
Davin POV
Pagi ini kucoba untuk merendahkan tingkatan emosiku. Ya setidaknya Aku harus bisa mencoba makan dirumah selain karena lapar, Aku juga tidak ingin Papa kembali memotong uang sakuku. Niat baikku ini terkotori dengan perintah Mami untuk ke depannya pergi sekolah bersama Sasha. Sabarrrrr. Anggap saja ini jack pot untukku agar lebih leluasa membully anak kesayangannya.
Ya benar saja, pagi itu Kami berangkat bersama. Dia memintaku untuk menurunkannya cukup jauh dari gerbang sekolah. Aku tentu saja dengan bahagia langsung memberhentikan mobil. Lagian Aku juga tak ingin penghuni sekolah tahu bahwa alami tinggal satu rumah. Awkward banget.
"Bos, lama banget lu datang?". Rangkul Derry bersama D'Big lainnya.
"Udah ah gua lagi capek. Mau ke kelas tidur". Tanpa perlawanan mereka mengikutiku. Sampai di koridor Aku melihat kerumunan ramai. Aku tak mengambil open tapi ternyata lagi-lagi Sasha membuat masalah. Dan lebih gawatnya kali ini dia bermasalah dengan Tamara, kekasihku. Ya ampun drama apalagi yang dibuat kaum wanita ini. Aku menarik Tamara dari kerumunan itu dan mencoba menenangkannya. Dia pikir Aku selingkuh. Astaga yang benar saja, secantik apapun Sasha tak akan Aku tertarik padanya. Bagiku Tamara jauh melebihi segalanya dari gadis sialan itu. Untuk mengurangi kemarahan Sasha sore ini Aku mengunjungi rumahnya.
__ADS_1
Tingg.. Tingg.. Bel itu kutekan. Tak lama pembantu rumah tangga Tamara membuka pintu dan mempersilahkan Aku masuk. Kemudian dia berlalu memanggil Tamara kekamarnya dilantai 2.
"Davin, Kamu datang Beb". Ucap Tamara menuruni anak tangga. Dia pun setengah berlari dan langsung lompat memelukku. Iya pun bergelanyut manja padaku dan mengalungkan tangannya dileherku. Ia memandangiku dengan manja. Ahh Tamara ini kebiasaan selalu saja memancing nafsu birahiku. Tapi sungguh sebejat apapun diriku selama satu tahun berpacaran dengannya belum pernah Aku melewati batas.
Cup.. Dia mengecupku dan kali ini melahap habis bibirku. Apa-apaan ini seharusnya Aku sebagai lelaki yang memulainya. Dasar Tamara ini. Namun tak mengapa Aku terus menikmatinya. Bibir manis ranum ini selalu membuatku ketagihan.
"Ehem ehem. Non ini minumnya". Pembantu itu membuat aktivitas Kami berhenti. Ahh sialan. Umpatku dalam hati. Setelah meletakkan nampan minuman dia pun berlalu.
"Gendong". Katanya manja. Tentu saja Aku menggendongnya langsung dan membawanya ke kamarnya.
__ADS_1
Sampai dikamar Aku meletakkan Tamara di atas ranjang dengan mesra layaknya pengantin baru. Dia menarikku dan tanpa aba-aba langsung menciumku dengan ganas. Aku pun tak mau kalah. Aku memberinya ciuman bertubi-tubi. Harga diriku sebagai pria perjaka yang tulen dipertaruhkan dalam kondisi begini. Aku harus bisa memuaskan Tamara. Aku pun mulai menelusuri leher jenjangnya. Ahh nafsu ini tak tertahankan. 15 menit kemudian Aku sukses menelanjangi Tamara. Bahkan kini bajuku telah terbuka. Aku benar-benar tidak dapat lagi menahannya. Selama ini Tamara mengajakku ke hotel hanya sekedar untuk berciuman dan memeluk tubuhnya sampai Ia tertidur pulas. Dia tak pernah memberiku kesempatan untuk menidurinya. Aku memang nakal tapi tak akan mau memperkosa wanita manapun tanpa persetujuan darinya. Kini sepertinya Tamara telah memberiku lampu hijau. Aku pun merambat kebagian bawah. kuciumin perut rampingnya.
"Arghhh.. Dav jangan". Suara Tamara benar-benar seksi dan semakin menggodaku. Aku membuka pahanya dan melihat milik Tamara yang sudah basah. Aku membuka celanaku dan ingin juga mengeluarkan milikku. Namun Aku berpikir untuk membuatnya semakin basah. Aku ingin merasainya lebih dulu. Aku pun menunduk hendak menciumi milik Tamara. Tetapi tiba-tiba saja.
"Dav, Noooo!". Jerit Tamara dan mendorongku. Ah ada apa ini bukannya dia telah mengizinkan ku tadi.
"Sayang, ayolah. Kita telah bersama selama satu tahun. Pliss Aku sudah tidak tahan". Pintaku padanya.
"Tidak Dav. Kamu belum jadi Suamiku, bagaimana kalau Kita berenang saja, Aku gerah". Ucapnya memasuki kamar mandi dan tiba keluar sudah mengenakan Bikini. Tamara benar-benar semakin membuatku bergairah. Tapi Aku tak mungkin memaksanya. Aku pun menurutinya. Nafsuku turun ketika Aku menceburkan diri kedalam kolam. Kami pun berenang hingga sore.
__ADS_1
"Tam, hari ini Kamu boleh menolak ku. Lihat saja nanti Kamu akan bertekuk lutut di selangkanganku". Ucapku dalam hati.
Hai Readersss. Don't Forget to Like!