
Tidak lama kedua orang tua Via pun datang ke rumah sakit, mereka berdua berjalan menuju ruang UGD.
Tepat di depan ruang UGD terlihat bi Yasmin yang sedang duduk.
“Bu, bagaimana dengan anak saya?” tanya Herman ayah Via yang sangat khawatir.
“Begini pak Herman dan Bu Linda. Tadi pas jam Istirahat Via berlari-lari menaiki anak tangga ternyata Via tergelincir dan jatuh dan mengalami luka di keningnya tapi tadi kata dokter Via tidak mengalami patah tulang hanya operasi kecil jahitan di keningnya ini mungkin Via akan di bawa ke ruangan dan di rawat,” ujar Bu Yasmi yang menjelaskan kepada kedua orang tua Via.
Tidak lama para perawat membawa Via untuk di pindahan kan ke ruangan rawat inap.
Mereka berempat pun mengikuti para perawat ke ruangan rawat inap.
Sesampainya di sana terlihat Via yang belum sadarkan diri.
“Bu Linda dan pak Herman saya pamit dahulu, masih ada pekerjaan lagi di sekolah belum saya selesaikan,” ujar bu Yasmin berpamitan kepada kedua orang tua Via.
“Iya bu Yasmi, terima kasih,” sahut Linda ibunya Via.
“Pak, Bu Roy juga pamit sekalian mengantar bu Yasmin ke sekolah,” ujar Roy yang juga berpamitan.
“Iya Roy terima kasih,” ucap Herman.
Roy berserta bu Yasmi pun keluar dari ruangan melati kembali ke sekolahan.
Sesampainya di sekolah Roy berjalan masuk ke kelasnya.
Saat itu kelas tidak sedang belajar karena ada guru yang tidak masuk.
Dara yang melihat Roy tiba di kelas pun segera menghampirinya.
“Roy bagaimana keadaan Via?” tanya Dara.
“Via tidak mengalami luka yang parah hanya saja ada sobekkan kecil di keningnya yang perlu di jahit, tapi saat aku pulang Via belum sadarkan diri,” ujar Roy yang menjelaskan kepada Dara.
“Kasihan sekali dia, apa nanti kamu akan ke sana lagi Roy setepas pulang sekolah,” ujar Dara yang menanyakan kepada Roy.
“Kamu sangat baik sekali Dara, beberapa kali Via selalu menyakiti hatimu dengan perbuatannya dan tindakannya tapi sedikit pun kamu tidak ada rasa dendam atau benci dengannya,” kata Roy yang tersenyum kepada Dara.
Melihat Roy memuji dirinya Dara hanya bisa tersenyum.
“Oh iya Dara, kamu ke sana dengan siapa? Apa mau ikut aku?” tanya Roy.
“Aku bersama Toni dan Mia ke rumah sakit, Roy kamu tahu Via sangat sayang sekali dengan mu, aku tidak ingin membuat dirinya berpikir yang tidak-tidak denganku, jagalah hatinya Roy,” Dara yang menasihati Roy.
“Iya aku mengerti,” sahut Roy seraya menganggung.
__ADS_1
Dara pun kembali ke tempat duduknya di sana Toni serta Mia yang sedang menunggunya ingin mengetahui perkembangan dari Via melalu Dara.
“Bagaimana Dara dengan Via?” tanya Mia.
“Via belum sadarkan diri, tapi kata Roy dia tidak mengalami luka berat hanya saja ada luka di keningnya yang membutuhkan jahitan,” ujar Dara menyampaikan kepada temannya.
“Oh ya selepas pulang sekolah kita jenguk Via ya di rumah sakit,” sambung Dara.
“Kamu serius Dara? Nanti Via marah dengan kehadiran mu dan aku serta Mia bagaimana?” sahut Toni meyakinkan Dara.
“Iya Toni aku serius, jika memang Via marah dengan kehadiran kita ya tidak apa-apa yang terpenting aku berniat baik kepadanya,” sahut Dara dengan tersenyum.
“Hatimu memang baik Dara, Via sudah memfitnah kamu tapi kamu tetap baik dengan dirinya,” sahut Toni.
“Kita di ajarkan tidak boleh dendam dengan orang dan belajar untuk memaafkan kesalahan orang tersebut,” celetuk Dara.
***
Beberapa jam telah berlalu pelajaran pun telah selesai bel pun telah berbunyi para murid keluaran dari kelas merek masing-masing.
