
"Davinnn, kurang ajar Kamu". Teriak seseorang.
Aku begitu kaget seolah-olah sedang tertangkap basah berbuat mesum. Segera kulihat pemilik suara itu. Ahh Mami, ya ternyata Mamilah yang berteriak. Suaranya begitu kuat sehingga setelahnya suara Mami serak.
"Apa yang Kamu lakukan Dav". Ucap Mami dengan parau. Aku seketika mundur. Sasha yang baru saja terbangun dari pingsan pun duduk dengan lemas.
"Bunda, Bunda sudah pulang". Kata Sasha dengan suara amat pelan. Ketika Ia mencoba berdiri, Ia terjatuh dan pingsan. Beruntung Aku bisa menangkapnya sebelum Ia tercebur kembali ke dalam kolam.
"Ahhh Sasha, Dav bawa Sasha ke kamarnya". Perintah Mami panik. Hatiku berdesir mengingat masalalu. Dulu saja saat Aku tenggelam di danau. Wanita ini sama sekali tidak sepanik ini tapi untuk gadis diboponganku ini, Ia merasa nyawanya akan copot.
"Davv, ayo buruan". Teriaknya lagi. Mau tak mau karena ini juga salahku. Aku pun menggendongnya keatas. Bik Inah dengan telaten langsung membentang sejenis tilam busa yang bagian bawahnya seperti perlak tidur anak bayi namun ukurannya cukup untuk tidur satu orang diatas tempat tidur Sasha. Mungkin biar tidak basah, Aku pun meletakkannya.
__ADS_1
"Dav keluar, Mami mau mengganti bajunya Sasha. Bik Inah telpon Dokter Diana kesini secepatnya dan bawakan teh hangat". Ucap Mami, segera Bik Inah berlari mencari telepon rumah. Ia menelpon Dokter Diana. Dokter pribadi keluarga Syailendra. Kemudian Ia turun menuju dapur.
"Dav, ganti pakaianmu dan segera turun untuk makan setelahnya jumpai Mami diruang santai sebelah". Ucap Mami memberi perintah dengan nada tanpa ingin dibantah. Aku pun hanya mengangguk dan bergegas keluar. Kulihat sekali lagi kebelakang, Mami sedang sibuk mencari baju Sasha.
"Ahh niat gue mau nyiksa tuh anak kenapa mala buat Mami jadi makim care sama dia". Sesalku dalam hati.
Saat telah berganti pakaian Aku segera turun kebawah. Di tangga Aku berpapasan dengan Dokter Diana.
"Dav, bukan Kamu yang sakit. Tadi Saya dapat telpon katanya anak Pak Indra tenggelam di kolam". Sapa Dokter Diana.
"Kamarnya ada didepan kamar Saya Dok, Dokter sudah ditunggu oleh Mami". Kataku sembari berjalan turun kebawah. Dokter Diana pun bergegas ke arah kamar Sasha.
__ADS_1
Aku tersenyum kecut. Bahkan seorang Dokter saja bisa memberi tatapan mengasihani seperti itu. Tapi mengapa Mami bahkan tak pernah mencoba jadi Aku sebentar saja. Apakah hasil DNA itu benar adanya. Lalu mengapa Mami mala tak pernah tulus menunjukkan kasih sayangnya. Sesampainya di dapur Aku langsung mengambil nampan yang dari jauh kulihat sudah dipersiapkan oleh Bik Inah.
"Den ini bukan buat anuu ini buat Mon Sasha. Den Davin ambil makanan sendiri dulu ya, bibik takut di marah nyonya kalau tidak segera ke atas". Ucap Bik Inah sembari mengambil nampan piring itu dari tanganku. Aku hanya bisa tersenyum menyedihkan. Bahkan seorang pembantu rumah tangga dirumah ini lebih memperdulikan gadis sialan itu. Ahhh kepalaku benar-benar sakit. Tentu saja kebencian ku pada Sasha semakin besar.
Kuambil piring dan kuletakkan beberapa lauk pauk dengan asal lalu ku makan dengan lahap. Aku kalut dengan hatiku sendiri. Setelah makan kuhempaskan piring bekas makanku ini ke lantai.
Pranggg... Suaranya menggema didapur. Bik Inah yang baru kembali dari atas pun terkejut dan kelihatan takut. Aku mengambil minum lalu setelahnya meminum air dengan cepat dan gelas ditanganku kembali kubuat bernasib sama dengan piring tadi. Bik Inah semakin panik dan berlari menuju kamar pembantu. Aku pun segera naik untuk menemui Mami diruang atas. Kulewati kamar Sasha pintunya terbuka sedikit. Kulihat dokter masih memeriksanya. Tidak ada Mami, mungkin Ia telah menungguku diruang sebelah kamar ini. Aku pun ters berjalan dan benar saja Mami tengah berdiri membelakangi diriku.
"Mam, ada apa?". Tanyaku padanya. Ia berbalik arah melihatku.
Plakkk.. Mami menamparku tepat di tamparan Sasha yang sesungguhnya masih ngilu kurasakan. Kali ini hanya senyuman yang bisa kuberikan padanya..
__ADS_1
***Davin POV End
Like ya***