Haunted School

Haunted School
Isyarat dalam mimpi


__ADS_3

Di malam itu saat Dara telah selesai mengerjakan PR Kimia yang di berikan oleh pak guru Ardi, sesekali Dara mulai menguap merasakan kantuk yang tidak tertahankan lagi.


Dara merapikan buku pelajarannya, setelah itu dirinya beranjak dari meja belajarnya menuju tempat tidurnya. Ia mulai merebahkan tubuhnya di atas tempat tidurnya terlihat sayup-sayup mata Dara sampai akhirnya ia pun terlelap.


Dara yang tertidur mulai bermimpi aneh kembali dalam mimpinya Dara melihat Julia sedang di gauli seseorang pria di dalam kamar, pria itu tampak sedang menikmati tubuh Julia dengan nafsunya sementara Julia yang sedang berada di bawah terlihat matanya berkaca-kaca dan air matanya mengalir membasahi pipinya.


Di mimpinya Dara tidak dapat melihat sosok pria tersebut karena pria itu membelakangi dirinya.


Terdengar suara Jam beker yang berada di atas meja kamar Dara membuat dirinya terbangun dari mimpi yang membuatnya pilu.


Dara yang duduk di pinggir tempat tidurnya mengambil jam beker yang ada di atas meja lalu mematikannya, ia masih teringat akan mimpinya yang sangat pilu tersebut.


‘Kasihan kamu Julia, semasa kamu hidup kamu sering di perlakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab,' ujar Dara bermonolog.


Dara yang sangat prihatin kepada masa lalu Julia membuat air matanya jatuh.


CEKLEK


Suara pintu terbuka


“Dara kamu belum mandi sayang,” ujar ibunya yang tiba-tiba masuk ke kamarnya.


“Belum Bu,” sahut Dara yang dengan cepat mengusap air matanya.


“Kamu kenapa sayang, kok menangis pagi-pagi,” ucap ibunya seraya menghampiri Dara duduk di sampingnya.


“Enggak apa-apa Bu,” sahut Dara sembari tersenyum ke arah ibunya.


“Ayo cerita sini sama ibu, ada apa. Apa di sekolah kamu mendapat masalah Nak?”


“Enggak Bu, Dara hanya ingat dengan Julia anak yang meninggal bunuh diri di toilet sekolah itu bu, Dara kasihan kepadanya,” ujar Dara seraya meletakkan kepalanya di atas bahu ibunya.


“Apa pun yang terjadi di masa hidupnya Julia kita doakan saja agar Julia mendapat tempat yang layak di sisinya,” ujar Ibunya sembari mengelus kepala Dara.


“Ya sudah ayo segera mandi sana nanti kamu telat,” perintah lembut ibunya.


“Iya Bu, Dara mandi dahulu,” sahut Dara yang bergegas meninggalkan ibunya pergi ke kamar mandi.


Dara pun pergi ke kamar mandi, setelah selesai mandi ia pun memakai baju seragam sekolahnya barulah pergi keluar kamar menuju meja makan.


Di sana sudah ada ibunya yang menunggunya sedari tadi.


Dara menikmati sarapan paginya bersama sang ibu dengan obrolan santai.


“Bu kapan ayah pulang, Dara kangen sama Ayah?”


“Kemungkinan tahun depan Ayah baru bisa cuti Dara.”


“Yah lama sekali,” eluh Dara.


“Ya ayahmu seorang abdi negara yang harus mengabdikan dirinya kepada negara dan tidak bisa semaunya,” kata Ibunya memberikan nasehat kepada Dara.


“Iya Bu.”


“Oh iya, seperti Roy anak yang baik, apa kamu suka dengan Roy” ledek ibunya tersenyum kepada Dara.


“Apa sih ibu, Dara dengan Roy hanya sebatas teman, hanya teman ya Bu,” ujar Dara mengingat kejadian di gudang sekolah yang membuatnya harus menjaga jarak dengan Roy.


Jam sudah menunjukkan pukul 07.00, Dara yang telah selesai sarapan pun segera pergi ke sekolah.


“Bu Dara berangkat dulu ya,” ucap Dara yang mencium pipi serta pundak tangan ibunya.


“Ini bekalnya,” kata ibunya yang memberikan bekal yang telah di siapkan oleh ibunya.


Dara mengambil bekal dari tangan sang ibu lalu pergi menuju sekolah.

__ADS_1


Sesampainya di sekolah Dara yang sedang duduk di bangkunya seraya membaca buku di hampiri oleh Roy.


