Haunted School

Haunted School
Julia yang malang


__ADS_3

Julia meninggalkan mereka berdua masuk ke dalam mobil.


“Ayo Yah kita pulang,” ucap Julia.


“Iya sanga,” sahut Bagas yang mulai menjalakan mobilnya menuju rumah.


Sementara Toni berserta Mia tidak dapat mengejar mobil Julia.


Mereka berdua pun mulai berdebat satu sama lain.


“Kamu sih Mia, Julia jadi marah kan sama kita,” Toni yang menyalahkan Mia.


“Kok aku sih kamu juga malah mengingatkan Julia pada waktu di kunci di kamar mandi,” ujar Mia yang tidak mau di salahkan.


“Aku kan hanya khawatir dengan dia?” ucap Toni.


“Iya aku juga Toni, Julia anak yang baik, ya sudahlah dari pada nanti dia jadi marah dengan kita berdua sebaiknya kita berdoa saja semoga Julia tidak kenapa-kenapa,” celetuk Mia.


Sementara di sisi lain di dalam perjalanan menuju rumah Julia memberanikan dirinya berbohong kepada Ayahnya.


“Yah, Sabtu ini sekolah mau mengadakan study tour sampai hari minggu dalam rangka merayakan kenaikan kelas Julia boleh ikut ya,” Julia mulai berbicara bohong kepada sang ayah.


“Lama sekali sayang, bisanya sehari saja sore pulang,” tanya Bagas.


“Iya Yah kali ini perjalanannya jauh jadi memakan waktu yang lama.”


“Bagaimana jika ayah antar saja.”


“Tidak usah yah, nanti Olivia yang menjemput Julia berserta yang lain lagi pula Julia sudah besar Yah, jadi ayah tidak usah khawatir.”


Bagas menoleh ke arah Julia dengan tersenyum, Bagas mencoba untuk percaya dengan Julia dan tidak terlalu mengekangnya.


“Ya sudah jika begitu, hati-hati di sana ya sayang, jangan lupa pamit dengan ibumu,” sahut Bagas menasihati Julia.


“Iya Yah, terima kasih ayah, ayah memang yang terbaik,” sahut Julia memeluk sang ayah yang sedang menyetir.


Sesampainya di rumah Julia di sambut oleh ibunya.


“Bagaimana hasil rapornya sayang?” tanya Ayu kepada Julia.


“Ini ibu liat,” ucap Julia yang memberikan hasil rapornya kepada sang ibu.


Ayu pun mengambil dan membuka hasil rapor Julia. Terlihat senyum Ayu saat membuka rapor Julia dengan nilai yang bagus.


“Bu Julia minggu ini mau pergi, sekolah mau mengadakan study tour, Julia boleh ikut ya,” ucap Julia meminta ijin kepada Ibunya.


“Iya sayang,” sahut Ayu tersenyum.


“Tapi hari minggu Julia pulangnya.”


“Kenapa lama sekali?”


“Perjalanannya jauh Bu, boleh ya Bu Julia ikut,” Julia yang menanyakan kembali.


“Ya sayang, tapi ingat di sana hati-hati ya,” Ayu yang memberi pesan kepada Julia.


“Iya Bu.”


Beberapa hari telah berlalu tiba di sabtu pagi terlihat sebuah mobil hitam berhenti di halaman rumah Julia.


Seseorang pun keluar dari dalam mobil tersebut ternyata mereka adalah teman Julia satu kelas Olivia, Erin, Siska, dan Dina mereka berempat berjalan menuju depan pintu rumah Julia.


“Julia! Julia!” pekik Dina memanggil Julia sembari mengetok pintu rumah.


“Iya sebentar!” pekik Julia dari dalam rumah.


Julia pun dengan segara berjalan menuju pintu utama.


Ceklek 


Suara pintu di buka.


“Oh kalian ayo masuk,” Julia yang mempersilahkan teman-temannya masuk.


“Kami tunggu di luar saja,” ucap Via.


“Tunggu ya aku pamit sama ibuku terlebih dahulu.”


“Iya Julia,” sahut Via.


Julia masuk ke dalam rumah dan meminta ijin kepada ibunya.


Ayu mengantar Julia sampai di depan pintu utama.


“Hati-hati ya sayang,” ucap Ayu sembari mencium pipi Julia.


“Iya Bu, Julia pergi dulu,” sahutnya seraya mencium punggung tangan sang ibu.


 Julia berserta yang lain pun masuk ke dalam mobil Via dan pergi menuju rumah Via.


Di dalam perjalanan mereka semua berbincang-bincang santai.


“Yah aku tidak satu kelas lagi dengan kalian,” ucap Dina dengan raut sedih.


