
Semenjak kematian Siska, Indra menjadi sering melamun. Rasa sedih terus hadir tanpa mau pergi.
Ia begitu mencintai gadis itu. Bahkan pria muda yang di tinggalkan oleh Siska itu begitu depresi atas kehilangan kekasihnya.
Ketika pelajaran berlangsung di mana guru sedang sibuk menjelaskan di depan kelas, Indra tak memperhatikan sedikit pun. Ia sibuk dengan segala pikirannya, segala kenangan bersama Siska.
Masih teringat jelas bagaimana bahagianya mereka ketika bersama. Keduanya sering berbagi tawa serta kesedihan bersama, menghabiskan waktu berdua.
Ia kira cintanya bersama Siska akan selamanya, tapi mereka harus terpisah karena kematian. Hatinya masih belum terima dengan kepergian Siska yang tiba-tiba.
Masih teringat jelas dengan janji bersama keduanya, bahwa mereka tidak akan saling meninggalkan apa pun yang terjadi.
Tubuhnya memang ada di kelas, tapi pikirannya hanya tertuju pada gadis yang selalu di cintainya. Hatinya telah mati. Tak ada gairah untuk hidup lagi. Bahkan seringkali keinginan untuk mengakhiri hidup selalu mampir dalam benaknya.
Ia begitu mencintai gadis itu, dirinya ingin sekali bersama Siska dan menyusul gadis itu agar bisa bersama kembali. Hari itu hanya di habiskan oleh Indra dengan melamun di dalam kelas. Ia mengabaikan teriakan dari guru yang mengajar.
“Indra, mengapa kamu selalu melamun? Apa kamu tidak mendengarkan apa yang saya jelaskan?!” teriak seorang guru perempuan yang sedang menatapnya dengan berang.
Pria itu bergeming, tatapannya kosong ke luar kelas sehingga membuat guru itu kesal luar biasa. Tidak hanya sekali ini Indra kedapatan sering melamun saat jam pelajaran sedang berlangsung. Tepatnya ketika Siska di kabarkan meninggal dunia.
Bahkan ketika di ajak ke kantin, Indra lagi-lagi mengabaikan mereka. Jangankan ikut, menyahut pun tidak.
“Indra, kita ke kantin yok. Aku sangat lapar,” kata Via dan mendapatkan anggukan dari Roy yang berdiri di sebelahnya.
Melihat temannya yang hanya diam dan tak menyahut membuat Via dan Roy saling tatap penuh kebingungan. Keduanya menghela napas berbarengan.
Mereka sangat tahu alasan Indra seperti ini semuanya karena Siska.
__ADS_1
“Indra, kamu harus tetap melanjutkan hidup. Jangan seperti ini. Siska juga tidak akan suka melihat kamu seperti ini. Ayolah, kita makan di kantin. Biar aku yang traktir,” imbuh Via mencoba membujuk.
Tapi pria itu hanya diam tak menanggapi. Bahkan tidak menoleh pun. Roy mencoba duduk di kursi kosong yang ada di sebelah Indra. Ia menepuk pelan bahu temannya itu dengan rasa simpatik yang tinggi.
“Aku tahu perasaan kamu. Tapi kami mohon jangan seperti ini. Kami juga merasa sangat kehilangan Siska.” Ucap Roy dengan pelan. Ia menatap temannya itu penuh kesedihan.
“Ayolah. Makanlah walaupun sedikit supaya ada tenaga. Jangan terus-terusan seperti ini, kawan. Kamu harus bangkit!”
Indra mengusap bulir bening yang tak sengaja jatuh. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali, lalu menatap Roy tanpa minat.
“Pergilah! Aku sedang tidak ingin ke kantin. Lagi pula aku sedang ingin sendiri.”
Roy dan Via kembali saling tatap, tak lama Via mengangguk.
“Ya sudah kalau kamu mau sendiri. Kami pergi ke kantin duluan.” Kata Via.
Indra benar-benar seperti mayat hidup. Tubuhnya pun semakin kurus dan pucat, lingkaran hitam di sekitar matanya sangat terlihat jelas. Ia begitu depresi, ia begitu kalut dan jatuh ke dalam kesedihan yang begitu dalam. Pria itu tidak menginginkan apapun, Ia hanya menginginkan Siska kekasihnya. Hanya Siska.
