
Di Senin pagi pihak polisi kembali ke sekolah Tunas Bangsa guna menyelidiki kematian Toni.
Semua guru di sekolah itu di interogasi oleh pihak polisi namun pihak polisi belum dapat menemukan siapa pelakunya.
Sementara di kelas Xl C terlihat Mia yang sedang duduk di bangkunya dengan murung.
Dara serta Roy yang melihatnya pun mencoba untuk menghiburnya.
“Sampai sekarang aku pun tidak percaya jika Toni harus merengut nyawa dengan cara seperti itu, kita semua kehilangan Toni, Mia,” ujar Dara yang duduk di samping Mia seraya mengelus-elus pundaknya.
Mia pun memeluk Dara tidak kuasa menahan air matanya dirinya sangat terpukul sahabatnya pergi meninggalkan dirinya setelah Julia.
“Jangan bersedih ya, kamu tidak sendiri masih ada aku dan Roy,” ujar Dara yang mencoba menenangkan Mia.
“Terima kasih Dara,” sahut Mia seraya memeluk Dara.
Namun secara tiba-tiba Dara merasakan kepalanya sakit pandangannya pun kabur.
Mia yang mengetahui itu menanyakan kepada Dara apa yang terjadi.
“Dara kamu kenapa?” tanya Mia
“Dara, kamu baik-baik saja,” tanya Roy.
Dara tidak memedulikan ucapan mereka berdua, ia memejamkan matanya dan melihat sesuatu lewat mata batinnya.
Dara melihat Toni di bun*uh oleh seseorang yang ia tidak dapat lihat siapa orang tersebut, seseorang itu mengubur Toni d bawah pohon besar yang berada di belakang sekolah, namun Dara melihat petunjuk ia melihat pembun*uh itu mempunya tanda luka bakar di pergelangan tangannya.
Tidak lama kemudian rasa sakit kepala Dara hilang dan penglihatan mata batinnya pun hilang.
Dara pun segera menceritakan kepada kedua temannya ya itu Mia berserta Roy apa yang dia liat.
“Aku melihat sesuatu,” ujar Dara dengan wajah seriusnya.
“Apa yang kamu liat Dara?” tanya Mia.
“Aku melihat pembun*uh Toni mempunyai tanda yang sama dengan seseorang yang melecehkan Julia,” ujar Dara.
“Apa Ra? Kamu melihat tanda apa Ra?” tanya Roy yang sangat antusias.
“Luka bakar di pergelangan tangan kirinya,” sahut Dara.
“Ini tidak dapat di biarkan kita harus mencari siapa orang itu untuk mempertanggungkan perbuatannya kepada pihak berwajib,” kata Roy seraya berfikir keras siap pelaku sebenarnya.
“Apa jangan-jangan pelakunya berada di sekolah ini,” kata Mia yang menebak.
“Kemungkinan, soalnya pelaku itu tahu tentang kamu Mia, dia sempat menyamar menjadi dirimu di saat aku melihat chat di ponsel Toni.”
“Apa isi chatnya Roy?” tanya Dara yang sangat antusias.
“Chatnya berisi menyuruh Toni ke sekolahan malam itu dan pembun*uhnya menyamar menjadi Mia,” Roy yang memberitahu mereka berdua.
Mia serta Dara yang mengetahuinya pun sangat Syok.
“Ini tidak dapat di biarkan kita harus mencari siapa yang telah merenggut nyawa Toni,” sahut Dara yang kesal.
Rupanya pembicaraan mereka terdengar oleh pak Ardi, namun pak Ardi tidak terlalu memedulikan masalah tersebut.
Seluruh murid di sekolah pun gempar, sudah banyak murid yang meregang nyawa beberapa bulan terakhir ini dengan kondisi yang memprihatinkan.
Ditambah lagi oleh desas-desus yang beredar di luar sekolah yang mengatakan jika sekolah itu di kutuk, pembawa sial hingga memakan tumbal.
Reputasi sekolah sangat tercoreng, kepala sekolah serta pemilik yayasan pun tidak mau tinggal diam, mereka meminta pihak kepolisian mengusut tuntas masalah-masalah tersebut.
