Haunted School

Haunted School
Di temukan Jenazah Toni


__ADS_3

Di minggu pagi yang cerah Dara yang sedang menyantap sarapan pagi bersama ibunya.


“Rapi banget sayang mau ke mana?” Tanya ibunya.


“Mau pergi bu sama Roy dan Juga Mia.”


“Pergi ke mana Nak?”


“Pergi mencari Toni bu, sudah 3 hari ini Toni belum pulang ke rumah Bu, dan kemarin pihak polisi juga ke sekolah bertanya-tanya tentang Toni,” ujar Dara sembari menyantap sarapan paginya.


“Loh memang Toni ke mana?” tanya kembali ibunya.


“Menurut info yang Dara dengar sih, Toni malam pergi lalu tidak pulang-pulang sampai sekarang perginya ke mana juga orang tuanya tidak tahu soalnya Toni tidak berpamitan, dan ponsel milik Toni pun tidak aktif bu,” ujar Dara yang menjelaskan kepada ibunya.


“Ya Allah kasihan sekali Toni semoga saja, dia cepat di temukan.”


“Iya bu semoga Toni cepat di temukan, kasihan ibu dan bapaknya sangat khawatir kepadanya. ”  


Tidak berselang lama ponsel milik Dara pun berbunyi, Dara pun segera mengangkat ponselnya yang di letakkan di atas meja makan di sampingnya.


“Hallo Ra, sebentar lagi aku berangkat kamu sudah siap.”


“Sudah Roy bahkan dari tadi.”


“Oke deh, tunggu aku ya.”


“Iya,” sahut Dara sembari mematikan ponsel miliknya.”


“Kelihatannya sekarang kamu lebih akrab dengan Roy?”


“Ya kan Dara akrab ke semua teman Dara Bu,” ujar Dara yang mengelak.


“Masa sih, tapi ibu lihat Roy anak yang baik kok.”


“Terus kenapa bu?”


“Ya mungkin saja kalian sudah menaruh hati satu sama lain,” sahut sang ibu yang menggoda Dara.


Dara terdiam mendengar ucapan ibunya, ia malu kepada sang ibu dan memilih untuk berdiam.


Tidak lama kemudian Roy pun datang.


“Assalamualaikum. Permisi,” Roy yang mengucapkan salam sembari mengetok pintu rumah Dara.


“Nah itu yang di omongin datang,” ledek ibunya.


Dara pun bergegas dari tempat duduknya menuju pintu utama. Setelah sampai Dara membukakan pintu untuk Roy.


“Masuk Roy,” Dara yang mempersilahkan Roy masuk.


Mereka berdua duduk di ruang tamu.


“Bu! Bu! Dara bersama Roy mau pergi dulu,” pekik Dara memanggil ibunya.


Ibunya yang mendengar ucapan Dara pun menghampiri mereka berdua di ruang tamu.


“Iya hati-hati semoga saja Toni dapat kalian temukan.”


“Iya Bu,” sahut Dara serta mencium punggung tangan ibunya.


“Bu, Roy pergi dulu ya bersama Dara,” kata Roy seraya mencium punggung tangan ibunya Dara.


“Iya kalian berdua hati-hati di jalan.”


“Iya Bu,” sahut Dara.


Mereka berdua pun berjalan menuju mobil Roy setelah itu mereka berdua pun masuk ke dalam mobil meninggalkan rumah Dara menuju rumah Mia untuk menjemputnya. On


Sesampainya di rumah Mia, Mia sudah menunggu kedatangan mereka di terasnya, Roy berserta Dara pun ke luar dari mobil dan tidak lupa berpamitan kepada orang tua Mia.


Setelah itu mereka bertiga pun masuk ke dalam mobil Roy dan melanjutkan pencarian Toni.


Mereka bertiga mencari di sepanjang Jalan, hingga ke bawah jembatan, namun tetap saja tidak menemukan Toni.

__ADS_1


Roy mulai pesimis mencari keberadaan Toni.


Di saat mereka berada di dalam mobil sembari melihat di sekeling jalan.


“Ra bagaimana ini sudah dua jam kita mencari Toni menyusuri sepanjang jalan tapi tidak juga menemukan Toni,” ujar Roy seraya mengemudikan mobilnya.