“Asik banget baca bukunya,” Roy yang tiba-tiba duduk di samping Dara menegurnya.


“I-iya,” ucap Dara dengan singkat.


Dara yang teringat akan kejadian di gudang tersebut tidak mau mengambil masalah lagi dengan Via, walau pun saat itu dirinya di tolong oleh arwah Julia.


“Eemm, Dara kamu sibuk tidak selepas pulang sekolah? Kalau tidak sibuk bisa teman aku mencari buku?” ujar Roy seraya menatap Dara yang sedang membaca buku.


“Seperti iya Roy, aku harus membantu ibu di rumah,” ujar Dara yang mencoba menghindari Roy.


Via yang melihat mereka dari kejauhan pun segera menghampirinya bersama kedua temannya Indra dan juga Siksa.


“Ehem, ada cewek yang gak tahu diri nih mendekati pacar,” Via berdehem seraya menegur Dara.


“Permisi maaf,” ucap Dara yang pergi meninggalkan mereka.


“Dara tunggu!” pekik Roy.


Dara tidak menghiraukan Roy, ia terus berjalan keluar kelas.


“Apa-apa sih kamu Via, bicara seperti itu kepada Dara?” ujar Roy yang tampak kesal.


“Ohhh rupanya kamu membela wanita sialan itu ya, apa wanita itu sudah menggoda kamu Roy sampai kamu seperti itu kepadaku.”


“Apaan kamu Via, Dara wanita yang baik, tidak seperti apa yang kamu pikirkan kamu yang tidak baik selalu berpikir negatif kepada orang lain.”


“Oooo begitu ya, wanita baik-baik katamu, tidak ada wanita baik-baik yang mengganggu hubungan kita dan menggoda pacar orang,” ucap Via yang terlihat kesal.


“Sudah aku cepek dengan sikapmu yang semakin lama semakin aneh,” sahut Roy yang pergi meninggalkan Via.


“Awas kamu Dara,” celetuk Via yang kesal.


“Sudah Via, kita jangan mengganggu Dara lagi, nanti arwah Julia akan datang lagi,” tegur Indra.


“Iya benar apa yang di katakan Via, apa jangan-jangan kamu yang suka dengan Dara semenjak kejadian di gudang itu?” Siska yang mulai menaruh rasa curiga kepada Indra.


“Tidak sayang, aku itu hanya cinta kepadamu kan kamu yang menyuruhku untuk memberi pelajaran kepada Dara?” kata Indra yang mengingatkan ucapan Siska kembali di saat berada di gudang itu.


“Awas saja jika kamu menaruh hati kepada Dara?” ancam Siska.


“Enggak kok tenang aman,” sahut Indra seraya mencubit dagu Siska.


Sementara di sisi lain Roy yang sedang berjalan melihat Dara sedang duduk di atas tangga sembari menangis.


Roy mencoba mendekati Dara duduk di sampingnya.


“Ini untuk menghapus air matamu,” ujar Roy yang memberikan tisu di kepada Dara.


“Terima Kasih,” ujar Dara mengambil tisu dari tangan Roy.


Tidak bisa di ungkiri jika Dara memang menaruh rasa kepada Roy namun melihat Roy sudah memiliki kekasih Dara pun menepis rasa itu jauh-jauh, apa lagi setelah Via berserta kawan-kawan yang mengancam dirinya membuat dirinya tidak ingin mendapat masalah kembali.


“Maaf ya tadi Via berkata kasar kepadamu,” ujar Roy yang merasa bersalah.


“Tidak apa-apa Roy, aku yang salah, seharusnya menjaga jarak denganmu agar Via tidak marah.”


“Dia saja yang terlalu berlebihan dulu, dulu aku dan Julia juga sempat dekat seperti mu tapi Via selalu menggagap aku dengan Julia ada hubungan, sebenarnya aku sudah kesal dengan sikapnya yang seperti itu. Pernah suatu saat aku mengakhiri hubungan toksik ini tapi dia selalu mengancam akan bunuh diri dan benar saja saat itu Via meminum banyak obat penenang dan sempat di rawat di rumah sakit, semenjak kejadian itu aku tidak berani untuk meninggalkannya dia wanita tergila yang pernah aku kenal,” Roy yang bercerita kepada Dara.


Dara tersenyum kepada Roy dan berkata.


“Mungkin karena Via sangat sayang kepadamu Roy, sehingga dirinya berbuat seperti itu. Via tidak mau kehilanganmu Roy,” ujar Dara yang tersenyum kepada Roy.


