
Vino POV
__ADS_1
Pagi ini Aku sungguh sangat tidak bersemangat untuk pergi sekolah. Tentu saja semua karena moodku yang hancur dari semalam siang karena seorang pembantu rumah tangga. Ya bibik itu padahal cuma pembantu namun sombongnya seperti nyonya menir. Apa salahnya coba membiarkanku masuk sebentar bertemu Sasha. Ya walau tidak pun begitu apa juga salahnya mengizinkanku masuk sekedar berbasa-basi lalu menanyakan Sasha apakah ia mau bertemu denganku atau tidak. Hahhh dasar pembantu sialan. Sakin sialannya dia mala membuatku ikut sial, sepulang dari sana motorku mala mati mendadak dan membuatku harus mendorong 1,5 km sampai menjumpai bengkel. Alhasil hariku berantakan dan pagi ini moodku belum pulih. Tapi mengingat dirumah juga akan membuatku semakin suntuk karena ya dirumahku benar-benar hampa. Aku hanya tinggal sendiri bersama seorang pembantu yang hanya datang untuk memasak dan membersihkan rumah. Mama dan Papaku tinggal diluar Negeri. Ya Papa seorang pembisnis, keluar masuk dari Negara yang satu ke negara lainnya menjadi rutinitasnya. Sementara Mama dia sangat menyukai traveling. Jadilah Ia selalu mengikuti kemanapun Papa pergi. Aku tentu saja setela SMA memilih untuk menetap dikota ini. Sebab berpindah-pindah sekolah terus membuatku lelah dan tidak konsen dalam belajar. Kota ini juga merupakan tempat kelahiran Mama. Sementara Pap berasal dari luar pulau. Ya keluargaku juga banyak disini namun semua sibuk dengan urusannya masing-masing. Jadi inilah Aku dengan keputusan pilihan hidupku.
__ADS_1
Kupacu Moge yang semalam mogok karena sudah 3 kali absen untuk kuservis menuju sekolah. Ini kendaraan pribadi plus terfavorit bagiku, mengapa? karena ini kubeli dengan hasil jerih payahku sendiri. Mama dan Papa tak mengizinkanku mengendarai sepeda motor. Bahkan mereka telah menyiapkan 2 buah Mobil Pribadi atas namaku agar Aku tidak tertarik pada sepeda motor. Namun tetap saja Aku begitu mencintai Sepeda motor. Bagiku mengendarai sepeda motor membuatku lebih leluasa ketimbang harus memakai mobil. Apalagi tinggal dikota metropolitan ini, bisa-bisa perjalanan akan sangat panjang bila terus memakai mobil. Tentu karena uang hasil jerih payahku sendiri, kedua orangtuaku tak bisa berkomentar. Jadilah Aku semenjak kelas kelas 2 SMA kemarin naik Moge ke sekolah. Aku bahkan lupa kapan terakhir kalinya Aku bertemu dengan kedua orangtuaku. Haduhhh Aku benar-benar anak yang kurang perhatian.
__ADS_1
"Vin, tunggue gue". Sapa seseorang yang suaranya sudah familiar bagiku. Vin, vino kan. Aku pun memutar kepalaku tak percaya bahkan rasanya ini terlalu mengejutkan bagi diriku. Aku pun memberinya senyum paling manis yang ku punya dan menunggunya.
__ADS_1
Hai-hai. ayo ayo dilike ya
__ADS_1