Haunted School

Haunted School
Peringatan untuk Dara


__ADS_3

Beberapa telah berlalu semenjak Roy membatu Dara mencari jenazah Erlin  hubungan Dara dan Roy semakin dekat, keduanya sering terlihat ke kantin bersama atau sekedar ngobrol. Hal itu membuat Via sangat cemburu. Ia  merencanakan hal buruk pada Dara, di bantu oleh Indra dan Siska. 


“Berani sekali anak baru itu deketin Roy! Apa dia nggak tahu sedang berhadapan sama siapa!” ucap Via dari kejauhan yang tampak kesal. 


Matanya menatap tajam pada Roy dan Dara yang terlihat sedang mengobrol di dalam ruang kelas. Tampak Roy yang duduk di atas meja Dara, sementara gadis itu duduk di kursi seraya tertawa bersama Roy. Keduanya terlihat akrab, tak ada kecanggungan di antara keduanya. 


“Tenang aja, Via. Aku akan selalu bantu kamu kalo mau ngasih pelajaran sama anak baru itu! Dia harus di kasih pelajaran karena berani mendekati Roy,” Kata Siska yang juga sedang menatap Roy dan Dara dari luar kelas.


“Ya, kamu harus membantuku memberi Dara pelajaran. Biar tidak semakin ngelunjak dan sok cantik di sekolah ini. Nggak ada yang bisa ngalahin kecantikan aku di sekolah ini. Nggak ada yang boleh deketin Roy, pacar aku! Dia harus di kasih paham biar nggak semena-mena di sekolah ini,” ujar Via dengan kedua tangan yang terkepal kuat menahan emosi. 


Via menatap Dara penuh kebencian, ingin sekali menarik gadis itu agar menjauh dari kekasihnya. Tapi ia sadar, jika melakukan hal itu sekarang maka ia takut Roy akan memandangnya dengan buruk bahkan tindakannya akan berpengaruh pada hubungan keduanya kelak. Ia tidak mau jika Roy memutuskan hubungan keduanya hanya karena sikap bar-bar yang ia tunjukkan. 


“Kita main cantik seperti biasa,” Kata Via seraya tersenyum licik. 


Matanya tidak beranjak dari gadis yang menjadi targetnya. Siska hanya mengangguk dan tersenyum menanggapi temannya itu. Ia sangat paham dengan apa yang di maksud oleh Via. 


“Ayo, kita pergi dari sini! Nanti sepulang sekolah kita eksekusi anak baru itu!” Via meninggalkan tempat itu di ikuti oleh Siska, sahabatnya. 


Dara sangat terkejut ketika seorang pria membekap mulutnya, menyeretnya dengan paksa dan membawanya ke dalam gudang sekolah yang gelap. Ia berusaha melepaskan diri, memukul-mukul lengan seorang pria yang membawanya secara paksa. Gadis itu menjerit, tapi suaranya tertahan karena mulutnya di bekap oleh pria misterius itu. Sampai di gudang, Dara langsung di lemparkan begitu saja. Tubuhnya terjerumus ke lantai gudang yang berdebu. 


“Aww....” ia meringis, merasakan sikutnya yang perih. Ruangan itu tampak gelap, hanya ada lampu berukuran kecil berwarna orange di sudut gudang. 


Gadis itu tidak bisa melihat dengan jelas suasana di dalam gudang. 


Dara sedang berjalan seorang diri melewati koridor saat pulang sekolah. Ia terpaksa pulang terlambat karena harus mengikuti jam tambahan serta harus pulang paling terakhir karena mencari pulpennya yang hilang.


“Halo, anak baru! Gimana perasaan kamu sekarang? Apa kamu terkejut atau biasa saja?” 


Seorang gadis memakai seragam yang sama dengannya berjongkok di hadapan Dara. Sementara dua orang temannya berada di belakang gadis itu menatapnya dengan senyum miring seraya bersedekap.


“Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian membawaku ke sini?” teriak Dara takut. 


Dara memperhatikan  pandangannya ke sekeliling, gudang itu terlihat sangat angker dan menakutkan. 


“Tentu saja untuk memberi mu pelajaran!” Jawab Via dengan tersenyum miring. Dara mengernyitkan keningnya, menatap Via dengan bingung.


“Apa maksudmu? Apa salah aku sama kamu, Via?” 


“Kamu tidak tahu salahmu di mana?” 


Dara mengangguk, ia memang tidak mengerti dengan maksud dan tujuan Via membawanya ke dalam gudang yang gelap serat pengap. 

__ADS_1


“Aku hanya ingin memperingati kamu, bahwa jangan sok jadi anak baru! Jangan berusaha merebut milik orang lain!” 


“Apa maksud kamu, Via? Aku benar-benar tidak mengerti.” 


“Jangan berlagak bodoh! Jangan sok polos kamu, Dara!” Via mencengkram dengan kuat kerah baju putih yang di kenakan oleh Dara. 


Gadis itu terlihat sangat marah, matanya melotot menatap Dada yang kebingungan. 


“A-aku benar-benar tidak mengerti, Via. Aku salah apa?” 


“Brengsek! Kamu membuat emosi ku semakin naik! Dasar gadis gatal tidak tahu diri!” 


Plak ....!!


Terdengar suara tamparan keras dari dalam gudang. Dara merasakan perih yang luar biasa di pipi kirinya. Ia meringis, mengusap wajahnya yang sakit. 


“Kenapa kamu menamparku? Apa salah ku?” tanya Dara tak mengerti. 


“Jangan pura-pura bodoh! Roy itu milikku! Jangan sok akrab dengannya! Jangan berani mendekatinya!” teriak Via dengan marah. 


