
Januari 2023 sesudah kematian Julia
Kabar duka kembali terdengar di SMA Tunas Bangsa, Dina yang sempat mengalami koma telah menghembuskan nafas terakhirnya.
Dina pun langsung dibawa pulang dan di makamkan jam 10 siang.
Kabar kematian Dina menjadi luka oleh teman-temannya termasuk Edo kekasih Dina sendiri.
Selepas pulang sekolah Edo bersama yang lain berniat mengunjungi makam Dina.
“Edo!” Pekik Erin.
Edo yang mendengar seseorang memanggil namanya pun menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke belakang.
“Iya Rin, ada apa?” tanya Edo.
“Kamu mau ikut ke makam Dina tidak?” tanya Erin.
“Ini aku mau ke sana?” ujar Edo.
“Kalau begitu kita bareng-bareng saja tunggu yang lain,” ujar Erin yang memberitahukan Edo.
“Ya sudah kita tunggu saja di parkiran sekolah,” sahut Edo yang memberikan saran.
Mereka berdua pun berjalan menuju parkiran sekolah.
Sesampainya di sana Edo berserta Erin menunggu teman-teman yang lain.
Beberapa menit telah berlalu, terlihat Via, Siska, Indra, Kevin serta Roy dari kejauhan.
Siska yang melihat mereka berlima pun segera memanggilnya.
“Via, Siska, Roy, di sini,” pekik Erin dari kejauhan seraya melambaikan tanganannya.
Mereka yang melihat Erin serta Edo pun berjalan menghampirinya.
“Kalian sudah lama menunggu?” tanya Indra.
“Enggak sih,” sahut Erin.
“Oh iya siapa yang tahu Dina di makamkan di mana?” tanya Roy.
“Di TPU Keramat, tempat di mana Julia di kuburkan,” celetuk Siska.
“Ya sudah kalau begitu kita ke temuan di sana, sekalian ke tempat makam Julia,” sahut Roy.
“Ngapain kamu ke sana sayang! Lagi pula Julia sudah satu minggu meninggal dan kita juga sudah ke sana kenapa mau ke sana lagi!” ujar Via yang kesal.
“Ya kan, Dina di kubur satu tempat kenapa tidak sekalian lagi pula Julia juga teman kita,” sahut Roy.
“Terserah kamu!” sahut Via yang marah meninggalkan Roy.
“Via! Tunggu! Aku ikut kamu” Pekik Erin.
“Aduh Roy, Via marah tuh kamu ngomongin Julia terus,” Siska yang mengingatkan Roy.
“Kalian semua dari Julia hidup hingga Julia meninggal enggak ada baik-baiknya dengan dia,” ucap Roy yang membela almarhum Julia.
“Ya sudahlah terserah saja aku mau ikut Via,” Siska yang meninggalkan Roy.
__ADS_1
“Sayang aku ikut,” pekik Indra yang mengejar Siska.
“Kalian berdua mau ikut atau masing-masing?” tanya Roy.
“Aku sendiri saja, Roy pakai motor,” sahut Edo.
“Aku ikut kamu Roy,” ujar Kevin.
Via, Siska, Erin serta Indra pun ikut masuk ke mobil Via.
Sementara Roy di temani Kevin masuk ke mobil milik Roy.
Mereka semua pergi meninggalkan parkiran sekolah menuju ke makan Dina.
Di dalam perjalanan Roy mengajak Kevin mengobrol.
“Aku kasihan dengan Julia dari semasa hidupnya mereka selalu saja membullinya,” celetuk Roy sembari mengemudikan mobilnya.
“Mungkin karena kamu terlalu membela Julia dan simpatik dengan jadi Via cemburu dan tidak suka dengan Julia.”
“Tapi aku hanya menggagap Julia itu temanku dan hubunganku bersama Via sudah cukup lama sejak SMP masa dia masih tidak percaya denganku.”
“Namanya juga wanita Roy, tingkat cemburunya tingi,” sahut Kevin.
“Tapi ngomong-ngomong kematian Dina apa akibat arwah Julia?” ucap Kevin kembali yang merasa takut.
“Sudahlah jangan berfikir yang aneh-aneh Julia sudah tenang di sana,” sahut Roy yang tidak percaya dengan hal mistik.
30 menit telah berlalu mereka semua pun telah sampai di pemakaman Dina.
“Din maafkan aku ya, aku merasa sangat kehilangan kamu kenapa kamu begitu cepat meninggalkan aku,” sahut Edo di atas makam Dina sembari meraba nisan Dina.
Edo tidak kuasa menahan air matanya kenangan bersama Dina begitu membuatnya merasa sangat kehilangan di tambah lagi kesalahan di masa lalu yang tidak Dina ketahuai membaut Edo semakin merasa bersalah kepada Dina.