Dara terdiam, ia berfikir harus ke mana lagi dirinya mencari keberadaan Toni.


Tiba-tiba Dara teringat akan dirinya bertemu Toni di sekolah.


“Oh iya aku dua kali melihat Toni di sekolah dan berjalan menuju belakang sekolah apa kita cari di sana saja siapa tahu kita menemukan sebuah petunjuk,” Dara yang memberikan saran kepada Roy.


“Aku setuju Dara kita coba saja,” sahut Mia.


“Baiklah jika begitu kita menuju sekolah saja,” kata Roy yang menjalankan mobilnya menuju sekolah mereka.


“Semoga saja kita menemukan petunjuk di sana,” ucap Mia yang sangat berharap ada petunjuk yang dapat menemukan Toni.


“Iya aku pun berharap seperti itu Mia,” balas Dara yang terlihat khawatir kepada Toni 


 “Kita berdoa saja semoga Toni dapat di temukan dengan cepat,” Roy yang berharap.


Mobil pun melaju menuju sekolah mereka, namun mobil yang merek tumpangi tidak dapat masuk ke dalam karena gerbang telah di kunci.


“Kalian tunggu di sini dulu ya aku mau parkir mobil di sebelah sana,” ucap Roy.


Dara dan Mia pun menunggu Roy di seberang sekolah. Saat Dara berdiri di rerumputan ia merasa telah menginjak sesuatu.


“Duh apa ini?” ucap Dara.


Dara pun menunduk dan mengambil benda yang ia injak.


 “Kenapa Ra?” tanya Mia.


“Aku nginjak sesuatu.”


 “Ponsel?” ucap Mia.


“Kalian ngapain?” tanya Roy.


“Ini Dara nemu ponsel, tapi ponsel ini mirip kaya punya Toni.” sahut Mia.


Dengan cepat Roy mengambil ponsel itu dari tangan Dara, Roy mencoba menyalakan ponsel tersebut namun rupanya layar ponsel itu sudah tidak bisa di gunakan lagi, lalu Roy membuka ponsel tersebut untuk mengetahui sim card yang ada di dalam ponsel terebut.


“Dara kamu ada jarum?” tanya Roy.


“Aku tidak ada Roy,” sahut Dara.


“Aku ada nih peniti,” sahut Mia.


Roy pun mengambil peniti di tangan Mia dan segera membuka slot kartu sim card dengan menggunakan peniti, namun setelah di buka tidak ada sim card di dalam slot tersebut.


“Kartunya tidak ada lagi, seperti sengaja di buang bagaimana jika aku bawa ponsel ini ke temanku untuk di perbaiki, agar kita tahu lebih pasti ini ponsel milik Toni atau bukan,” Roy yang memberi saran kepada Dara.


“Baiklah kalau begitu sebaiknya kita pulang saja sampai menunggu ponsel itu telah benar, bagaimana menurutmu Mia?” tanya Dara.


“Aku setuju Dara,” sahut Mia.


“Kalau begitu aku antar kalian pulang nanti setelah ponsel ini baik aku akan kabari kalian berdua,” ucap Roy.


Mereka bertiga pun kembali ke mobil Roy, dan Roy pun mengantarkan mereka berdua pulang ke rumahnya masing-masing.


 Setelah Roy selesai mengantarkan Dara berserta Mia pulang, Roy pergi menuju ke rumah temannya yang dapat memperbaiki ponsel rusak yang di temukan Dara.


15 menit kemudian Roy tiba di ponsel milik temannya.


Roy turun dari mobilnya menuju ponsel milik Iwan temannya.


“Wih bro lama tidak kelihatan,” ujar Iwan yang menyapa Roy.


“Iya sudah lama aku tidak kesini.”


“Mana Via doimu?” tanya Iwan.

__ADS_1


“Via sudah tenang di sana,” sahut Roy.


“Aku turut berduka cita ya, oh iya kamu mau apa kesini tumben sekali?”  tanya Iwan.


Roy merogoh kantongnya celananya mengambil ponsel rusak yang di temukan Dara.


“Kamu bisa memperbaiki ini?” tanya Roy memberitahu ponsel itu.


“Coba aku liat,” sahut Iwan seraya mengambil ponsel rusak itu di tangan Roy.


Iwan pun mencoba mengecek ponsel rusak tersebut apakah masih dapat hidup dan ternyata berhasil.


