
Sinar mentari masuk melalui celah-celah gorden kain jendela yang tidak rapat. Hangatnya menembus kulit seorang remaja lelaki yang hampir seminggu menghabiskan hari-harinya di ruangan serba putih ini. Tentu hangatnya sinar itu membuatnya terbangun. Ia mulai membuka mata dan meraba-raba berankas laci disebelah tempat tidurnya dan mencoba mencari benda kecil yang ukurannya pas digengaman tangannya. Dia menaikkan suhu kamar itu membalik badan membelakangi cahaya matahari tadi lalu menyelingkupkan kain selimut menutup wajahnya. Ia berniat melanjutkan tidur, tak ada semangat apapun terpancar dari kedua bola matanya. Baginya rumah sakit adalah tempat terbaik untuk istirahat dibandingkan kamar dirumahnya sendiri.
Krekk.. Pintu terbuka perlahan. Remaja labil tadi tak memperdulikannya. Ia yakin itu hanya Suster yang lalu lalang dengan segala gaya sok sibuknya memeriksa dan memastikan semua pasien baik-baik saja, bisa juga seorang Dokter atau munkin saja petugas kebersihan. Karena bila pun itu penjahat, Ia sudah siap untuk menghadapi maut.
"Davvv. Davin. Kamu apa kabar?". Ucapan dari seseorang yang masuk tadi membuat Davin bergidik. Ia membuka selimutnya, lalu dengan mata melotot Ia Membentuk wanita itu.
"Elo ngapain disini!!!". Bentak Davin. Sontak hal itu membuat wanita yang tak lain adalah Sasha terkejut.
__ADS_1
"Eee, gue mau. Aa itu Dav. Gue mau jenguk lo". Ucap Sasha bingung. Tentu saja Sasha bingung harus menjawab apa, karena Ia tau begitu Davin mengetahui bahwa dirinya akan menjadi pendonor bagi Davin. Maka siap-siap siapapun akan jadi target kemarahannya.
"Keluar". Kata Davin datar. Sasha yang kali ini tidak mau bertengkar dengan orang yang sedang sakit memutuskan untuk rendah hati lalu keluar dan mencari taksi untuk pulang.
Davin yang masih panas hatinya dikarenakan tidur terganggu oleh sinar matahari lalu kedatangan tamu tak diundang kini pun hanya bisa menahan amarah. Sebab tubuhnya benar-benar tidak bisa diajak kerjasama lagi. Ia mencoba mencari HPnya yang sudah hampir seminggu tidak tersentuh olehnya. HP itu ternyata ada di laci brankas tempat tidurnya. Ia pun membuka pola pengunci HPnya lalu melihat begitu banyak panggilan tak terjawab dan paling banyak berasal dari Tamara lalu beberapa teman lainnya. Tentu saja Ia tak mendengar sebab sedang mode silent, bahkan sedikitpun Ia tidak memikirkan orang lain. Ia hanya sibuk pada dunianya sendiri beberapa hari ini. Namun Ia sadar, Tamara dan temannya pasti khawatir. Segera Davin mengetik sesuatu untuk Tamara, sepersekian detik akan dikirim tiba-tiba layar ponselnya menjadi gelap. Ya Hpnya mati kehabisan daya.
"Pagi". Balasnya sangat datar. Suster yang mendapat perlakuan seperti itu pun hanya bisa tersenyum pahit. Ia lalu sibuk memeriksa selang infus Davin.
__ADS_1
"Dav selamat akhirnya ada seseorang yang cocok untuk menjadi pendonor bagimu. Secepatnya kami pihak rumah sakit akan segera melakukan operasi mu. Semoga kabar bahagia ini membuatmu semangat untuk kembali sehat". Ucap Dokter yang masuk bersama suster tadi. Ia menyampaikan berita gembira namun raut wajah Davin selalu datar.
"Hmm ya". Ucap Davin sambil menarik nafas kesal, entah mengapa kabar itu tidak membuatnya bahagia. Dokter segera memeriksa kondisi terkini dari Davin dan berlalu bersama para suster yang masuk bersamanya.
"Gue bakalan operasi, tapi Mami Papa Kakek bahkan tidak ada disisiku. Hahhh dunia ini mengapa begitu kejam mendiskriminasi diriku. Lagipula siapa yang bersedia menjadi pendonorku itu, menyusahkan diriku saja". Ucap Davin memandang keluar jendela.
Krekkk... Pintu terbuka. Davin pun menoleh dan terkejut melihat siapa yang datang.
__ADS_1
Like!!! 😁