
Via, Erin, Siska serta Indra berjalan memasuki kelas mereka terlihat seorang guru yang sedang menjelaskan di papan tulis.
Mereka berempat pun kembali duduk di bangku mereka masing-masing, sesekali Roy yang menoleh ke arah Via tampak terlihat Via yang menghela nafasnya dengan raut wajah penuh beban.
‘Ada apa dengan Via? Ulah apa lagi yang ia buat’ batin Roy bertanya-tanya.
Di dalam kelas tampak hening, semua murid yang tengah fokus memperhatikan penjelasan pak guru namun tidak dengan Dara, ia menelungkupkan kepalanya di atas meja dan secara tidak sadar Dara pun tertidur.
Dara yang tertidur mulai bermimpi aneh kembali, saat itu Dara melihat dari kejauhan mang Ujang yang sedang masuk ke toilet wanita, di mimpinya Dara pun segera mencari tahu apa yang di lakukan oleh mang Ujang di sana.
Saat berada di sana Dara tidak melihat keberadaan meng Ujang semua pintu toilet dalam keadaan terbuka tapi tidak dengan toilet yang berada di ujung Dara pun berjalan menghampiri toilet yang pintunya tertutup.
Terdengar rintihan seorang gadis yang meminta tolong di sana, dan selang beberapa menit suara pintu terbuka membuat Dara dengan cepat bersembunyi.
Dara melihat mang Ujang yang keluar dari toilet tersebut sembari membenarkan celananya.
Setelah melihat mang ujang telah pergi Dara pun menghampiri toilet tersebut di sana terlihat Julia dengan baju compang-camping sedang menangis.
“Julia!” pekik Dara yang membangunkannya dari tidurnya.
“Ada apa Dara?” tanya bu guru memperhatikan gelagat Dara yang aneh.
“Ti-tidak apa-apa bu, Dara ijin ke tolet dahulu,” ucap Dara seraya meminta ijin kepada bu guru yang sedang mengajar.
“Iya Dara.”
Dara berdiri dari tempat duduknya berjalan menuju toilet ingin mencuci wajahnya agar tidak mengantuk, karena tadi malam Dara kebetulan tidak dapat tidur.
Sesampainya di toilet wanita Dara berjala menuju washtafel menyalakan keran lalu membasuh wajahnya.
Setelah itu Dara mengambil sapu tangannya yang berada di dalam kantong bajunya melap wajahnya dengan sapu tangannya sembari melihat cermin yang menempel di dinding di atas washtafel.
‘Apa mimpi tadi itu benar?’ Dara yang bermonolog.
Akan tetapi saat dirinya sedang memikirkan mimpi itu Dara di kagetkan oleh sosok arwah Julia yang terlihat di cermin.
Dara pun langsung menoleh ke belakang dan benar saja arwah Julia menapakkan wujudnya kepada Dara.
“Ju-julia?” ucap Dara yang tampak gugup.
“Banyak ke tidak adilan di sekolah ini, dan apa yang kamu mimpikan itu benar,” ujar Julia yang memberikan pesan lewat kata-katanya.
__ADS_1
“Malang sekali nasib mu Julia, sekarang kamu bisa pergi dengan tenang Julia,” ucap Dara yang menatap wajah Julia tampak pucat.
“Aku tidak akan pergi sebelum semua dendamku terbalaskan,” ucap Julia dengan mata yang memancarkan rasa dendam.
Setelah berbicara seperti itu arwah Julia menghilang secara tiba-tiba, sementara Dara pun kembali ke kelasnya untuk melanjutkan pelajaran.
Satu jam telah berlalu bel sekolah berbunyi dua kali menandakan waktu istirahat telah tiba.
Dara yang berserta kedua temannya Toni serta Mia yang tengah menyantap bekal bawaan merek masing-masing sembari berbincang santai.
“Toni, Mia, ada yang ingin aku ceritakan,” kata Dara seraya memasukkan sesendok makan ke mulutnya.
“Cerita apa Dara?” tanya Mia seraya mengunyah makanan yang ada di dalam mulutnya.
