatan itu.
Setelah itu Erlian mulai memegang besi pembatas di jembatan itu lalu kakinya mulai menaiki satu persatu besi pembatas di jembatan tersebut.
Sampai akhirnya Erlin melepas pegangannya dan terjun bebas di sungai yang terbentang luas itu.
Saat Erlin telah terjun dirinya baru tersadar dan berteriak meminta tolong.
“To-tolong! To-tolong!” pekik Erlin berusaha mengerakkan tangannya agar tidak tenggelam.
Namun arus sungai yang kencang membuat tubuh Erlin terbawa, di atas jembatan arwah Julia yang tersenyum melihat Erlin.
__ADS_1
***
Keesokan paginya pembantu rumah tangga yang telah bangun lebih dulu mendatangi ibunya Erlin, di meja makan.
“Bu, itu pintu rumah kok terbuka ya tidak dikunci?” tanya Bi Ijah.
“Mungkin bibi lupa menutupnya,” ucap ibunya Erlin.
“Tidak Bu, saya sudah menguncinya tadi malam, apa jangan-jangan ada maling?” ujar Bi Ijah yang berfikir negatif.
“Bi ijah jika ada maling perabotan di rumah kita sudah hilang semua, buktinya rumah masih dalam keadaan rapi dan tidak ada yang hilang,” sahut ibunya.
“Iya Juga ya,” ucap bi Ijah sembari mengaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Bi Ijah mungkin lupa mengunci pintu kali, untung tidak ada maling,” celetuk Angga kakaknya Erlin yang menyalahkan bi Ijah.
“Oh iya Bi, Erlin belum bangun?” tanya ibunya.
“Dari tadi bibi tidak melihat non Erlin Bu.”
“Ini anak sudah jam setengah tujuh belum juga bangun, bi minta tolong bangunkan Erlin di kamarnya,” perintah ibunya.
“Baik Bu,” sahut Bi Ijah berjalan meninggalkan mereka menuju kamar Erlin.
Sesampainya bi Ijah di depan pintu kamar Erlin, bi Ijah mengetuk kamar Erlin sembari memanggil-manggil Erlin.
“Non Erlin, bangun non sudah di tunggu ibu di meja makan!” ucap bi Ijah dengan suara sedikit keras seraya mengetuk pintu rumah Erlin.
“Non Erlin ayo bangun sudah di tunggu ibu di meja makan non,” ucap Bi Ijah seraya mengetuk pintu kamar Erlin.
Tapi tetap saja tidak ada terdengar suara Erlin yang menyahutinya.
Akhirnya Bi Ijah pun membuka pintu kamar Erlin, saat bi Ijah membukanya ia terlihat melihat Erlin tidak ada di kamarnya dengan pintu jendela yang terbuka.
Bi Ijah pun langsung di berlari menghampiri majikannya di meja makan.
“Bu, non Erlin tidak ada di kamar Bu, dan jendela kamarnya terbuka,” ucap bi Ijah dengan panik.
“Apa bi, ke mana Erlin?” tanya ibunya.
“Mah apa jangan-jangan Erlin di culik?” ujar Angga yang membuat sang ibu menjadi tambah panik.
“Angga jangan membuat ibu menjadi panik, coba kamu telepon teman-teman Erlin siapa tahu Erlin tadi malam pergi ke rumah mereka,” perintah sang Ibu.
“Iya Mah,” ucap Angga yang bergegas mengambil ponselnya di kantong celananya.
Angga mulai menelepon Via sahabat dekat Erlin.
“Hallo Via.”
__ADS_1
“Iya Bang ada apa?”
“Mau tanya Erlin ada tidur di rumahmu tadi malam?”
“Erlin? Tidak ada bang, Erlin tidak ada ke sini.”
“Oh ya udah kalau begitu terima kasih ya,” sahut angga di telepon sembari mematikan ponselnya.
Angga pun mencoba menelepon Siska, Indra serta Roy namun jawaban mereka tetap saja tidak ada Erlin di rumah mereka.
Angga pun memberitahu ibunya serta Ayahnya.
“Mah. Via, Roy, Siska serta Indra tidak melihat Erlin,” ujar Angga kepada ibunya.
Ucapan Angga membuat kedua orang tua Erlin menjadi tambah panik.
“Mas, bagaimana Jika Erlin benar-benar di culik?” ujar sang ibu yang mulai cemas.
“Ratna kita tunggu saja sampai Erlin pulang, jika sampai besok Erlin belum juga pulang baru kita laporkan ke kantor polisi,” sahut Budi ayah Erlin.
“Tapi bagaimana jika ada apa-apa dengan anak kita Mas?” ujar Ratna yang sangat cemas.
“Semoga saja tidak, Erlin tidak kenapa-kenapa.
Keluarga Erlin mencoba tenang, dan menunggu Erlin pulang ke rumah.
Sementara Via, Siska, Indra, serta Roy yang sedang duduk di tangga sekolah mereka bertiga membicarakan Erlin.
“Tadi pagi kalian di telepon abangnya Erlin?” tanya Indra ke pada mereka berdua.
“Iya, aku di telepon bang Angga menanyakan Erlin apa tadi malam ke rumah ku,” Via menjelaskan kepada mereka.
“Iya aku juga di telepon dan pertanyaan sama dengan apa yang di lontarkan oleh Via?” ujar Siswa.
“Kalau kamu Roy?” tanya Indra.
“Iya sama kaya kalian bertiga? Ada apa dengan Erlin? Ke mana ia pergi?” ujar Roy yang bertanya-tanya.
“Apa kemarin Erlin ada pesan kepada kalian jika dirinya mau ke mana?” sambung Roy kembali.
Mereka bertiga dengan serentak menggelengkan kepala mereka.
‘Aneh, ke mana perginya Erlin?’ batin Roy bertanya-tanya.
Tidak lama bel sekolah berbunyi petanda pelajaran akan segera di mulai.
__ADS_1