Dara, Mia, berserta Toni tengah bersiap-siap menunggu Roy di parkiran sekolah.
Selang beberapa menit Roy pun datang menghampiri merek bertiga.
“Kamu kesannya sama siapa Dara?” tanya Roy kembali.
“Sudah ikut aku aja,” paksa Roy menarik tangan Dara.
“T-tapi Roy, nanti Via tahu bagaimana?” tanya Dara.
“Via kan sedang berada di ruangan inap, dia juga tidak akan tahu kok kalau aku membonceng dirimu,” ujar Roy yang tersenyum kepadanya.
“Kan hanya membonceng saja tidak berbuat apa-apa,” sambung Roy kembali mengajak Dara bercanda.
Dara pun tersenyum tipis mendengar candaan dari Roy.
“Ayo kita berangkat!” seru Roy.
Mereka bertiga pun berangkat bersama-sama, di perjalanan Roy membawa motornya degan laju, membuat Dara yang di boncengnya merasa takut dan berpegangan kepada Roy.
Roy yang mengetahu itu pun tersenyum senang tidak dapat di ungkiri jika dirinya memang tertarik dengan Dara. Tidak hanya cantik serta manis Dara mempunya hati yang baik membuat Roy merasa yaman jika di dekat Dara berbeda dengan Via yang membuat dirinya tertekan.
Dara yang berada di belakang mulai memeluk erat dirinya agar tidak terjatuh dari motor besar yang di tumpanginya.
Beberapa menit lelah berlalu mereka pun telah tiba di rumah sakit tempat Via di rawat, Dara bersama Toni serta Mia mengikuti Roy di belakang.
__ADS_1
Sampai akhirnya mereka berempat telah tiba di ruang melati telat Via di rawat.
Roy bersama yang lain pun masuk ke dalam ruangan terlihat Via telah sadar bersama ibunya di ruangan itu.
Via yang melihat Dara menjenguknya pun terlihat kesal.
“Mau apa kamu sini, apa mau meledek aku, senang ya lihat aku seperti ini jadi bisa dekat dengan Roy,” ucap Via seraya menatap dengan sinis ke arah Dara.
“Via kamu apaan sih aku dan Dara itu tidak ada hubungan apa-apa lagi pula mereka datang ke sini ingin menjenguk kamu, ingin mengetahui keadaanku,” ujar Roy yang mengklarifikasi kepada Via.
“Via teman-teman, baik loh mereka datang untuk menjenguk kamu dan kamu sama Roy kan sudah lama jadi kalian ya harus saling percaya,” tegur Linda ibu dari Via.
“Apa an sih Mah, mamah sama Roy sama saja tidak mengerti Via,” sahut Via dengan kesal.
Dara yang melihat keadaan yang menjadi semakin memanas pun memutuskan untuk pergi.
“Via, aku pulang dahulu ya, cepat sembuh ya, bu saya pulang dahulu,” ujar Dara yang berpamitan kepada Via berserta Ibunya.
“Iya Nak hati-hati di jalan terima kasih telah menjenguk Via, maafkan sikap Via ya,” sahut Linda yang ramah kepada Dara.
“Tidak apa-apa Bi, Dara mengerti kok bu,”
Dara berserta kedua temannya pun pergi keluar dari ruangan Via menuju parkiran rumah sakit.
“Dara tunggu!” seru Toni yang tertinggal di belakang Dara.
Langkah kaki Dara pun terhenti.
Toni melihat mata Dara yang berkaca-kaca.
“Sabar ya Dara, aku kesal sama tuh anak pikirannya selalu negatif terus sama kamu padahal kan niat kamu baik,” ucap Toni dengan wajah kesal mengingat temannya di perlakukan dengan tidak baik oleh Via.
“Aku naik taksi onlie aja Toni, sudah tidak apa-apa lupakan saja kejadian tadi,” sahut Dara.
Dara mengambil ponselnya dan memesan taksi online setelah itu Dara berjalan keluar rumah sakit.
Terlihat taksi pesanan Dara telah tiba.
“Mia, Toni aku duluan ya,”
“Iya Dara hati-hati,” sahut serentak mereka berdua.
Dara pun masuk ke dalam taksi online tersebut meninggalkan rumah sakit menuju rumahnya.
Sementara Roy masih berada di sana menemani Via. Sebenarnya hati Roy kesal dengan Via tapi Roy teringat akan ucapan Dara untuk selalu menjaga hati Via.
__ADS_1