“Aku tadi tidak sengaja tertidur di kelas terus bermimpi tentang Julia, aku bermimpi melihat Julia di perkosa mang Ujang di toilet sekolah.
Mendengar perkataan Dara mereka berdua merapatkan duduknya ke tempat Dara.
“Serius Dara?” tanya Toni yang terlihat kaget mendengar ucapan Dara.
“Iya aku tidak bohong,” sahut Dara berusaha meyakinkan Toni.
“Oh iya benar apa kata kamu Mia, aku ingat kasihan Julia malang sekali nasibnya,” ucap Toni yang melepas kaca matanya seraya mengusap matanya yang basah.
“Semua kebenaran ini lama-lama terungkap, tapi kata Via the geng mereka pernah menemukan tespen di toilet saat Julia tengah keluar dari toilet apa gara-gara mereka Julia hamil, dan saat itu memang Julia jarang masuk sering mengalami pusing dan terkadang dirinya merasa mual,” ucap Mia yang mengingat kembali tentang Julia.
“Sudahlah apa pun yang terjadi biarlah telap menjadi sebuah misteri, doakan saja agar Julia dapat tenang di alamnya,” sahut Dara yang enggan mengorek lebih dalam tentang Julia.
Toni serta Mia pun menganggung mereka berdua setuju akan ucapan Dara.
Sementara Via berserta teman-temannya sedang berada di kantin.
Roy menghampiri Via menanyakan perihal dirinya di panggil ke kantor oleh Bu Yasmi.
“Ada apa sampai ibu Yasmi memanggilmu ke kantor?” tanya Roy yang duduk mendekati Via.
“Gara-gara ada yang melaporkan aku bermain Jailangkung dan bodohnya aku lupa membawa boneka itu,” ucap Via yang terlihat kesal.
“Aku sudah bilang kepadamu permainan bodoh itu jangan kalian mainkan dan sekarang kena imbasnya kan aku dengar dari bu Yasmi kalian berempat dapat surat peringatan,” ujar Roy menanyakan kembali kepada Via.
“Sudahlah Roy, aku lagi sedang malas berdapat denganmu,” sahut Via mendengus kesal seraya meninggalkan Roy.
__ADS_1
“Via! Via! Tunggu!” Pekik Roy.
Indra yang melihat mereka berdua tengah berselisih pun menghampiri Roy.
“Sudahlah Roy biarkan saja mungkin Via sedang butuh ketenangan,” ujar Indra sembari menepuk pundak Roy.
“Dari dulu hingga sekarang dia tidak pernah berubah,” sahut Roy yang terlihat kesal.
“Sudahlah jangan terlalu di pikirkan mendingan kita mabar saja menghilangkan kekesalanmu,” ujar Indra yang mulai mengeluarkan ponselnya.
Mereka berdua pun akhirnya bermain game online bersama-sama.
Sesekali Roy terlihat sangat antusias memainkan game itu dan melupakan masalahnya bersama Via.
Sampai akhirnya jam istirahat telah selesai semua siswa pun kembali ke kelasnya masing-masing untuk kembali melanjutkan pelajaran.
***
Berjam-jam telah berlalu pelajaran pun telah selesai bel yang berbunyi beberapa kali memandakkan semua murid dapat pulang.
Seperti biasa Mia yang sedang menunggu Dara yang tengah merapikan alat tulisnya.
“Ayo Dara kita pulang,” ajak Mia.
“Iya Mia,” sahut Dara.
Mereka berdua pun pulang secara bersama-sama.
Saat sedang berjalan Mia kembali teringat akan perkataan Dara terhadap Julia.
“Aku kasihan kepada Julia,” ucap Mia yang meneteskan air matanya.
Dara mencoba menenangkan Mia, Dara tahu Julia adalah teman yang baik untuk mereka.
“Sudah Mia, jangan bersedih mereka yang telah jahat kepada Julia sudah mendapat balasan yang setimpal akan perbuatannya,” ujar Dara seraya mengelus-elus pundak Mia.
“Benar katamu Dara,” ucap Mia menatap Dara dengan tersenyum.
__ADS_1