“Sudahlah tidak apa-apa kan masih satu sekolah,” celetuk Siska.


“Iya nilai IPA ku lebih rendah jadi aku tidak bisa masuk dengan kalian,” eluh Dina.

__ADS_1


“Tidak apa-apa Din, kita masih bisa kumpul di jam sekolah,” ucap Julia.


“Tapi aku tidak bisa mencotek lagi dengan mu,” sahut Dina.


Julia yang mendengar ucapan Dina pun tersenyum. 


Tidak hanya pintar Julia pun mau berbagi contekan jika teman-teman dalam kesusahan pelajaran, dan tidak hanya itu saja Julia murid yang di sayangi oleh para guru.


 Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di rumah Via.


“Ayo masuk kalian bebas mau ngapain saja di rumah ku kebetulan kedua orang tua ku sedang pergi keluar kota,” ujar Via berbicara kepada mereka semua.


Tidak berselang lama ponsel milik Via pun berbunyi.


Via segera merogoh tasnya dan mengambil ponselnya terlihat nama Roy di yang sedang memanggilnya. 


“Hallo Via.”


“Iya Roy ada apa nanti malam kita jadi kan?” tanya Via.


“Jadi dong, oh iya bagaimana jika kita pestanya di puncak vila papahku.”


“Wah ide bagus itu Roy.”


“Ya sudah lebih baik kalian semua kemari sekarang, aku, Kevin, indra serta Edo sudah menunggu di sini. ”


“Oke deh kita meluncur ke sana,” sahut Via menutup ponselnya.


Via memberitahukan kepada teman-temannya untuk pergi ke villa milik Roy yang berada di puncak.


Merek semua pun akhirnya pergi ke puncak menaiki mobil milik Via.


Dan di sini Via sendiri yang mengemudiankan mobilnya.


 Satu jam telah berlalu mereka semua telah sampai di Vila milik Roy.


Mereka berempat keluar dari mobil dan masuk ke Villa terdapat kolam renang di area Vila tersebut di tambah lagi pemandangan hutan pinus mengelilingi Vila serta udara yang sangat sejuk.


Terlihat raut wajah bahagia tampak di wajah Julia, mereka berfoto bersama bercanda bersama hingga tidak terasa malam mulai tiba.


Kevin serta Dino telah menyiapkan minuman beralkohol untuk menambah pesta mereka agar semakin meriah.


Di ruang keluarga mereka mulai duduk dengan pasangan mereka masing-masing.


Via bersama Roy, Kevin bersama Erin, Indra bersama Siska dan Edo bersama Dina.


Julia hanya bisa melihat mereka semua yang sedang merangkul pasangannya masing-masing sesekali terlihat mereka saling ciuman satu sama lain.


Melihat hal tersebut Julia merasa canggung karena ia adalah sosok gadis yang masih lugu.


Via mengambil sebotol minuman beralkohol dan di tuangkan di gelas.


“Tidak Via, aku tidak bisa minum itu,” sahut Julia dengan wajah polosnya.


Mendengar ucapan Julia mereka semua menertawakan Julia.


“Ayo minum katanya kamu mau bersemang-senang di sini” celetuk Siska yang kembali menyodorkan segelas minuman beralkohol.


“Tidak kalian saja, aku sudah cukup senang bisa berkumpul dengan kalian,” sahut Julia yang menolak minuman tersebut.


“Ayo minum cepat Julia,” ucap Dina menyodorkan gelas berisi minuman itu kw mulut Julia.


Julia yang tidak bisa berbuat apa-apa pun akhirnya menimunnya.


“Iya tapi sekali saja ya,” ujar Julia mengambil gelas itu dari tangan Dina.


Julia pun menenggak minuman beralkohol tersebut.


Setelah itu mereka memutar kembali gelas yang sudah di isi oleh Via sebagai joki.


“Ini giliran mu Erin,” ucap Via memberikan gelas yang telah ia isi.


Erin dengan santai pun meminumnya sampai akhirnya giliran Julia kembali.


“Ayo Julia giliranmu,” ujar Via memberikan gelas yang telah ia isi.


“Sudah Via aku tidak mau, rasanya tidak enak pahit,” ucap Julia.


“Hahaha, Julia, Julia kamu polos sekali nanti juga kamu terbiasa dengan rasanya,” ujar Via yang menertawakan Julia.


Namun Julia tetap bersih keras menolak minuman tersebut.


Sampai akhirnya Via merasa kesal dengannya.


Erin, Dina paksa Julia meminumnya.


“Oke dengan senang hati,” ujar Dina.


Julia di paksa meminum oleh Dina.