Simpang siur berita tentang sekolah Dara itu pun sampai hingga ke penjuru kota, beberapa wartawan bahkan sengaja datang untuk meminta keterangan, namun pihak sekolah melarang mereka untuk masuk dengan alasan akan mengganggu proses pembelajaran.
__ADS_1
Semakin lama semakin banyak wartawan yang datang bahkan para warga sekitar mulai berkumpul di depan gerbang sekolah.
“Tutup aja sekolah ini! Sekolah ini makan tumbal! Kalian tahu sendiri kan berapa banyak murid yang meninggal!” terdengar suara provokasi dari salah satu orang.
Untungnya tidak ada yang terprovokasi dan malah membela.
“Kalau ada tumbal, seharusnya sudah dari dulu! Sekolah ini sudah berdiri sebelum saya tinggal di daerah ini dan saya tidak pernah mendengar hal semacam ini.”
“Betul! Itu tidak mungkin. Kejadian seperti ini baru terjadi,” sahut yang lain.
Opini-opini orang-orang itu di rekam dan di jadikan berita oleh media masa, Dara dan lainnya yang saat itu berada di dalam sekolah pun bingung padahal sudah waktunya mereka pulang.
“Gimana ini? Apa kita gak bisa pulang?” ucap Mia.
“Tenang aja, kan ada polisi di sini pasti mereka akan bantu kita,” sahut Dara.
“Iya juga sih.”
Tidak lama para polisi bersiap di depan pintu gerbang untuk mengamankan keadaan agar semua murid dapat pulang ke rumah masing-masing.
“Bapak Ibu tolong jangan berkerumun, ini jam pulang sekolah kasihan anak-anak di dalam sana ketakutan dan tidak berani keluar,” ucap polisi itu.
Perlahan orang-orang itu pun membubarkan diri, namun ada juga yang tetap berada di sana dengan menepi terlebih dulu.
“Pak bagaimana proses penyelidikan terhadao murid yang meninggal itu?” tanya seorang wartawan.
“Nanti akan saya umumkan, sekarang kita biarkan para murid untuk pulang terlebih dulu,” sahut polisi itu.
Lonceng berbunyi pertanda mereka sudah bisa pulang ke rumah, beebrapa siswa di jemput oleh orang tuanya dan sebagian lagi membawa kendaraan masing-masing.
“Mia ayo kita bareng,” ucap Dara.
“Aku nunggi jemputan mama aku Ra, kamu duluan aja,” sahut Mia.
“Ya sudah kamu hati-hati. Lebih baik kamu nunggunya di depana gerbang aja jangan di sini,” ucap Dara.
Mia pun berjalan ke depan gerbang untuk menunggu jemputan, sedangkan Dara di antar oleh Roy.
Mia berdiri dengan perasaan sedikit cemas, tiba-tiba pak ardi muncul di sampingnya.
“Lagi nunggu jemputan?” tanya pak Ardi.
“Eh pak Ardi, iya pak nunggu mama saya jemput,” sahut Mia dengan senyum manisnya.
“Kenapa gak nunggu di dalam aja? Di sini banyak wartawan apa kamu gak khawatir nanti di tanya-tanya?”
“Iya sih, tapi saa takut sendirian di dalam.”
“Gak apa-apa biar bapak yang temenin. Lagian di sini panas nanti kulit kamu hitam,” ucap pak Ardi.
Beberapa menit Mia berpikir dan akhirnya menyetujui usul pak Ardi, baru beberapa langkah Mia masuk terdengar suara seseorang memanggil Mia.
“Mia!”
Mia pun lantas menoleh, “Mama, tunggu ma!” teriak Mia.
“Pak mama saya udah datang, saya pamit dulu ya,” ucap Mia sembari berlari keluar.
Mia pun mamasang helm yang di berikan mamanya itu lalu naik ke atas motor.
Ardi menatap Mia tanpa henti dan kembali ke luar sekolah untuk pergi ke mobilnya yang sudah terparkir di luar.
