Identitas Rahasia Menantu Yang Luar Biasa

Identitas Rahasia Menantu Yang Luar Biasa
Bab 81 : Ada Orang Yang Menyuruhku Mematahkan Kakimu


__ADS_3

Tap-tap!


Ketika Steve Lin sekeluarga berempat baru saja turun dari mobil,



Dua puluhan pria kekar di sekeliling langsung menyerbu kemari.



Mereka masing-masing memegangi sebuah tongkat bisbol, auranya yang ganas membuat orang bergidik takut.



Terutama pria kekar bertato yang memimpin di depan. Di tangannya memegangi sebuah pedang yang masih meneteskan darah, sepertinya baru saja membunuh orang.



“Bocah, kamu itu Steve Lin?”



Jeffry menatap erat pada Steve Lin, seolah-olah sedang melihat seekor mangsa.



Melihat adegan ini,



Wajah Henny Bai putih pucat, dalam mata indahnya memancarkan rasa takut.



Namun, dia tetap ingin maju untuk membela Steve Lin.



Tepat ketika itu, Steve Lin menariknya. Lalu dia menatap Jeffry dengan senyum berseri, sambil berkata dengan mengusik.



“Benar, itu aku.”



“Tidak tahu ada masalah apa kalian?”



Nada bicara Steve Lin tetap pelan dan tenang.



Seolah-olah memiliki sebuah kekuatan magis, membuat Henny Bai sekeluarga yang ketakutan di samping dengan anehnya menjadi tenang.



Eh?



Jeffry mengangkat alis, jelas tidak menyangka Steve Lin bisa begitu acuh tak acuh saat menghadapi mereka dua puluhan orang yang beraura ganas.



Namun sayangnya, nanti orang ini akan kencing di celana saking takutnya.



“Tidak apa-apa.”



Jeffry tersenyum. Dalam senyumannya penuh dengan keganasan dan kesadisan.



“Hanya saja ada orang yang menyuruhku mematahkan satu kakimu.”


__ADS_1


Wah!



Henny Bai sekeluarga bertiga pun terkejut, ekspresi wajah mereka berubah drastis.



Mereka tidak menyangka, ternyata sekelompok orang ini datang mengincar Steve Lin, bahkan ingin melumpuhkan Steve Lin.



Seketika, mereka sekeluarga bergegas menoleh pada Steve Lin.



Namun yang membuat mereka kaget adalah,



Steve Lin tidak hanya tidak panik, sebaliknya… dia tertawa.



Senyuman di sudut bibirnya semakin lebar, dia mengangguk lalu berkata.



“Tidak masalah.”



Apa?



Tidak hanya Henny Bai sekeluarga, bahkan Jeffry mereka juga terbengong.



“Bocah, apa maksudmu?” Jeffry tidak berani mempercayai telinganya sendiri.




Apakah dia gila?



“Bukankah kamu ingin mematahkan kakiku? Aku bilang tidak masalah!” kata Steve Lin dengan ekspresi serius.



Setelah memikirkannya dengan serius, Steve Lin melanjutkan.



“Tetapi, aku merasa satu kaki itu terlalu ringan, bisa tambahkan satu tangan lagi. Beli satu gratis satu.”



Wah!



Gila!



Ini benar-benar gila….



Jeffry mereka dan Henny Bai sekeluarga pun terbengong. Tatapan mereka pada Steve Lin seolah-olah sedang melihat orang gila.



Mematahkan satu kaki masih belum cukup, malah ingin menambahkan satu tangan lagi?


__ADS_1


Apalagi….



Beli satu gratis satu? Kenapa orang ini memperlakukan tangan dan kakinya sendiri seperti menjual sayuran?



“Steve Lin, kamu….” Henny Bai hampir menangis saking cemasnya.



Tepat ketika dia ingin membujuk Steve Lin agar jangan gegabah,



Tiba-tiba terdengar suara tawa yang congkak.



“Hahaha…. Apakah kalian dengar? Hari ini kita menemui orang bodoh!”



Jeffry tertawa terbahak-bahak. Dia mengarahkan pedangnya yang berlumuran darah pada Steve Lin, lalu berkata pada mereka semua.



“Masih ada orang yang beli satu gratis satu, benar-benar lucu sekali….”



Tidak hanya Jeffry,



Saat ini, dua puluhan pria kekar di sekeliling jelas juga mengira Steve Lin sudah gila karena saking takutnya, mereka semua tertawa terbahak-bahak.



Tatapan mereka pada Steve Lin seperti sedang melihat seorang idiot.



Tepat ketika itu,



Syuut!



Jeffry merasa lengannya mengerat, dengan kaget dia menemukan bahwa entah kapan Steve Lin sudah muncul di depannya dan mencengkeram lengannya.



“Bocah, kamu….”



Jeffry terkejut, seketika dia hendak meronta.



Akan tetapi, tangan Steve Lin sekuat besi puluh ribuan tahun, tidak peduli seberapa kuatnya dia meronta juga tidak dapat membebaskan diri.



Tidak hanya begitu saja.



“Sudah aku bilang, beli satu.”



Suara Steve Lin suram dan dingin. Lalu dia mengerahkan tenaga ke tangannya.



Krak!

__ADS_1


__ADS_2