“Roy ini ponsel kerusakannya hanya di LCD nya dan masih bisa hidup,” sahut Iwan.


“Ya sudah benarkan saja aku tunggu sampai selesai.”


“Oke,” ujar Iwan yang mulai memperbaiki ponsel itu. 


Satu jam kemudian, Iwan kembali menemui Roy.


“Nih layarnya udah di ganti, semua aplikasinya masih bisa dibuka. Aman pokoknya,” ucap Iwan.


Dengan cepat Roy pun membuka ponsel tersebut, ponsel itu masih terkunci Roy mencoba membuka pola kunci itu dengan pola yang ada di ponsel Toni.


Dan kunci itu terbuka, Roy pun sangat yakin jika itu ponsel milik Toni, dari pola kunci serta walkpaper.


Roy langsung menghubungkan jaringan internet miliknya ke ponsel yang diduga milik Toni tersebut lalu membuka aplikasi chat milik Toni.


Ada banyak chat yang masuk termasuk Mia dan Dara, namun ada satu chat yang membuatnya bingung ada chat dari nomor yang tidak dikenal.


Roy pun penasaran dan membuka chat tersebut, betapa terkejutnya Roy melihat isi chat itu.


Nomor itu mengaku sebagai Mia, dan meminta Toni untuk datang ke sekolah pada malam hari.


Sebaiknya aku beri tahu Dara.


Roy pun menelepon Dara dan memberitahunya Dara yang mengetahui itu pun terkejut dan menyarankan untuk melaporkan ke pihak berwajib menyerahkan kembali kasus ini kepada pihak berwajib.


Setelah selesai melaporkan barang bukti Ponsel Toni, polisi segera melacak nomor yang menghubungi Toni tersebut namun polisi belum dapat menemukannya sampai akhirnya para polisi menuju sekolah untuk mencari keberadaan Toni.


Beberapa polisi berserta anjing pelacak tersebar di sekolah itu dan benar saja tidak perlu waktu lama anjing pelacak mulai mengendus keberadaan Toni.


Anjing pelacak itu berlari menuju belakang sekolah yang penuh dengan semak belukar.


Salah satu dari anjing pelacak itu ada yang berjalan menuju semak belukar tepat di bawah pohon besar anjing itu mulai kembali mengendus tanah di bawah pohon besar itu dan mulai seperti ingin mengali


Seolah-olah anjing pelacak itu tahu ada sesuatu yang terkubur di bawah pohon besar tersebut.


“Ayo cepat gali,” perintah atasan.


Beberapa polisi mulai mengali tanah di bawah pohon besar itu.


Dan setelah di gali cukup Dalam akhirnya mereka menemukan jasad Toni yang terkubur di sana.


Jasad Toni yang sudah mengeluarkan bau pun di bawa dengan mobil ambulan ke rumah sakit sembari menunggu orang tua Toni memastikan jika itu adalah anak mereka.


Polisi pun langsung menelepon pihak keluarga Toni memberitahukan jika mereka menemukan mayat di kubur di pohon besar di belakang sekolah.


 Kedua orang tua Toni langsung pergi menuju  rumah sakit untuk memastikan bahwa jenazah itu adalah anak.


Tidak berselang lama kedua orang tua Toni pun datang dan mereka di antar ke kamar mayat untuk melihat jenazah yang di temukan olah pihak polisi.


Saat melihatnya kedua orang tua Toni sangat terpukul jika jenazah itu adalah benar jenazah dari Toni.


Toni pun segera di bawa pulang ke rumahnya untuk segera di kebumikan.


  Setelah jenazah Toni berada  di rumah, Jenazah Toni pun langsung segera di mandikan, di kafani, di sholatkan selepas itu barulah di antarkan ke tempat peristirahat terakhirnya.


Dara, Mia, dan Juga Roy serta bu Yasmi berada di pemakaman Toni untuk mengantarkan Toni ke liang lahat isak tangis kembali pecah oleh para sahabatnya, dan juga orang tuanya.


Mia sangat terpukul mengetahui Toni pergi dengan jalan yang mengenaskan.


 Pihak polisi pun akan mengusut kembali kasus kematian Toni guna untuk menemukan siapa pelakunya.

__ADS_1


__ADS_2