“Kamu mengingatkan aku dengan Julia, Julia pun pernah berkata begitu kepadaku saat itu,” sahut Roy yang mengingat perkataan Julia.

__ADS_1


Tidak lama bel berbunyi semua siswa dan siswi berjalan masuk ke dalam kelas termasuk Dara yang berjalan lebih dahulu.


Setibanya Dara di kelas dan tidak lama Roy pun tiba di dalam kelas.


Dara yang berjalan menuju tempat duduknya.


Tidak lama pak guru Ardi datang.


“Selamat pagi semuanya, cepat kumpul PR kalian!” perintah pak Ardi.


“Iya pak?” sahut semua murid dengan serentak.


Satu persatu para murid berjalan membawa PR mereka yang di kumpulkan di meja guru.


“Ini bapak koreksi dulu PR kalian semuanya, sambil menunggu hasilnya kalian bisa kerjakan halaman 10 sampai halaman 12,” perintah pak Ardi.


“Iya pak,” sahut serentak seluruh murid.


Kelas terasa hening para siswa sedang fokus mengerjakan tugas yang di berikan oleh Pak Ardi.


Pak Ardi adalah seorang guru paling muda yang mengajar Kimia, pak Ardi sendiri mengajar di sekolah Tunas bangsa baru menginjak tiga tahun, tidak hanya itu di samping guru yang paling muda pak Ardi juga memiliki wajah yang tampan dan lebih dekat dengan murid-muridnya serta baik sehingga pak Ardi menjadi idola para muridnya terutama para Siswi.


Satu jam telah berlalu di saat jam pelajaran pak Ardi selesai hal janggal yang di lihat oleh Dara.


“Pelajaran Kimia kita akhiri sampai di sini dahulu, ketemu lagi lusa sedang bapak dan jangan lupa lusa kita ada ulangan harian,” ujar Pak Ardi.


“Yah Bapak,” eluh para murid.


Pak Ardi berjalan meninggalkan kelas XI C, menuju pintu kelas saat pak Adri membuka pintu kelas Dara melihat arwah Julia yang mengikuti pak Ardi dari belakang.


‘Julia,' batin Dara.


Pak Ardi menutup kembali pintu kelas lalu berjalan menuju kantor.


***


Beberapa jam telah berlalu bel pun berbunyi kembali waktu istirahat telah tiba.


Via menggandeng tangan Roy keluar dari kelas menuju kantin, Roy yang sekilas memperhatikan Dara yang sedang makan bersama dengan Mia serta Toni.


Dara yang saat itu berpura-pura tidak meliat Roy.


‘Maafkan aku ya Roy, andainya kamu tahu isi hatiku,' batin Dara.


“Dara, Dara,” panggil Mia.


“Eh, Iya Mia,” sahut Dara.


“Makan kok melamun? Apa yang sedang kamu pikirkan?” tanya Mia.


“Enggak apa-apa, oh iya aku baru ingat?” tadi malam aku mimpi Julia,” kata Dara.


“Julia? Kamu mimpi apa Dara?” tanya Mia.


“Aku mimpi Julia sedang di setubuhi oleh pria di kamar,” kata Dara.


“Kamu tahu siapa pria itu?” tanya Mia.


“Sayangnya aku tidak liat, pria itu membelakangi, eh tapi aku ingat sesuatu di saat pria itu memegang tangan Julia aku melihat bekas luka bakar di pergelangan tangan pria itu,” sahut Dara yang mencoba mengingat mimpinya tadi malam.


“Kasihan Julia, kenapa orang-orang begitu jahat kepadanya. Pasti di kala dirinya hidup Julia amat tersiksa,” celetuk Toni yang merasa kasihan kepada sahabat baiknya itu.


“Malang sekali nasibnya harus memikul sendiri walaupun di masa hidupnya Julia tertekan namun aku selalu melihatnya ceria, Julia menutupi kesedihannya dari kami berdua,” sahut Mia dengan mata berkaca-kaca.


“Maaf ya aku jadi membuat kalian sedih, bukan maksudku membuat kalian sedih dan mengingat kepahitan di saat Julia masih hidup,” Sahut Dara merasa bersalah.

__ADS_1


“Tidak apa-apa Dara, aku tahu misteri ini belum berakhir dan harus secepatnya di selesaikan agar Julia dapat beristirahat dengan tenang,” kata Toni.


Selang beberapa menit bel kembali berbunyi tanda waktu istirahat telah berakhir, semua murid pun kembali ke tempat duduk mereka masing-masing. 


__ADS_2