“Ayo Julia buka mulutmu,” ucap Dina memaksa Julia.


“Jangan Din, aku tidak mau,” ucap Julia.


Dina mulai menjambak rambut Julia serta memaksanya untuk meminumnya sementara Erin serta Siska memegangi tangan Julia.


Julia mulai menangis dengan perlakuan kasar mereka terhadapnya, Julia pun menyesal tidak mendengarkan ucapan dari Mia serta Toni sahabatnya.

__ADS_1


Sampai akhirnya setengah botol minuman beralkohol di tenggak oleh Julia.


Julia mulai tidak sadarkan diri di bangku, mereka semua pun membiarkan Julia yang telah tidak sadarkan diri.


Dan melanjutkan pesta miras kembali.


Sampai beberapa botol minum telah habis dan satu persatu dari mereka mulai merasa pandangan mata menjadi kabur.


“Kevin dan Dino bawa Julia ke kamarnya,” perintah Roy 


“Siap Bos,” ujar Kevin serta Roy.


Roy adalah anak pemilik yayasan serta orang kaya di sana sehingga dia lebih di hormati oleh teman-temannya.


Julia pun di papah oleh Kevin serta Edo ke dalam kamar.


Setelah itu mereka meletakkan Julia di tempat tidurnya.


Terlihat pakaian hem Julia yang terlihat acak-acakan serta kancing di bagian dada yang terbuka.


Melihat hal tersebut pikiran Kevin serta Edo mulai traveling.


“Anak ini seksi juga,” celetuk Kevin.


Namun tidak lama Erin serta Dina memanggil mereka.


“Sayang!” pekik Dina.


Edo yang mendengarnya pun bergegas keluar.


“Ayo kita keluar mereka sudah memanggil kita, kita pesta malam ini sampai bagi,” ucap Edo.


Kevin berserta Edo pun keluar dari kamar Julia menuju ruang tengah di tidak terlihat Indra berserta Roy.


“Ke mana yang lain?” tanya Kevin.


“Udah duluan ke kamar bersama pasangan mereka masing-masing,” sahut Erin yang setengah mabuk.


“Ayo sayang kita ke kamar,” ujar Erin.


“Aku duluan ya, Edo seperti Erin sudah tidak sabar  dengan ku,” ucap Kevin tertawa kepada Edo.


“Oke deh, kita habiskan malam yang indah ini sampai pagi,” sahut Edo yang berjalan merangkul Dina ke kamarnya.


Beberapa menit kemudian


Terdengar rintihan demi rintihan di setiap kamar namun tidak di kamar Julia.


Kevin yang selesai bermain dengan Erin teringat terus akan kemolekan tubuh Julia.


Sementara Erin yang tidak sadarkan diri terbalut di dalam selimut tanpa busana, melihat Erin yang tengah tertidur Kevin memasang kembali pakaiannya setelah itu keluar kamar dengan cara mengendap-endap.


Kevin pun masuk ke kamar Julia hasratnya semakin tidak dapat di kendalikan di saat melihat kemolekan tubuh Julia di tempat tidur.


Kevin pun mulai menjalankan aksinya ia mulai menaiki tubuh serta melepas semua pakaian yang di kenakan Julia setelah itu Kevin mulai mengerakkan tubuhnya naik turun.


Setelah merasa puas Kevin memasang kembali pakaiannya dan menyelimuti Julia.


Lalu kembali ke kamarnya tidur bersama Erin.


Selang beberapa menit hal yang sama di lakukan oleh Edo kepada Julia. Edo mulai menikmati setiap lekuk tubuh Julia.


Sementara Julia yang terlalu banyak meminum-minuman beralkohol pun tidak sadar apa yang terjadi kepadanya.


Jangankan untuk membuka matanya mengerakkan tubuhnya saja Julia tidak mampu.


Sementara Edo yang telah melampiaskan hasratnya kepada Julia, ia pun kembali ke kamarnya dan tidur bersama Dina.


Keesokan paginya mereka semua telah Bangun dari tidurnya.


“Mari kita pergi dari Vila ini,” ujar Via.


“Tapi Julia belum bangun,” kata Roy.


“Biarkan dia di sini, dia sudah besar tidak mungkin juga tersesat. Kamu kenapa Roy mengkhawatirkan Julia?” Via yang mulai cemburu dengan sikap Roy.


“Bukannya seperti itu anak itu masih lugu,” ujar Roy yang membela diri.


“Biarkan saja dia, ayo kita pulang,” ajak Via.


Mereka semua pun meninggalkan Julia yang masih belum sadarkan diri di kamarnya.


 


  


  


  


 


 


       


   

__ADS_1


 


    


__ADS_2