Pada malam hari saat semua orang terlelap, Indra tak bisa memejamkan mata. Kerinduan yang mendalam membuatnya semakin menggila. Ia tidak bisa hidup tanpa Siska.
Pria itu meraih sebuah bingkai foto yang ada di atas nakas. Seorang gadis cantik memakai seragam abu-abu tersenyum di sana. Menatapnya penuh cinta dari balik foto. Foto itu di ambil oleh Indra ketika baru seminggu jadian.
“Sayang, aku sangat mencintaimu. Mengapa kamu pergi begitu cepat? Mengapa kamu meninggalkan aku seorang diri di dunia ini? Apakah kamu tidak tahu kalau aku sangat merindukan mu?” ujarnya penuh kesedihan seraya membelai lembut bingkai foto itu.
Sesekali ia mengusap sudut matanya yang berair. Meski sering kali menangis, tapi entah kenapa air Matanya seolah tak habis.
“Apa aku harus menyusul kamu? Bukankah kita sudah berjanji akan selalu bersama-sama?” ujarnya penuh senyum putus asa.
__ADS_1
“Tunggu aku, sayang. Aku akan segera menyusulmu. Kamu pasti juga sedih ‘kan, harus berpisah denganku? Kamu pasti kesepian juga ‘kan, sama seperti aku? Tunggu ya sayang, sebentar lagi aku akan segera menyusulmu dan kita akan bersama-sama lagi.” Ucap pria itu seraya mengecup foto Siska yang berada dalam genggamannya.
Hatinya sangat sakit harus di paksa menerima kenyataan pahit. Ia tidak terima dengan semua takdir ini. Pria itu menatap jauh ke depan penuh kebencian.
“Kenapa takdir ini begitu menyakitkan? Kenapa Tuhan tidak adil pada ku? Mengapa Tuhan begitu tega merenggut kebahagiaan ku? Apa Dia tidak suka melihat aku bahagia?” Air mata terus keluar membasahi wajah pucat pria itu.
“Aku akan segera menyusulmu, Siska. Aku akan menyusulmu!”
Indra segera meletakkan bingkai foto itu ke atas ranjang, lalu turun menginjakkan kaki di atas lantai yang dingin. Pria itu segera keluar kamar dan menuju gudang. Berjalan mondar mandir di depan pintu gudang yang tertutup mencari tempat aman untuk melakukan aksi bunuh diri yang akan ia lakukan. Hati kecilnya sedikit bimbang, tapi keinginan untuk menyusul sang kekasih sangatlah besar. Ia tidak bisa hidup tanpa Siska. Begitu pikirnya. Indra melihat seutas tali yang di ambilnya dari belakang.
Tanpa pikir panjang, Indra segera membuka pintu gudang. Pria itu berjalan perlahan ke dalam gudang yang gelap dan lembab. Bau apek serta berdebu segera masuk ke indera penciumannya.
Membuat dada sesak, tapi tidak dengan pria yang sedang kalut itu.
Indra segera menarik kursi yang ada di sana, mengikat dengan cepat seutas tali yang di bawanya ke tiang langit-langit gudang tanpa plafon.
Setelah menyimpulkan tali itu dengan pas, Indra bersiap untuk memasukkan lehernya ke dalam lingkaran tali tambang.
Ia menatapnya sebentar, air matanya jatuh seketika. Keraguan sempat hadir, tapi rasa cinta yang begitu besar menghempaskan keraguan itu.
“Aku harus menyusulmu. Kita harus bersama-sama lagi, Siska. Aku sangat mencintaimu, sayang. Tunggu aku, sebentar lagi kita akan bertemu.” Ujarnya dengan tangis yang berderai dan senyum pahit yang tersemat di wajahnya.
Beberapa detik kemudian, pria itu benar-benar memasukkan kepalanya ke dalam simpul tali yang ia buat. Dengan cepat kakinya menendang kursi yang ia pijak. Tali itu segera menjeratnya dengan kuat. Tangannya berusaha menahan tali itu, tapi terlambat.
Sedetik kemudian tubuhnya mulai kejang-kejang dengan mata melotot dan lidah terjulur. Pria itu kehabisan napas. Wajah dan lehernya membiru di susul dengan tubuhnya yang tak bergerak.
Pria itu mati mengenaskan tergantung di dalam gudang yang gelap. Demi menyusul sang kekasih membuatnya harus mengorbankan hidupnya.
__ADS_1