
Keesokan paginya, Dara bersiap untuk berangkat ke sekolah denga berjalan santai Dara mengitari jalan perkomplekan itu hingga ia sampai di depan pintu gerbang sekolah.
Dara pun berjalan menuju kelas dan duduk di bangkunya, karena masih terlalu pagi Toni dan Mia masih belum datang.
Dara duduk di bangkunya, Tiba-tiba Dara melihat seorang siswi, siswi itu berdiri di ambang pintu kelas sambil menatap tajam ke arahnya.
‘Erlin?’ gumam Dara.
Dara bergegas berdiri dan menghampiri siswi itu namun anehnya siswi itu pergi setelah melihat Dara ingin menghampirinya.
Saat berada di depan pintu Dara kebingungan karena sisiwi yang ia sangka Erlin itu menghilang tanpa jejak.
Padahal lorong kelas cukup panjang, tidak mungkin dengan secepat kilat siswi itu menghilang.
‘Jelas-jelas tadi dia baru pergi, tapi kok hilang begitu aja?’ gumam Dara.
Dara pun kembali ke tempat duduknya, selang beberapa menit beberapa siswa pun berdatangan satu persatu hingga terlihat Roy datang bersama dengan Toni.
“Wah udah disini aja kamu Ra,” ucap Toni.
“Iya kan rumah aku deket,” sahut Dara.
“Oh iya Ra, kaki kamu gak apa-apa?” tanya Roy.
“Iya aku gak apa-apa kok,” sahut Dara.
“Pagi,” sapa Mia yang baru saja datang.
“Udah pada ngumpul aja kalian,” sambung Mia.
Mia pun duduk di kursinya dan melepas tas ranselnya itu.
“Gimana jadi kan pulang sekolah nanti?” tanya Mia.
“Iya aku kayaknya tahu Erlin dimana,” sahut Dara.
“Hah kamu tahu dari mana?” tanya Roy yang mendengar ucapan Dara.
“Aku jelasin juga kamu pasti gak percaya,” sahut Dara.
Dentinh bel sekolah berbunyi, tiba saatnya untuk memulai pelajaran.
Waktu terus berjalan, Dara semakin lama semakin gelisah karena ingin cepat-cepat menemukan tubuh Erlin.
Hingga jam pelajaran terkahir pun berakhir, semua siswa satu per satu keluar gerbang dan pulang ke rumahnya masing-masing.
Tidak terkecuali Dara, Mia, Toni dan Roy.
“Kamu mau ikut?” tanya Mia.
“Ya aku Cuma mau buktikan aja ucapan Toni tentang Dara,” ucap Roy.
Sebelumnya Roy sangan penasaran dan bertanya kepada Toni mengenai ucapan Dara yang sangat yakin akan menemukan Erlin, Toni pun memberitahukan kepada Roy jika Dara memiliki kemampuan spesial yang jarang dimiliki orang lain.
Roy pun merasa tidak percaya dan ingin membuktikannya langsung.
Mereka semua pun berangkat ke jembatan terakhir mereka datangi dengan menggunakan motor, Dara dibonceng oleh Mia sedangkan Roy dan Toni menaiki motor mereka sendiri.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka pun sampai di jembatan itu, mereka semua memarkirkan motor di bahu jalan yang penuh dengan rumput liar.
Dara bergegas mendatangi jembatan itu, Dara melihat di bawah jembatan itu ada jalan kecil.
Dara pun langsung turun ke bawah di susul oleh Toni, Mia dan juga Roy.
Dara berjalan menyusuri pinggiran sungai itu, hari ini arusnya tidak deras bahkan sungai cenderung surut.
‘Erlin kamu dimana?’ batin Dara.
Seakan tahu jika Dara manggilnya, sosok Erlin tiba-tiba muncul dari kejauhan.
“Erlin!” ucap Dara terkejut.
“Hah? Mana ?” tanya Roy.
Di penglihatan Dara Erlin berbalik dan berjalan masuk ke dalam semak, Dara pun lantas mengikuti langkah Erlin.
Sosok Erlin itu seakan ingin menuntun Dara untuk menemukan tubuhnya.
Cukup jauh dan lama Dara berjalan hingga membuat Roy kesal karena dari tadi Dara terus berjalan tanpa memedulikan pertanyaannya.
“Ra kamu mau ngerjain kita ya? Kami di sini udah ngikutin kamu sampai jauh banget tapi mana Erlin yang kamu bilang?” ucap Roy.
“Aku tidak menyuruhmu untuk ikut kamu sendiri yang mau ikut. Jadi kalau kamu gak mau ya sudah pulang aja!” ucap Dara kesal.
Roy pun seketika terdiam dan memilih untuk tetap mengikuti Dara.
Dara terus berjalan hingga ia tidak melihat sosok Erlin lagi.
Dara mengingat lagi penglihatannya dan ia ingat di pinggir sungai ada pohon yang tumbang dan setengah badan pohon itu berada di sungai.
Tepat di sebelahnya terdapat pohon yang cukup besar tengah tumbang persis dengan penglihatannya tadi malam.
Dara dan Toni pun mendekati pohon itu.