“Kalian tidak tahu rasanya di tinggal oleh seseorang yang kita sayangi,” celetuk Edo.
Mereka semua mengerti perasaan Edo dan mencoba menguatkan Edo.
“Din maafin kami ya jika ada salah denganmu,” ucap Via yang mewakilkan mereka semua.
“Iya Din aku juga minta maaf,” ujar Siska.
Setelah beberapa menit telah berlalu mereka semua pun kembali pulang ke rumah masing-masing.
Namun tidak Roy, Ia tetap menyempatkan diri ke makam Julia.
“Julia, kamu pasti sudah bahagia di sana. Maafiin Via ya yang terkadang sikapnya kasar denganmu,” ucap Roy dengan senyum sembari mengelus-elus nisan Julia.
Sementara Kevin yang tidak merasa tenang di makam Julia melihat seseorang di balik pohon.
Kevin yang melihat seorang di balik pohon mencoba mengusap-usap matanya meyakinkan apa yang ia lihat itu benar.
Arwah Julia yang memakai seragam putih abu-abu menatap tajam ke arah Kevin dengan wajah pucatnya.
“Roy! Ayo kita pulang,” ucap Kevin yang menarik baju Roy.
“Kamu kenapa sih?” tanya Roy.
“Ayo Roy, kita pulang aku melihat hantu Julia,” celetuk Kevin yang ketakutan.
__ADS_1
Kevin yang merengek-rengek meminta Roy agar cepat pulang pun membuat Roy merasa tidak nyaman.
“Julia aku pulang dulu ya, nanti lain waktu aku ke mari lagi,” ucap Roy sembari mengelus nisan Julia kembali.
“Ayo Roy cepatan kita pulang,” pinta Kevin yang semakin merasa takut karena arwah Julia menatapnya tanpa henti.
“Iya-iya,” sahut Roy.
Mereka berdua pun bergegas meninggalkan makam Julia menuju mobil Roy.
Sesampainya di dalam mobil Roy kembali menjalankan mobilnya meninggalkan TPU Keramat.
Di dalam perjalanan pulang Roy menanyakan kembali perihal Kevin yang merasa ketakutan di makam Julia.
“Kamu kenapa sih kaya orang habis liat hantu?” tanya Roy.
“Aku sudah bilang, tadi di balik pohon besar aku melihat hantu Julia berdiri di sana dan menatap tajam ke arahku,” Kevin yang menjelaskan kepada Roy.
“Kamu kebanyakan nonton film horor jadi mengkhayal yang tidak-tidak. Mana ada hantu siang hari bolong kaya gini.”
“Roy aku serius tidak bohong, arwah Julia menatapku tajam dan penuh kebencian,” Kevin yang meyakinkan Roy.
“Alah itu hanya halusinasimu saja aku tidak percaya,” sahut Roy dengan tawanya menertawakan Kevin.
“Terserah kamu Roy pokoknya tadi aku melihat hantu Julia di sana. Aku tidak mau lagi ke makam Julia.”
Tidak berselang lama Roy pun sampai di depan rumah Kevin.
Kevin pun turun dari mobil Roy.
“Terima kasih ya tumpangannya,” sahut Kevin.
“Yoi,” ujar Roy yang kembali menjalankan mobilnya meninggalkan rumah Kevin.
Malam hari mulai tiba, Edo yang masih merasakan sedih di kamarnya atas kepergian Dina.
Di dalam kamar Edo berdiri di meja kamarnya memandangi Foto dirinya bersama Dina yang terletak di meja.
“Din, aku kangen kamu. Kenapa kamu begitu cepat pergi meninggalkan aku,” celetuk Edo sembari meraba Foto dirinya bersama Dina.
Di saat Edo sedang memandangi Foto Dina mengenang dirinya bersamanya tiba-tiba ponsel Edo pun berbunyi.
“Eh Bro , di mana?”
“Di rumah, ada apa Eki?”
“Eh, Edo ada anak geng motor lain yang ngajak balapan kamu ikut ya taruhannya lumayan ini 5 juta mereka mau ngasih kita kalau kit bisa mengalahkan mereka.”
“Aku tidak ikut, aku lagi bersedih kehilangan Dina.”
“Edo, Edo, dari pada kamu sedih terus menerus mendingan kamu ikut tanding dah dari pada di rumah kepikiran Dina terus. Pokoknya aku tunggu jam 10 di tempat biasa kamu harus datang oke,” ucap Eki sembari menutup teleponnya.
“Hallo Eki, Eki, sial ini anak tidak tahu orang sedang berduka, ya sudahlah aku ke sana. Din aku tinggal dulu ya nanti kalau aku menang aku akan membawakan bunga ke makammu,” ucap Edo sembari mencium foto Dina dan meletakannya kembali di atas meja kamar.
__ADS_1