
Malam hari terasanya panas Siska yang sedang bersantai di kamarnya pun keluar dari kamarnya ia merasa AC di kamar tidak dapat membuat dirinya merasa sejuk.
“Panas malam ini, lebih baik aku berenang saja mendinginkan tubuhku,” ujar Siska melepas baju tidurnya menggantinya dengan baju renang.
Lalu membalut tubuhnya dengan handuk, ia pun secara tidak sadar melepas jimat yang di berikan mbah Kusno di letakkannya di atas meja, setelah itu Siska berjalan keluar kamarnya menuju kamar mandi.
Sesampainya di kolam renang Siska melepas handuknya lalu memasukkan tubuhnya di kolam renang.
“Segar sekali,” ucap Siska yang sedang berenang santai seraya menikmati air kolam yang segar.
Siska pun berenang dengan beberapa gaya renang yang ia kuasai.
Saat dirinya tengah asyik berenang Siska merasakan kakinya seperti ada yang menyentuhnya, ia pun memperhatikan di sekeliling kolam renang namun tidak ada apa-apa di sana Siska melanjutkan berenangnya kembali.
15 menit telah cukup baginya untuk membuat tubuhnya menjadi segar, Siska menuju tangga yang berada di pinggir kolam renang untuk segera naik ke atas.
Saat dirinya telah tiba di tangga itu, Siska mulai menaiki anak tangga yang berada di kolam renang, kakinya mulai melangkah ke anak tangga namun secara tiba-tiba ada sebuah tangan yang berwarna pucat keluar dari kolam renang itu lalu memegang kaki Siska dan menariknya ke dasar kolam.
Tubuh Siska pun terbawa hingga ke dasar kolam, saat di dasar kolam Siska menoleh ke belakang ternyata kakinya sedang di pegang oleh Julia.
Siska yang takut pun mulai meronta berusaha melepaskan pegangan Julia dari kakinya, ia berusaha ke permukaan untuk mengambil nafas. Namun genggaman yang kuat dari tangan Julia tidak mampu ia lepaskan, Siska yang mulai kehabisan nafas mulai menendang-nendang tangan Julia namun tetap saja tidak dapat melepasnya hingga ia mengalami hipoksia di mana rendahnya tingkat oksigen yang masuk jaringan di dalam tubuh mulai merasa tubuhnya mulai lemas pandangannya pun mulai buram, wajahnya terlihat memucat hingga akhirnya Siska mengembuskan nafas terakhirnya di dasar kolam renang.
Sejam kemudian ibunya mencari dirinya untuk mengajaknya makan malam, sang ibu berjalan menuju kamar Siska.
“Siska ayo makan malam sayang ibu sudah menyiapkan makan malam kesukaanmu,” ucap ibunya di depan pintu kamar Siska seraya mengetuk kamarnya.
Tidak ada jawaban dari Siska, ibunya pun mengulangi ajakan makan malam kepada Siska.
“Ayo Nak, makan apa kamu sudah tidur?” tanya ibunya.
Namun tetap saja tidak ada jawaban dari Siska, ibunya pun membuka kamar Siska.
“Ke mana ini anak, bukannya tadi perasaan ada di kamar?” ujar ibunya yang melihat Siska tidak ada di kamar.
Ibunya pun berjalan ke dapur terlihat bi Minah yang sedang menyiapkan masakan untuk makan malam.
“Bi liat Siska, perasaan tadi dia di kamar?” tanya ibunya.
“Non Siska nyonya, saya tidak lihat apa mungkin sedang berada di kolam renang,” celetuk bi Minah yang sedang membawa mangkuk berisi sup.
“Coba Bibi lihat di kolam renang, nanti kalau ada Siska bilang saja di tunggu ayah dan ibu di meja makan!” perintah ibunya kepada bi Minah.
“Sini mangkuk supnya biar saya bawa ke meja makan,” sambung ibunya membantu bi Minah
__ADS_1
“Baik nyonya,” ujar Bi Minah seraya memberikan mangkuk sup yang ia bawa.
Bi Minah pun berjalan menuju kolam renang, bi Minah berteriak memanggil Siska dan dirinya pun masih belum sadar.
“Non Siska! di tunggu tuan dan nyonya di meja makan,” pekik bi Minah berjalan mendekati kolam renang.
Saat bi Minah telah mendekati kolam renang namun tidak melihat Siska di sana.
‘Di mana non Siska ya?’ batin bi Minah yang bertanya-tanya.
Setelah itu bi Minah mencoba mendekati kolam renang itu lebih dekat sampai ke pinggir kolam.
“Astagfirullah, non Siska. Nyonya dan Tuan non Siska!” teriak bi Minah.
Bi Minah melihat tubuh Siska yang berada di dasar kolam renang.