Sementara itu Roy dan Dara masih di dalam perjalanan, dalam mobil Dara mengutarakan perasaan anehnya ketika melihat Ardi.
“Aku merasa sedikit aneh dengan pak Ardi,” ucap Dara.
__ADS_1
“Kenapa? Kamu juga suka sama pak Ardi ya kaya siswi lain?” ucap Roy.
“Bukan itu Roy! Tapi aku entah kenapa merasa takut dengannya,” sahut Dara.
“Kok takut? Kan pak Ardi ganteng Ra,” sahut Roy.
“Entah lah aku gak ngerti.”
“Udah gak usah di pikirin, nah kita udah sampai,” ucap Roy.
“Makasoh ya Roy, kamu pulangnya hati-hati,” ucao Dara.
“Siap!”
Roy melaju menuju rumahnya, tiba-tiba di tengah jalan mobil yang di kendarai Roy mogok.
“Loh kenapa nih?” ucap Roy saat merasakan mobilnya jalan dengan tersendat-sendat.
Hingg mobil Roy terhenti dan tidak bisa menyala lagi. Dengan cepat Roy menghubungi pihak service mobil agar datang ke lokasi mobilnya yang mogok.
Roy pun keluar dari mobilnya, ia bingun dengan hal tersebut pasalnya mobilnya itu baru kemarin di service.
Sekitar 10 menit berlalu, terlihat sebuah mobil berwarna hitam menepi. Rupanya itu adalah pak Ardi.
“Loh kenapa Roy?” tanya pak Ardi.
“Mogok Pak, padahal baru kemarin di servis,” sahut Roy.
Pak Ardi pun membuka kap mobil Roy, dan memeriksa keadaan mesinnya.
“Ohh ... Ini Cuma ada yang longgar. Coba sekarang nyalain Roy,” pinta pak Ardi.
Roy pun masuk ke dalam mobilnya dan menyalakan mesin, benar saja mesinya pun menyala.
“Wah nyala Pak ... Terima kasih Pak, kalau bukan karena Bapak saya bisa keluar duit lagi.”
“Sama-sama, kalau begitu saya pergi dulu,” ucap pak Ardi.
Roy pun menghubungi pihak service dan berkata jika mobilnya sudah bisa menyaka. Roy pun melaju menuju rumahnya dengan kecepatan sedang hingga di tikungan terakhir Roy kembali mengalami masalah dengan mobilnya.
“Kok gak bisa di rem?” ucao Roy.
Beruntung saat itu Roy tetap tenang yang mencoba mengoper persneling serta mengurangi kecepatan perlahan hingga sebuah polisi tidur yang cukup tinggi membuat mobilnya perlahan berhenti.
Dengan cepat Roy mencoba mematikan mesin dan menarik rem tangan.
‘Untung aku bawa mobilnya pelan, kalau cepat bisa mati aku!’ Roy bermonolog.
Roy pun terpaksa berjalan kaki ke rumahnya dn meminta sopirnya untuk membawa mobilnya ke bengkel.
“Mang Surya, mobil saya kayanya remnya blong, tolong bawa ke bengkel ya,” ucap Roy.
“Baik Tuan,” sahut sopir itu.
“Hati-hati ya mang bawanya bahaya soalnya,” ucap Roy.
‘Apes banget aku hari ini,' Roy bermonolog.
Roy pun masuk ke dalam kamarnya dan membuka ponselnya, ternyata ada chat dari Dara.
“Roy udah sampai kamu?” tanya Dara dalam chat.
“Udah, tadi mobilku mogok untung ada pak Ardi bisa jalan lagi mobilku,” balas Roy.
“Syukurlah kamu pulang dengan selamat Roy,” balas Dara lagi.
__ADS_1
“Tapi, tadi saat mau sampai rem mobilku tiba-tiba blong Ra, aneh banget padahal baru aku servis kemarin,” balas Roy lagi.
Sepertinya Dara memiliki firasat buruk namun lagi-lagi dia menyimpannya sendirian dan tidak menceritakan kepada siapa pun.