
Tiba-tiba,
Suara tepuk tangan perlahan berhenti, semua tamu juga menghentikan sejenak aktivitas makan dan minum, kemudian segera memfokuskan pandangan ke arah panggung.
Saat seluruh ruangan mulai sunyi!
Tiinngg ….
Jari jemari Riri Mo dengan gemulai mulai memainkan setiap petikan piano.
Hanya satu petikan saja sudah membuat para tamu terbawa suasana.
Selanjutnya,
Riri Mo melanjutkan lantunan jemarinya, seperti ombak di lautan, petikan itu semakin cepat dimainkannya, semakin membuat semua tamu merasa tenang dan menikmatinya.
Semua merasa, di setiap lantunan musiknya, seperti sedang mengajak jiwa dan raga mereka memasuki dunia lirik lagu tersebut, mereka begitu menikmatinya hingga mata tertutup.
Apalagi Henny Bai.
Dia sangat menyukai .
Baginya, Dewa Fan pasti adalah seorang senior yang tidak biasa, maka dari itu dia bisa menuliskan lirik lagu seindah ini.
Dia tidak menyadari ekspresi Steve Lin yang sedikit berubah setelah mendengar lagu ini dimainkan.
Lirik lagu ini adalah ciptaannya beberapa tahun lalu.
Begitu mendengarnya lagi saat ini, terdengar banyak kekurangannya.
Begitu mengetahuinya, Steve Lin menggelengkan kepalanya, berbicara sendiri :
“Duh, sepertinya memang kemampuanku yang kurang saat menulis lirik lagu ini beberapa waktu lalu.”
Iramanya yang kurang tinggi, nada musik yang tidak menyentuh jiwa, naik turunnya lagu yang kurang pas!
Ck!
Suara Steve Lin yang awalnya hanya mengomentari lirik lagu yang ditulisnya, tiba-tiba Riri Mo menghentikan permainan musiknya itu.
Hah?
Disaat itulah, pandangan semua tamu terheran.
Mereka melihat ekspresi Riri Mo yang berubah tidak mengenakkan.
Dan lagi kedua bola mata itu menatap ke arah Steve Lin :
“Maaf Tuan, sepertinya aku barusan mendengar bahwa Anda seperti merasakan banyak ketidakpuasan dan masukan di bagian yang aku mainkan.”
Apa!
Sebagian dari mereka kemudian tercengang menatap Steve Lin.
Termasuk Henny Bai dan keluarganya.
Mereka memang mendengar Steve Lin seperti sedang berbicara, tapi perhatian mereka tetap fokus dengan permainan piano itu. Mereka tidak tahu jelas apa yang dibicarakan oleh Steve Lin.
Belum menunggu jawaban dari Steve Lin, Riri Mo melanjutkan perkataannya :
“Setiap kali aku bermain piano, pendengaranku selalu paling sensitif.”
“Jika memang itu hanya suara dan nada biasa, itu tidak akan mempengaruhiku, namun Tuan ini ….”
__ADS_1
Begitu menjelaskan, tatapan Riri Mo semakin dingin :
“Apa yang Anda komentari barusan, bukan untuk nada mainku atau caraku bermain piano, melainkan ketidakpuasan terhadap lirik lagu .”
Waw!
Kata-kata Riri Mo begitu lantang, tidak ada rasa sungkan sama sekali, terus memojokkan Steve Lin.
Henny Bai pun merasa demikian.
Matanya menatap serius, memarahinya :
“Steve Lin, kenapa kamu begitu! Apakah kamu tahu, adalah lagu terbaik bagiku dan untuk semua penggemar Dewa Fan, kalau memang kamu tidak paham tentang permainan piano, lebih baik kamu tidak usah bicara sembarangan!”
Henny Bai kali ini merasa sangat kecewa dengan Steve Lin.
Dia tidak mempermasalahkan Steve Lin yang tidak mengetahui apa-apa.
Tapi, yang membuatnya merasa kesal adalah, Steve Lin menjadi pura-pura tahu dari apa yang tidak dia tahu. Terlebih lagi, dia berani mengomentari mengenai lagu tersebut di hadapan Henny Bai dan Riri Mo juga para penggemar Dewa Fan.
Hal ini sungguh keterlaluan!
Dan saat ini,
Melihat kejadian diluar dugaan seperti ini, Bobby Zhang dan Cathy Zhang sangat marah.
Kesempatan!
Ini adalah kesempatan untuk membuat Henny Bai membenci Steve Lin.