“Ra! Itu,” tunjuk Toni.
Terlihat ada yang tersangkut di bawah dahan pohon yang terendam air sungai itu, posisinya cukup jauh mengingat pohon itu cukup besar.
Toni mencari ranting kayu dan mencoba mendorong-dorong sesuatu yang tersangkut tersebut hingga sebuah tangan terangkat ke permukaan air.
“Orang! Itu orang!” teriak Toni.
“Apa ini Erlin?” tanya Mia.
“Sepertinya ini Erlin,” sahut Dara.
Dengan cepat Toni mengambil ponselnya dan menghubungi polisi.
Setengah jam kemudian dari lokasi mereka terdengar suara ngiungan sirine dari mobil polisi dan juga ambulan.
Tim penyelamat juga di kerahkan untuk mengangkat tubuh yang tersangkut di bawah pohon tumbang itu.
Saat tubuh itu di angkat terlihat jelas tubuh seorang wanita yang sudah membiru dan membengkak, mulutnya pun mengaga.
Mia dan Dara langsung menitikkan air mata melihat mayat yang di angkat itu memang benar teman sekelas mereka Erlin.
__ADS_1
Kantung orange pun di siapkan, tubuh Erlin itu pun di masukkan dan di bawa masuk ke dalam mobil ambulan.
Banyak orang yang berkerumun di atas jembatan untuk melihat apa yang tengah terjadi.
Dara dan teman-temannya pun dimintai keterangan atas kejadian tersebut.
“Bagaimana bisa kalian menemukan mayat tersebut?” tanya salah satu polisi.
“Sebenarnya kami sudah dari kemarin mencari Erlin, lalu kami menemukan potongan kain ini di besi pembatas yang ada di jembatan, Kain ini mirip dengan kain seragam sekolah kami. Jadi saya dan teman-teman saya berencana mencarinya lagi hari ini,” tutur Dara.
“Kami mencoba turun ke bawah, kami hanya berpikir jika teman kami itu kabur ke semak yang ada di bawah jembatan, tapi saat kami sampai di pohon ini kami melihat ada sesuatu yang menyangkut di bagian bawahnya,” ucap Toni.
“Baiklah kalau begitu kesaksian kalian akan saya simpan untuk bahan pemeriksaan, sementara ini jenazah akan kami bawa ke rumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut,” sahut polisi itu.
“Terima kasih karena kalian mau memberikan keterangan. Saya permisi dulu.”
Para polisi itu pun pergi membawa tubuh Erlin yang sudah tidak bernyawa itu.
Sementara Dara dan teman-temannya bergegas pergi karena tidak ingin orang-orang yang ada di sekitar menanyai mereka denga berbagai pertanyaan.
Motor mereka melakukan menuju sebuah tempat, tepatnya sebuah cafe yang ada di pinggir jalan.
Mereka pun berhenti di cafe itu untuk menenangkan pikiran sejenak.
Mereka duduk dan memesan camilan serta minuman yang ada di sana.
“Oke sekarang aku percaya sama apa yang kalian ucapkan,” ucap Roy.
“Aku gak nyangka kalau Erlin bakalan berakhir dengan cara kaya gini,” ucap Mia yang masih sesenggukan menagis.
“Kita doakan saja semoga amal ibadahnya di Terima di sisi Allah SWT,” ucap Dara.
“Aamiin,” sahut mereka serentak.
Keesokan paginya, jenazah Erlin pun di antar ke rumah duka, proses identifikasi sudah selesai dan Erlin dinyatakan bunuh diri dengan terjun ke bawah jembatan.
Para siswa yang ada di kelas pun di beritahu oleh wali kelas jika Erlin meninggal dan akan di kebumikan siang ini, kepala sekolah pun mengizinkan teman seeklas Erlin untuk melayat ke rumahnya.
Begitu pula dengan Dara, Mia dan juga Toni mereka bahkan lebih dulu berada di rumah duka.
Isak tangis mengiringi proses pemakaman Erlin, bahkan ibu Erlin sampai pingsan karena tidak sanggup menahan kesedihannya.
Jenazah Erlin pun sudah siap untuk di antara ke tempat peristirahatan terakhirnya, banyak siswa yang bersedih dan merasa kasihan dengan Erlin karena harus mengakhiri hidupnya padahal usianya masih sangat muda.
Beberapa guru juga menyayangkan tindakan Erlin, tapi apa mau dikata nasi sudah menjadi bubur.
Tubuh Erlin sudah terbujur kaku dan sudah mendapat tempat terindah di sisi-Nya.
Dara sempat menitikkan air mata saat tubuh Erlin di masukan ke luang lahat dan dikubur.
Dara menatap semu gundukkan tanah Merah bertabur bunga itu, hingga Roy menyadarkannya.
“Ra jangan melamun. Udah selesai ayo kita balik ke sekolah,” ajak Roy.
Dara pun menganggukkan kepalanya dan mengikuti Roy dari belakang.
Roy pun membonceng Dara hingga sampai ke sekolah, pemandangan tak biasa itu pun tertangkap oleh banyak mata termasuk Via.
__ADS_1