Kedua orang Siska yang mendengar teriakan bi Minah
“Mas, kamu dengar terakan bi Minah?”
“Iya aku mendengarnya.”
“Ayo kita hampiri Mas.”
Kedua orang tua Siska pun segera berdiri dari tempat duduknya menghampiri bi Minah.
“Ada apa Bi, tadi aku lihat bibi berteriak-teriak.”
“A-anu tuan Heru, non Siska ada di dasar kolam tadi bibi melihatnya,” ujar bi Minah yang gugup.
Heru segera berlari lalu menceburkan dirinya ke kolam renang. Saat berada di dasar kolam Heru melihat anaknya tergeletak di dasar kolam, Heru yang melihat itu pun segera menarik jasad Siska ke atas permukaan.
“Lisa, bi Minah bantu aku,” pekik Heri yang membawa tubuh Siska.
Mereka berdua membantu Heru menarik tubuh Siska ke tepi kolam.
Heru segera memberikan pertolongan pertama CPR, akan tetapi Siska tetap saja tidak sadarkan diri Heru mencoba mengulanginya kembali.
“Cepat telepon ambulan!” perintah Heru yang tetap tidak berhasil.
Lisa istrinya segera mencari bantuan dengan menelepon ambulan.
Mereka bertiga panik, sementara Heru masih saja mencoba menolong putrinya yang tidak sadarkan diri sampai ambulan pun datang.
__ADS_1
Para tim medis keluar dari mobil membawa peralatan yang dibutuhkan dan memberi pertolongan pertama untuk Siska.
30 menit telah berlalu namun tidak ada tanda-tanda dari Siska jantungnya tidak lagi berdetak, raut wajahnya pun sudah terlihat memucat sampai akhirnya Siska tidak dapat di selamatkan.
“Maafkan kami segala upaya telah kami lakukan tapi kami tidak menolong anak bapak serta ibu,” ujar salah satu petugas medis.
Teriak pilu memecah tempat itu di kala mereka mendengar Siska tidak dapat di selamatkan.
“Siska, bangun Nak. Ini ibu ayo bangun,” pekik Lisa seraya memeluk jasad Siska.
Air mata Lisa pun menetes melihat anak yang ia sayangi telah pergi untuk selamanya.
“Sudah sayang,” ucap Heru yang mengusap bahu sang istri.
“Siska Mas, Siska,” sahut Lisa seraya tidak kuasa menahan kesedihannya serta air matanya.
Dari kejauhan terlihat arwah Juli yang berdiri di tepi kolam renang sedang tersenyum melihat kematian Siska.
Malam itu adalah malam yang sangat menyayat hati bagi kedua orang tua Siska.
Keesokan harinya Siska pun di makamkan, kabar kematian Siska menjadi kabar duka di SMA Tunas Bangsa, apa lagi Via serta yang sangat terpukul atas kematian Siska.
Di jam kosong terlihat Indra yang sedang duduk sendiri di bangku belakang paling pojok. Via yang melihat Indra yang sangat terpukul atas kepergian Siska pun segera menghampirinya.
“Ndra, aku tahu kamu sangat terpukul dengan kepergian Siska, aku pun iya dari Dara, Edi, Erlin, dan kini Siska,” ujar Via yang duduk di samping Indra.
“Sudahlah Via, mungkin kini giliranku yang akan mati menyusul Siska,” ujar Indra yang tampak depresi.
“Kenapa kamu bilang begitu, kita masih punya jimat ini Ndra.”
“Apa jimat kamu bilang Via, jimat ini tidak berfungsi jika berfungsi maka Siska tidak akan mati, sudahlah terima takdir saja aku tidak butuh jimat ini lagi dan aku akan menyusul Siska pergi,” ucap Indra yang putus asa.
“Ndra sadar, kini hanya tinggal kita berdua yang masih selamat Ndra ayo buka pikiranmu,” ujar Via.
“Sudahlah untuk apa aku hidup jika Siska pergi meninggalkan aku untuk selamanya,” ujar Indra yang benar-benar sangat depresi kehilangan Siska.
“Ndra aku tahu kamu sangat menyayangi Siska tapi tidak seperti itu juga kamu masih bisa move on Ndra, masih bisa mencari penganti Siska,” ujar Via yang memerikan Indra semangat.
“Kamu tidak akan mengerti Via, tolong tinggalkan aku sendiri,” ucap Indra seraya menetaskan air matanya mengingat kenangannya bersama Siska.
“Baiklah mungkin saat ini kamu butuh sendiri Ndra, dan aku harap jangan berlarut-larut dalam kesedihan,” sahut Via yang meninggalkan Indra duduk sendiri di bangku itu.
Via pun kembali ke tempat duduknya, Via menatap bangku teman-temannya yang telah pergi meninggalkannya, Via teringat akan kenangan-kenangan bersama mereka.
__ADS_1