Identitas Rahasia Menantu Yang Luar Biasa

Identitas Rahasia Menantu Yang Luar Biasa
Bab 82 : Beli Satu Gratis Satu, Apakah Kamu Puas?


__ADS_3

Krak!


Jeffry merasa lengannya seperti kayu mati, langsung patah dan berubah bentuk.



Bahkan tulang putih menembusi kulit di lengannya dan mencuat keluar, darah mengucur banyak.



“Ah….”



Jeffry terbengong. Rasa sakit di lengan membuatnya menjerit histeris.



Namun, ini hanya permulaan dari mimpi buruk.



Terdengar lagi suara Steve Lin yang suram seperti iblis.



“Gratis satu.”



Steve Lin mengangkat kaki dan menendang ke betis Jeffry.



Krak!



Betis Jeffry langsung ditendang, dan patah seperti batang kayu. Badannya yang kekar seolah-olah kehilangan tumpuan, dia berlutut dengan satu kaki di tanah.



“Kakiku! Ah….”



Satu tangan dan satu kakinya patah, rasa sakit yang dahsyat itu membuat badan Jeffry gemetaran. Jeritannya sangat histeris dan menusuk telinga.



Namun di sekitarnya,



Sunyi senyap.



Henny Bai sekeluarga bertiga, serta dua puluhan pria kekar yang memegangi tongkat bisbol pun terbengong.



Semua ini terjadi dengan begitu cepat, saking cepatnya mereka belum sempat bereaksi, Steve Lin sudah mematahkan satu tangan dan satu kaki Jeffry.



Ini…. Bagaimana mungkin?



“Dasar bocah, beraninya kamu melumpuhkan aku, beraninya kamu melumpuhkan aku?” Jeffry menggila. Dia mendongak, matanya yang merah memelototi Steve Lin.


__ADS_1


Mimpi pun tak terpikirkan olehnya, tangan dan kakinya akan dipatahkan oleh orang yang terlihat lemah ini.



Namun mendengar perkataannya,



Steve Lin mengangkat bahu dengan ekspresi polos tak berdosa.



“Bukankah kamu yang mengatakan ingin mematahkan tangan dan kaki? Aku sangat senang hati untuk membantu.”



Wah!



Jeffry dan para pria kekar di sekeliling langsung naik pitam.



Barulah mereka paham, ternyata orang ini sedang mengejek mereka. Dia bukan ingin mematahkan tangan dan kakinya sendiri, melainkan ingin mematahkan tangan dan kaki mereka.



Ini…. Sialan!



“Bangsat! Kenapa kalian masih bengong saja? Ayo maju! Lumpuhkan bajingan ini!”



Jeffry berteriak gila kepada orang-orang di sekeliling.




Para pria kekar di sekeliling langsung berseru, lalu mengangkat tongkat bisbol dan menghantamkannya ke arah Steve Lin.



Sekelompok tongkat bisbol langsung menghujani Steve Lin.



“Tidak!”



“Steve Lin….”



Wajah Henny Bai langsung menjadi putih pucat.



Mampus!



Dalam pandangannya, dikeroyok oleh begitu banyak orang, satu orang satu pukulan saja sudah bisa membuat Steve Lin langsung mati di tempat.



Akan tetapi, berikutnya terjadilah adegan yang sulit dipercaya oleh Henny Bai dan semua orang.


__ADS_1


Syuut!



Ketika mereka menyerbu kemari, Steve Lin langsung melesat ke dalam kerumunan orang.



Badannya cepat bagai kilat, membuat orang tidak dapat melihatnya dengan jelas.



Setiap kali dia meninju, akan ada satu lengan pria kekar yang dia patahkan. Setiap kali dia menendang, akan ada satu kaki orang yang dipatahkan.



Krak!



Krak!



….



Suara patah tulang berbunyi silih berganti, satu per satu pria kekar tumbang sambil menjerit.



Mencengangkan….



Saat ini, tidak hanya Henny Bai sekeluarga bertiga yang tercengang, bahkan Jeffry juga lupa akan rasa sakit di tangan dan kakinya. Dia menatap adegan di depan matanya dengan ekspresi bengong.



Penaklukkan, ini adalah penaklukkan satu orang terhadap sekelompok orang.



Dengan penuh ketakutan Jeffry menemukan bahwa dua puluhan anak buahnya bahkan tidak dapat menyentuh ujung pakaian Steve Lin.



Sebaliknya, semakin banyak orang yang tumbang.



Hingga terdengar sebuah suara ‘krak’ lagi.



Beriringan dengan satu betis pria kekar terakhir yang ditendang patah oleh Steve Lin, saat ini di permukaan tanah di sekelilingnya, berbaring sekelompok orang.



Tangan dan kaki mereka semua sudah berubah bentuk, serta penuh dengan suara erangan.



Di tengahnya, hanya ada satu orang yang berdiri tegak, yaitu Steve Lin.



Dia bahkan tidak terengah-engah. Wajahnya yang tampan membawa sedikit senyuman, lalu dia berkata pada Jeffry.



“Beli satu gratis satu, apakah kamu puas?”

__ADS_1


__ADS_2