
Inara POV
Pagi itu setelah subuh Aku harus ikut dengan Mas Indra karena akan ada rapat dewan direksi dikantor Design ku. Aku meninggalkan Sasha dengan Davin. Tentu saja Aku sebelum pergi Aku telah berpamitan pada mereka. Selepas kerja Aku ingin langsung pulang, namun teman-teman mengajakku reunian. Katanya sebab jarang sekali mempunyai waktu bisa duduk bareng designer senior sepertiku. Rasanya ingin ku tolak tapi mengingat bagaimana pun Aku ini adalah contoh bagi mereka, Aku pun setuju untuk menghabiskan waktu siang ku bersama mereka di salah satu mall kota ini.
Tidak terlalu lama hanya dari selesai waktu Zuhur sampai jam 2 siang. Aku pamit pulang pada mereka dan memesan Grab. Karena berhubung sedang di mall, jadi tak lupa kubelikan kue kesukaan Davin dan mencoba membelikan Sasha beberapa baju baru. Aku tiba dirumah pukul 3. Aku memasuki halaman rumah, kulihat mobil Davin telah ada digarasi. Kakeknya benar-benar memanjakannya, masih juga SMA sudah dibelikan barang mewah. Aku pun masuk dan memanggil mereka, tapi tak ada jawaban. Aku pun menuju dapur karena haus melandaku. Kulihat Bik Inah berlari dari arah halaman belakang rumah.
"Bik, Davin dan Sasha sudah pulangkan?. Dimana mereka?". Ucapku pada pembantu rumah tangga kami yang telah bekerja sejak Davin kecil.
"Ah anu nyonya. Itu itu apa. Non Sasha tenggelam di kolam belakang. Saya mau ngambil handuk dulu Nya". Kata Bik Inah nyaris membuat tubuhku lemas. Sasha kan tidak bisa berenang. Bagaimana mungkin bisa ada di kolam. Aku pun segera meletakkan barang-barangku dan segera berlari kearah kolam. Sungguh pemandangan yang memilukan. Apa ini? Davin mencium Sasha. Tidak anakku hanya memberinya nafas buatan. Tapi tunggu mengapa Ia mala melumat bibir Sasha. Ahh Aku telah salah mendidik anak.
"Davinnn. Kurang ajar Kamu!!". Teriakku membuat Davin kaget dan tertangkap basah.
Aku tak percaya pada apa yang kulihat tadi. Tapi keselamatan Sasha saat ini lebih utama. Aku suruh Davin membawa Sasha kekamarnya. Bik Inah kusuruh menelpon Dokter Diana dan Davin Aku menyuruhnya berganti pakaian dan makan. Karena kulihat mereka masih memakai seragam sekolah Tak lupa kusuruh Ia untuk menemuiku saat sudah selesai makan. Tak berapa lama Dokter pun datang dan memeriksa Sasha.
"Bagaimana Dok?". Tanyaku pada Diana.
"Ah tak apa, dia hanya terminum banyak air kolam. Namun kondisi tubuhnya lemah saat ini, ada baiknya Aku infus 1 botol ya". Jawab Diana.
__ADS_1
"Ya lakukan saja yang terbaik, Kau keluar dulu ya". Ucapku padanya. Diana dokter yang kompeten. Sudah 8 Tahun dia bekerja di keluarga Syailendra. Kini Aku menuju ruang santai diujung lorong kamar mereka. Aku naenunggu Davin. Tak lupa Aku mengambil Kue yang telah ku belikan tadi. Kata Bik Ianh dia masih makan dibawah. Tak sampai 10 menit dia sudah mendatangiku keatas. Aku sengaja memposisikan diri membelakanginya.
"Mam, ada apa?". Tanyanya padaku. Aku pun berbalik arah melihatnya.
Plakkk.. Aku menamparnya. Anehnya Ia mala tersenyum padaku. Ahh, tak seharusnya Aku main tangan. Aku mencoba untuk duduk. Ia pun ikut terduduk juga.
"Dav, Kamu tau Mami melihatnya bukan?". Tanyaku padanya untuk memperjelas apa yang kulihat di kolam tadi.
"Ya Mam". Jawabnya singkat.
"Aku mendorong ke kolam". Jawabnya lagi yang sontak membuatku kaget.
"Mengapa Kamu begitu tega. Apakah Kamu tidak tau dia tidak bisa berenang?". Bentakku lagi.
"Kalau Aku tau juga tidak akan kuceburkan Ia ke kolam Ma!, Aku hanya ingin memberinya hukuman". Kali ini Davin sudah mulai berapi-api.
"Apa salahnya padamu?". Pertanyaan dariku disambut tawa oleh Davin.
__ADS_1
"Hahah salahnya. Mami bertanya. Baik kujawab. Aku telah setengah jam menunggunya diparkiran tapi dia mala pulang dengan lelaki lain, haa Mami tau!! Anak asuhmu itu mulai menggatal dia mulai menunjukkan belangnya. Libat saja bentar lagi dia akan membawa pria atau tidur dengan pria lain". Kata-kata Davin membangkitkan amarahku. Aku berdiri dan sontak menamparnya lagi.
Plakkk.. Kali ini tamparanku nyaris menimbulkan bunyi yang kuat hingga berdengung diruangan ini. Davin memegang pipinya ya g mungkin saja terasa panas.
"Ahaaha Tampar lah terus. Aku memang tidak salah mempunyai Ibu sepertimu. Kau tau apa lagi kesalahan Sasha. Karena kehadiran dirinya telah membuatku Aku anak Kandungmu seperti menjadi anak tirimu Inara". Davin mulai tidak sopan.
"Cukup Davin". Teriakku.
"Kenapa? benar begitu adanya kan. Kamu tidak pernah sedikit pun peduli padaku sejak kecil. Selalu saja Aku tumbuh dan besar sendiri tanpa kasih sayangmu. Kau hanya duduk melamun di jendela lalu sibuk menggambar. Kau tidak pernah mau peduli padaku. Kau harus mendengar ini Mami. Dan kutegaskan padamu sampai kapan pun Aku tidak akan pernah rela menganggap anak asuhmu itu adalah bagian dari keluarga walau sesayang apapun Kamu padanya". Kini amarah Davin membuat hatiku teriris, Uraian airmataku pun sudah berjatuhan. Aku tak sanggup lalu memilih pergi.
"Dav, Asal Kamu tau Nak. Sampai kapanpun Kamu tetap anak kesayangan Mami". Ucapku sambil menangis dihadapan dirinya. Aku pun turun kebawah dan melanjutkan kepedihan hatiku atas perkataan Davin tadi. Ia benar Aku bukan Ibu yang baik untuknya. Aku telah gagal menjadi seorang ibu. Aku benar-benar telah gagal. Tangisku pecah tak terbendung. Hari itu Aku semakin berjanji akan lebih memperhatikan hati Davin. Dia hanya korban dari egoisnya diriku di masa lalu.
Inara POV End
Hai hai haiiiii. Jangan lupa dukung Author ya. Karena menulis Novel tak semudah yang kamu bayangkan. Hihi😁
Hai hai haiiiii
__ADS_1