Identitas Rahasia Menantu Yang Luar Biasa

Identitas Rahasia Menantu Yang Luar Biasa
Memangnya Kamu Tidak Malu?


__ADS_3

Krek!


Begitu Steve Lin melihat ke arah mobil dengan tatapan sinis, seorang pria dan wanita membuka dan turun dari mobil.



Pria itu kira-kira berusia dua puluh lima tahun, dengan bentuk kepala yang cukup besar dan daun telinga yang lumayan besar.



Tidak hanya itu.



Bagian lengan tangannya, dipenuhi dengan tato berwarna gelap, dengan bentuk gambar serigala.



Begitu turun dari mobil, pria itu dengan arogan dan menunjukkan kemarahannya kepada Steve Lin, membentak : “Kurang ajar! Darimana datangnya para warga miskin seperti ini yang berani-beraninya mengundang amarahku! Kenapa kalian semua tidak mati saja sekalian!”



Apa!



Kata-kata pria berbadan kekar itu tiba-tiba mengejutkan semua pejalan kaki.



Mereka tidak menyangka, pria itu yang tidak mengurangi laju kecepatan kendaraannya tapi justru menyalahkan orang lain dengan membentaknya, sungguh tidak beretika.



Tapi, belum sempat Steve Lin menjawab. Wanita yang ada di sebelahnya segera menimpalin dengan sedikit nada ketakutan : “Loh, Steve Lin? Bagaimana bisa kamu ada disini?”



Hah?



Steve Lin merasa sangat familiar dengan suara tersebut, dia menoleh ke arah sumber suara, seketika, raut wajahnya terlihat seperti memikirkan sesuatu.



Wanita ini penuh dengan riasan di wajahnya, terlihat cantik dan menawan.


__ADS_1


Steve Lin tidak merasa asing dengan penampilannya.



Karena dia adalah teman sekolah sekaligus sahabat baik Henny Bai ----- Irene Wen!



Hingga saat Irene Wen melihat Yeri Shen yang tergeletak di lantai, dia segera berlari untuk membopong nya dan berkata, “Tante, bagaimana bisa disini\> Sungguh aku tidak menyangka ternyata kalian!”



Sambil berbicara dan terus mengungkapkan rasa menyesal, Irene Wen sambil lalu menolong Yeri Shen untuk berdiri, “Untung saja, tante, Steve! Kalau bukan karena pacarku yang segera membalikkan stang stir mobil dan mengerem tepat waktu, mungkin kalian semua tidak bisa diselamatkan.”



“Sungguh, di jalanan seperti ini kenapa tidak berhati-hati sih. Apa yang harus kukatakan kepada Henny Bai kalau terjadi apa-apa dengan kalian!”



Wuusshh!



Perkataan Irene Wen membuat Yeri Shen dan yang lainnya saling memandang.




Membanting stang stir?



Mereka tidak habis pikir, bagaimana bisa Irene Wen masih berani mengatakan hal demikian.



Karena barusan, jika bukan Steve Lin yang mencoba tepat waktu datang menolongnya, Yeri Shen dan pengemis itu, bisa jadi sudah mati terlindas.



Tidak berhenti disitu.



Pria gendut itu yang melihat Irene menyapa Steve Lin dan Yeri Shen, kemudian juga turun dari mobil, bertanya dengan nada kesal, “Irene Wen, bagaimana bisa kamu mengenal beberapa orang miskin seperti mereka ini?”


__ADS_1


Orang miskin!



Kata-kata si pria gendut itu sungguh sudah mencapai puncak kesombongan dan arogan.



Sepertinya, semua orang yang tinggal di perkampungan ini adalah tempat tinggal warga miskin.



Dan Irene Wen sama sekali tidak membantahnya, dia tidak merasa apa yang dibicarakan oleh si gendut itu sudah berlebihan, justru mengenalkannya kepada mereka, “Sayang, aku kenalkan ya. Dia adalah Ibunya sahabatku, Henny Bai ----- Tante Shen!”



Kemudian, dia menoleh ke arah Steve Lin dan menjelaskan, “Kalau dia, dia adalah suaminya Henny Bai yang sering aku ceritakan, Steve Lin.”



Steve Lin?



Pria gendut itu tercengang, melihat Steve Lin dari ujung kepala hingga ujung kaki, kemudian menertawakannya dengan sedikit penghinaan, “Hahahaha, iya-iya, aku ingat. Kamu pernah bilang kalau Steve Lin itu orang udik yang tidak berguna.”



“Ternyata benar, hari ini pembuktiannya.”



Wush…..



Kesabaran Yeri Shen, pengemis muda, dan orang sekitar telah sampai puncak begitu mendengar pernyataan dari Irene Wen dan Si gendut itu.



Mereka sama sekali tidak menyangka, betapa kurang ajarnya mereka, barusan nyaris saja menghilangkan nyawa seseorang, sekarang masih sempat untuk menertawakan dan menghinanya.



Belum juga cukup sampai disini, Irene menatap Steve Lin kemudian menyapu pandangannya ke arah pengemis itu, menghina sejadi-jadinya, “Kamu itu ya, Steve! Bukankah istrimu, Henny Bai, adalah seorang presdir di Perusahaan Bai!”



“Bagaimana bisa kamu sebagai suaminya berdekatan dengan seorang pengemis! Memangnya, kamu tidak malu?”

__ADS_1


__ADS_2