Identitas Rahasia Menantu Yang Luar Biasa

Identitas Rahasia Menantu Yang Luar Biasa
117 : Aku Kabulkan Kamu!


__ADS_3

Karena Henny Bai sekeluarga melihat dengan mata sendiri bagaimana Mike si dokter barat gila itu menangis tersedu-sedu untuk memohon pengampunan dari Dokter Dewa Lin.


Minki Li dan para ahli kedokteran timur memohon dengan susah payah juga tidak dapat menemuinya!



Nama ‘Dokter Dewa Lin’ tinggi bagaikan sang dewa di dalam hati Henny Bai sekeluarga.



Namun jika mereka tahu,



Dokter Dewa Lin itu hidup bersama mereka setiap harinya, tidak tahu apakah mereka akan bengong ketakutan.



Malam hari tiba dengan perlahan.



Henny Bai sekeluarga pun jatuh ke dalam mimpi indah.



Namun, ketika jarum jam menunjukkan jam satu subuh,



Syuut!



Mendadak Steve Lin membuka mata.



Dia menolehkan kepala, melihat Henny Bai yang sedang tidur nyenyak di samping dengan senyuman di sudur bibirnya, di wajah Steve Lin juga muncul lekukan kebahagiaan.



“Neng, karena kamu berharap Kakek Bai sembuh, maka aku kabulkan kamu!”



Selesai bicara, Steve Lin memakaikan selimut untuk Henny Bai. Dia bangkit berdiri dan keluar dari kamar.



Di bangsal VIP di rumah sakit.



Ada beberapa pengawal berpakaian hitam yang sedang berjaga di luar bangsal Kakek Bai.



Mereka adalah veteran tentara yang direkrut oleh keluarga Bai dengan bayaran tinggi, pada biasanya bertugas akan keselamatan Kakek Bai.



Saat ini, meski sudah subuh,



Beberapa pengawal berpakaian hitam ini tetap bersemangat, mata mereka terus mengamati segala sesuatu di koridor.



Namun mereka tidak tahu.


__ADS_1


Saat ini, entah sejak kapan jendela di dalam bangsal diam-diam terbuka.



Sebuah sosok misterius muncul di tepi jendela.



Dia adalah Steve Lin.



Dengan acuh tak acuh Steve Lin melirik beberapa pengawal di luar pintu, dia bergeleng dan berkata dengan remeh.



“Orang-orang ini, sungguh berdedikasi, sayangnya kemampuan mereka terlalu rendah!”



“Jika benar-benar ada musuh, hanya perlu mengutus seorang pembunuh kelas B saja sudah cukup untuk langsung menghabisi semua orang di sini!”



Steve Lin tidak ingin lagi melihat pengawal di luar pintu.



Tatapannya beralih pada Kakek Bai yang berbaring di kasur bangsal.



“Kulitnya sudah mulai berwarna abu-abu, dan pembuluh kapiler sudah mulai pecah!”



“Gumpalan darah dalam kepalanya sudah meningkat tiga lapis, masih bisa bertahan hidup untuk 48 jam. Pada saat itu, seluruh pembuluh darahnya akan pecah, lalu akan masuk ke dalam keadaan koma!”




Steve Lin memutar telapak tangan, langsung muncul jarum-jarum akupuntur.



Kemudian, dia menyalakan sedikit alkohol. Setelah melakukan pensterilan, dengan pelan dia menusukkan jarum-jarum akupuntur di titik meridian otak Kakek Bai.



Satu menit!



Lima menit!



Sepuluh menit!



Di kepala Kakek Bai penuh dengan jarum akupuntur.



Setiap jarum akupuntur bertepatan dengan satu titik meridian, terutama di bawah rangsangan jarum akupuntur, darah di dalam pembuluh darah mulai mengalir dengan pelan.



Dua puluh menit kemudian.


__ADS_1


Kakek Bai mengeluarkan erangan tertahan, lalu dia membuka mata dalam keadaan linglung.



“Aku… Aku sepertinya bermimpi…”



Di tengah kelinglungan, Kakek Bai seolah-olah bermimpi tentang hidup dan mati.



Dia memimpikan dirinya meronta di ambang kematian, dia ingin berbicara tetapi tidak bisa, dia ingin berteriak tetapi tidak ada suara sama sekali.



Dia juga memimpikan dirinya dikepung oleh sekelompok dokter kedokteran barat, mereka satu per satu bergeleng dan mendesah.



Dia pun memimpikan dirinya diberi tamparan keras oleh Steve Lin bajingan itu.



“Tadi aku bermimpi, sepertinya Steve Lin sudah datang?”



Alis Kakek Bai berkerut kencang.



Setelah mengamati ruangan ini, dengan kaget dia menyadari bahwa ini adalah bangsal rumah sakit.



Tidak hanya begitu.



Terdengar sebuah suara yang dingin menusuk tulang dari arah jendela.



“Resepnya sudah dituliskan, ada di meja!”



“Mulai hari ini, sehari minum tiga kali, tiga hari nanti pasti akan sembuh!”



Apa?



Perkataan ini mengagetkan Kakek Bai, karena dalam suara itu membawa kewibawaan dan kekuatan yang sulit dideskripsikan.



Kakek Bai bergegas menoleh ke sana, dan menemukan ada sebuah sosok gelap di samping jendela.



Suara ini!



Sosok ini!



Familiar namun asing.

__ADS_1


__ADS_2