“Roy?” Dada mengernyitkan dahi. Ia bingung kenapa Via rela menyekapnya hanya karena pria itu. Ia tidak berusaha mendekati Roy. 


“Benar, Via. Aku siap kok ngasih gadis itu pelajaran. Lagian kalo di lihat-lihat, body-nya bagus juga,” ucap Indra yang menatap Dara dengan senyum mesum.


 Mendengar hal itu membuat Dara menggeleng dengan takut. 


“Kalian benar, gadis genit ini memang harus di beri pelajaran yang mengerikan supaya tidak seenaknya saja mendekati milik orang lain. Siska, aku serahkan Dara kepadamu, lakukan apa pun padanya! Lakukan sepuasnya!” ujar Via seraya tersenyum jahat.


 Ia segera berdiri dan mundur menjauh, Siska mulai mendekati Dara dan mulai melepas kancing baju milik Dara, setelah hampir semu baju Dara terbuka, Siska kembali merogoh ponselnya lalu memvideo tubuh Dara yang tampak fulgar. 


“Aku akan membagikan Video ini ke teman-teman yang lain agar semua orang menganggapmu tidak baik,” ancam Siska kepada Dara sembari masih memvideonya.  


“Tolong, jangan lakukan ini padaku. Aku berjanji akan menjauhi Roy,” ucapnya dengan takut. Ia tidak bisa membayangkan jika video benar-benar akan menghancurkan reputasinya di sekolah. 


Setelah selesai memvideo Siska memberikan kepada Via, Via yang melihat video Dara pun tertawa, lalu mendekati Dara.


“Jangan pernah dekati Roy lagi jika video ini tidak ingin aku sebarkan mengerti kau Dara! ROY HANYA MILIK VIA!” Via menekankan. 


Sementara Siska sibuk merekam kembali kejadian yang menurutnya sangat seru.


“Indra kini giliranmu!” perintah Via.

__ADS_1


Siska menatap wajah Indra, ia mendatangi indra dan membisikan sesuatu kepadanya.


“Ingat ini hanya untuk membuatnya jera saja, jangan sampai melakukan hal yang lebih kepadanya!” ancam Siska yang berbisik kepada Indra.


“Iya aku tahu tenang saja,” ujar Indra yang tersenyum.    


“Tolong Via. Aku mohon,” Punggung Dara telah menyentuh tembok, ia tidak bisa ke mana-mana. 


Gadis itu menangis pilu, memohon dengan sangat pada Via. Memohon belas kasihan gadis itu. 


Sementara Indra terus melancarkan aksinya, ia bahkan membuka beberapa kancing seragam bagian atasnya. Tak mempedulikan berapa banyak air mata yang keluar membasahi wajah gadis yang ada di hadapannya. 


Tubuh keduanya semakin dekat, membuat tangis pilu Dara semakin terdengar. Saat Indra baru akan membungkam bibir tipis milik gadis yang sedang ketakutan dan terpejam itu, ia merasakan tubuhnya terpental jauh ke belakang menghantam tembok. Hal itu membuat Via dan Siska mendelik. 


“Aaaduuhh ....” Indra memegangi punggungnya yang serasa patah. Ia meringis kesakitan. 


“A-apa yang terjadi?” suara Via tercekat di tenggorokan, menatap Indra tak percaya sementara Siska melongo dan menutup mulutnya. Menyadari hal buruk belum menimpanya, Dara mencoba membuka mata. Alangkah terkejutnya ketika ia mendapati Indra yang mengerang kesakitan. 


Ia refleks menutup mulutnya, di samping pria itu tampak sosok Julia yang kembali mendekati Indra. Tak berselang lama tubuh pria itu terangkat ke atas, berada beberapa senti meter dari lantai. Hal itu membuat Via dan Siska menjerit ketakutan.


“A-apa itu? Ke-kenapa Indra bisa seperti itu?!” teriak Siska panik. 


“A-pa yang membuatnya begitu?” timpal Via seraya mundur ke belakang sementara Indra menjerit minta tolong. Tak lama tubuh pria itu kembali terlempar, tubuhnya mengenai beberapa kursi rusak  yang ada di sana. Indra melolong kesakitan, detik berikutnya pria itu jatuh pingsan. 


“Indra!” teriak Siska dan Via berbarengan.


 Keduanya berlari menuju temannya yang terkapar. Mengguncang tubuh Indra yang tak bergerak. Hal itu membuat mereka semakin ketakutan. Menatap ngeri pada tubuh Indra yang tergeletak.


“Apakah Dara punya kekuatan?” keduanya saling pandang, lalu menatap ngeri pada Dara yang sama terkejutnya pada mereka. 


“A-apa dia adalah dukun?” Siska kembali menerka. Tak lama sosok Julia menampakkan diri di hadapan mereka membuat keduanya menjerit ketakutan. 


“Huaaa ... Ha- hantu!!!” teriak keduanya seraya  berlari tunggang langgang meninggalkan gudang. 


“Julia. Terima kasih sudah membantuku,” Ucap Dara setelah dirinya mulai tenang. Sosok hantu Julia tersenyum, lalu pergi menghilang dari hadapan Dara. 


Dara mulai merapikan bajunya dan melihat ponsel milik Siska yang terjatuh di lantai, Dara yang melihat itu pun segera mengambilnya lalu membuka galeri video dan menghapus beberapa Video yang berhasil Siska rekam.


Setelah selesai Dara menaruh ponsel itu di lantai gudang dan segera pergi meninggalkan gudang tersebut.


 

__ADS_1


__ADS_2