Mengingat kesempatan ini,
Bobby Zhang dan adiknya, segera menatap ke arah Steve Lin:
“Benar apa yang kakakku katakan, kamu itu tidak tahu apa-apa, hanya seorang yang tidak berguna dan selalu menumpang makan, lalu atas dasar apa kamu mengomentari permainan piano Dewa Fan!”
Setiap kalimat itu menyalahkan Steve Lin.
Semua tamu restoran pun juga merasa kesal terhadap Steve Lin.
Karena kata-kata Steve Lin itulah yang membuat Riri Mo menghentikan permainan pianonya, sungguh menyebalkan.
Tapi!
Steve Lin sama sekali tidak memperdulikannya.
Kedua matanya menyipit melihat Riri Mo :
“Benar, aku barusan memang bicara seperti itu, permainan piano kali ini memiliki ritme yang kurang tepat, nada yang menyimpang, bahkan naik turun nadanya juga tidak tepat.”
Waw!
Mengakuinya!
Begitu mendengar pernyataan Steve Lin, seluruh penghuni restoran tercengang, semakin merasa sebal terhadap Steve Lin, dan terus menyalahkannya.
Steve Lin kali ini menjadi pusat perhatian semua orang.
Tapi tidak sampai disitu, Steve Lin melanjutkan perkataannya :
“Jadi, aku sarankan lebih baik diperbaiki saja nada pianonya.”
“Reff yang kedua, nada tinggi F/C bisa diubah menjadi nada D!”
__ADS_1
“Sementara Reff ketiga, Nada rendah B/E/A, bisa diubah saja menjadi nada E.”
Merubah nada dan lirik piano.
Begitu mendengar saran dari Steve Lin, situasi restoran semakin bergemuruh.
Henny Bai dan yang lainnya, bahkan para tamu yang ada seperti tidak percaya dengan apa yang mereka dengar.
Kenapa begitu berani?
sudah sangat diakui di tingkat Internasional sebagai ciptaan Dewa Fan.
Karya seperti ini, jangankan Steve Lin, bahkan pianis terkenal sekalipun tidak dapat sembarangan mengubahnya.
Bagaimanapun juga,
Ingin mengubah karya yang sudah ada tentu lebih sulit jika harus membuat ulang karya baru.
Terlebih lagi terhadap karya yang sudah terkenal, bahkan musik kelas dunia pun sudah mengakuinya, jika ingin merubahnya, itu berarti, harus memiliki kemampuan kelas dunia kemungkinan akan bisa mengubahnya.
Tapi sekarang …
Wuusshh!
Restoran mulai terdengar rusuh, semua tamu memandang rendah, menertawakan dan menghinanya.
“Hahaha … Apakah kamu dengar apa yang dikatakannya barusan? Dia bilang merubah nada ! Sungguh, ini lelucon.”
“Huh! Dasar bodoh, apakah dia mengira dia lebih hebat dari Dewa Fan?”
“Benar, bagaimana bisa ada orang sebodoh ini, sungguh ini sebuah penistaan bagi Dewa Fan.”
“......”
Nada kesal itu satu persatu membaur di dalam ruangan.
Hal ini tentu saja membuat Henny Bai sekeluarga menjadi malu.
“Steve Lin, tutup mulutmu!”
Henny Bai marah menatap Steve Lin.
Dia sungguh tidak menyangka Steve Lin sekarang selalu lebih aktif bertindak.
Dia adalah orang yang tidak mengetahui apa-apa tentang dunia musik, untuk apa memberikan saran merubah nada , bukankah ini berarti sedang menertawakan diri sendiri?
Bahkan Eric Bai dan Yeri Shen sekalipun menatap Steve Lin dengan penuh amarah.
“Hahaha … Steve Lin, kamu sungguh membuatku untuk selalu membuka mata lebar-lebar, aku memang pernah menemui orang yang selalu percaya diri untuk memuji dirinya sendiri, tapi aku baru kali ini menemui orang yang terlalu percaya diri.” Sahut Bobby Zhang.
Di matanya, Steve Lin tidak lain hanya seseorang yang bodoh yang bisa-bisanya terlalu percaya diri.
Ingin berpura-pura tahu, nyatanya menjadi suatu hal yang bodoh.
Cathy Zhang juga semakin menghinanya :
“Steve Lin, sikapmu ini sungguh memalukan, kamu bukan hanya mencoreng nama baikmu, tapi kamu juga mencoreng nama baik Kak Henny! Huh, sungguh tidak bisa dimengerti, bagaimana bisa Kak Henny bisa bertahan dengan orang sepertimu!”
Penghinaan!
Ejekan!
Semua mengarah ke Steve Lin, dan seperti menjadi sebuah bahan tertawaan.
__ADS_1