Ini Cinta Bukan Derita

Ini Cinta Bukan Derita
Hari Yang Melelahkan


__ADS_3

Pagi itu alam kota baru seolah menyambutku dengan bahagia. Bunda membangunkanku di saat subuh. selepas solat Kami langsung bersiap-siap pada tujuan masing-masing. Bunda mengurus desain-desain uniknya, ternyata Bunda seorang Designer baju-baju kalangan atas. Ayah seorang Manager di Perusahaan Property. Aku pun harus bersiap untuk sekolah. Kutatap kaca besar didalam kamar ini. Pakaian seragam sekolah ini amat elegan. Selama ini aku hanya melihatnya di TV. Kini Aku malahan memakainya. Senangnya bahkan tak terukur. Pukul 06.00 WIT Kami semua berkumpul di meja makan untuk sarapan. Setelahnya sesuai janji Ayah tadi malam Ia pun mengantarkan ku. ini benar-benar seperti mimpi. Ada Bunda yang tiap hari pasti akan disalam sebelum pergi sekolah. Ada Ayah yang mengantarkan. Ahh Aku sangat bahagia. Semoga kehidupanku terus begini hingga Aku tiada.


Gedung-gedung yang sangat tinggi seolah akan menjuluk langit begitu banyak disepanjang perjalanan menuju sekolah baruku. Aku benar-benar parno dan jelas itu membuat Ayah tertawa. Tak sampai 20 menit Kami pun sampai. Sekolah ini luar biasa besarnya. Terukir di gerbang utama nama sekolah ini SMA Bakti Tunas Bangsa. Wow hanya SMA seluas ini. Sekolahnya berlantaikan 5 lantai dengan luas sekitar 5 hektare. Setiap taman ditata sedemikian rapi dan bunga-bunganya sedang mekar indah. Ayah mengantarku sampai ruang administrasi. Disepanjang koridor sekolah tentu saja banyak murid yang memperhatikan diriku. Aku sedikit minder. Apakah mereka mau bergaul denganku bila mengetahui Aku ini anak asuh. Apakah penampilanku terlalu udik, ah kurasa tidak. Tadi dirumah Bunda bilang Aku sangat Cantik. Rambutku kubiarkan terurai rapi kebelakang, kuberi Cap Pita dipinggir kanannya. Aku mengenakan seragam yang kainnya saja selembut sutra pasti harganya mahal. Sepatuku juga bermerek dan empuk, Aku yakin ini sepatu Original bukan Kw-an. Tas sandangku juga indah. Aku juga memakai parfum. Aku merasa tidak percaya diri. Aku berlindung dibelakang Ayah. Ayah yang menyadari hal itu membalik badannya dan menatapku.


"Hei, Kamu anak yang manis pasti semua mata tertuju padamu, percaya diri saja Nak. Namun ingat pesan Ayah, jangan mau diajak pulang oleh siapapun yang belum Kami kenal oke". Ayah memberi dukungan padaku.


"Siap Ayah". Ternyata ini kharisma seorang Ayah yang langsung bisa menenangkan hatiku. Aku pun kembali berjalan disampingnya. Ayah pun merangkulku. Aku kini mendapatkan kepercayaan diri yang ekstra besar.


Kami pun selesai mengurus administrasi.

__ADS_1


Aku memilih kelas lanjutan dari Asramaku dulu. Kelas minat Mia yaitu lebih condong pada Ilmu Pengetahuan Alam. Ayah pun menyetujuinya. Setelah itu Ayah pamit untuk pergi.


"Sha selamat berjuang. Nanti telpon Ayah ketika Kamu sudah pulang. Kalau bukan Ayah yang jemput nanti Mang Diman yang akan datang ya. Ingat jangan pulang dengan orang lain". Ayah pun berlalu setelah Aku mencium tangannya. Aku pun segera diantar oleh pegawai sekolah menuju ruang kelas baruku. Aku kehilangan percaya diri setalah Ayah pergi. Ah tapi tidak boleh jadi pengecut begini. Aku harus bisa melewati apapun itu. Kelasku Ada dilantai 3. Ya cukup jauh. Namun sekolah bersandar Nasional sudah pasti akan sebesar ini. Beruntung semua murid tengah menghilang sebab bel sudah berbunyi sewaktu Aku masuk ke ruang administrasi tadi. Jadi Aku tidak akan jadi perhatian. Pegawai pun masuk duluan dan menyuruhku untuk menunggu diluar. Setelah itu dia memanggilku untuk masuk. Dan segera keluar ruangan. Semua mata tertuju padaku. Aku sedikit canggung. Kata-kata Ayah tadi pagi tiba-tiba berbunyi ditelingaku dan membuatku jadi OD kembali.


"Anak-anak sekalian. Kita kedatangan murid baru di semester genap ini. Nak perkenalkan nama Ibu. Ibu Darna wali kelas dari kelas ini. Ayo perkenalkan dirimu". Ucap Bu Darna.


Setiba bel istirahat berbunyi semua murid sibuk mengerumuniku bahkan dari kelas lainnya juga. Semua ingin berkenalan denganku. Aku tanpa sengaja melihat ke belakang. Ahh lelaki tadi kini menyinggung sebelah bibirnya keatas. Seolah-olah dia benci melihatku. Apa salahku, Aku bahkan tak mengenal dirinya. Dia pun pergi dan berlalu keluar kelas diikuti segerombol Murid laki-laki lain. Seolah jadi preman saja. Aku membatalkan niatku untuk istirahat ke kantin.


Padahal Aku lapar namun kerumunana orang-orang ini tak dapat kuhindari. Sampai pada Bel.pulang sekolah. Aku pun menelpon Ayah dan ternyata Mang Diman yang telah menungguku dari setengah jam yang lalu di parkiran sekolah. Saat hendak masuk mobil Aku melihat anak-anak lainnya diparkiran. Apa Aku melihat tatapan sinis lagi dari teman sekelasku tadi. Aku sampai heran padanya. Apa Aku mengenalnya. Mobil pun berjalan menuju rumah. Aku tak sabar untuk menceritakan semuanya pada Bunda dan Ayah.

__ADS_1


Sesampainya dirumah Bunda pun menyambutku. Aku tak lupa untuk menceritakan semuanya. Bunda bilang itu wajar sebab Aku cantik. Ahh alasan yang tak dapat kuterima. Aku pun segera disuruh Bunda untuk berganti pakaian dan makan siang. Tapi hari ini dan seterusnya tak akan ada makan siang dengan Ayah sebab Ia masih di Kantor. Aku sangat bersyukur punya Bunda yang menyayangiku dan Ayah yang sangat memperhatikan diriku.


Sasha POV End


Dari kejauhan lelaki itu terus memperhatikan seorang gadis bersama lelaki yang tak lagi muda. Keduanya akrab bercengkrama seolah mereka Orangtua dan Anak. Ah pemandangan itu benar-benar memilukan bagi dirinya. Ia terus memperhatikan keduanya dengan seksama.


"Awas saja nanti, akan kuberi dia pelajaran". Ucap anak lelaki itu dalam hati. Anak lelaki itu pun berlalu dengan kepalan tangannya.


Hi Semua Plisss Like and Comment !!!

__ADS_1


__ADS_2