
Hari silih berganti. Sasha belum juga sadar dari komanya. Ini hari ke 7 Ia terbaring tertidur nyenyak tak berdaya. Davin dan keluarganya selalu bergantian menjaga Sasha. Beruntung setelah izin dari Kantor Davin diperbolehkan untuk libur 3 hari dan tidak diharuskan lembur. Setiap hari Ia berdoa dan mengaji disamping tempat tidur Sasha. Harapannya tak boleh mati walau hanya sekecil cahaya. Inara dan Indra juga begitu, setiap hari mereka datang membawakan Davin makanan dan baju ganti. Inara setiap hari juga memandikan Sasha walau hanya membasuhinya dengan kain dan tisu basah. Ia tak memberi tugas itu pada perawat rumah sakit. Ia benar-benar menyayangi menantunya itu. Lain halnya dengan Indra, setiap hari Ia selalu membantu Davin dalam menyelesaikan tugas kantornya. Sebab dulu Ia merupakan Manager dari Perusahaan yang bergerak dalam bidang yang sama. Namun sekarang Ia lebih memilih Pensiun dan membuka usahanya sendiri. Rumah makan Padang yang telah berdiri dengan sukses dan kini telah melebarkan sayapnya hingga mencapai 55 Cabang. Usaha itu dirintisnya dalam 4 Tahun terakhir dari idenya Sasha. Mengingat hobinya dan Sasha sama-sama makan Nasi Padang. Terlebih lagi dia sangat hobi memasak dan kuliner tak heran resep-resep makanannya sukses membuatnya memperoleh omset 2 Milyar/Bulannya. Tentu saja semuanya tak semudah membalikkan telapak tangan. Usaha ini juga sempat membuatnya hampir berada dipenjara sebab fitnahan dari saingan bisnisnya. Namun Doa dan Ikhtiar yang selalu membara serta semangat dari Inara juga Sasha membuatnya mampu melewati segalanya.
"Pa, Mi. Kapan ya Sasha Bangun?". Tanya Davin pada orangtuanya di sela waktu makan malam mereka.
"Sabarlah Nak. Sasha tidak benar pergi saja itu suatu hal yang patut kita syukuri". Imbuh Inara sambil menatap Sasha yang semakin hari makin pucat.
"Semua sudah diatur Allah, kita cukup bersabar, berdoa, dan berusaha saja. Mudah-mudahan Sasha segera sadar". Tambah Indra menenangkan keluarganya.
"Aamiin Ya Allah". Ucap Davin lalu minum dan berlalu menghampiri Sasha.
"Hai Sayang. Gak letih ya bobok mulu. Kamu gak rindu sama Mas ya?, bangun dong Yang". Bisik Davin sambil mencium tangan Sasha. Tiba-tiba Sasha mengeluarkan butiran air mata. Hal itu membuat Davin terkejut.
"Mi, Pa. Sashaaa". Teriak Davin yang jelas membuat orangtuanya kaget.
__ADS_1
"Ada apa Dav?". Tanya Papa berdiri dan menghampiri Davin diikuti Mami yang masih mengunyah makanannya.
"Sasha mengeluarkan airmata Pa. Sasha merespon perkataan Davin". Kata Davin terharu dalam bahagianya.
"Cepat panggil Dokter, ugh ughhh". Ucap Mami kesenangan hingga membuatnya tersedak. Davin pun segera menekan tombol untuk memanggil Dokter.
"Mi, minum dulu. Kamu ini jaga kesehatan juga dong. Bisa-bisanya tersedak". Ucap Papa yang telah mengambil minum dan memberinya pada Inara.
Tak lama kemudian Dokter pun datang dan meminta semuanya untuk mundur. Dokter memeriksa Sasha dan mencabut alat bantu pernapasan Sasha. Tiba-tiba saja Sasha membuka mata dan bangun. Dokter pun terlihat kaget dan setengah mundur. Sasha melihat sekelilingnya dengan tatapan aneh.
"Maaf semuanya tolong menunggu diluar, Suster tolong ambilkan catatan media pasien". Ucap Dokter. Davin dan keluarganya pun keluar ruangan. Davin melihat Sasha dan tersenyum. Namun Ia heran mengapa Sasha sama sekali tidak meresponnya. Hanya wajah datar yang Ia perlihatkan.
"Ya Allah Paa. Sasha sudah bangun Pa". Ucap Inara memeluk suaminya yang juga meneteskan airmata. Davin pun tak mau kalah Ia ikut merengkuh Mami dan Papanya sembari menangis tersedu-sedu. Ketiganya berpelukan dalam tangisan haru. Beberapa Suster dan pengunjung lainnya pun ikut terharu melihat mereka.
__ADS_1
"Dasar anak cengeng". Ucap Indra sambil menjitak kepala anaknya.
"Aduhh Pa. Sakit ini". Balas Davin dengan ketus. Davin sangat bahagia, Ia serasa mendapati lotre dengan hadiah besar.
Tak sampai 10 menit. Suster pun mengimbau mereka untuk masuk dan mendengar penjelasan Dokter. Ketiganya pun semangat untuk masuk. Mereka melihat Sasha yang tengah duduk diatas tempat tidurnya. Sasha pun tersenyum pada mereka.
"Bunda, Ayah kalian disini". Ucap Sasha parau sebab tenaganya belum pilih total. Davin pun membulatkan matanya. Mengapa tidak menyapaku. Ia pun berlari dan memeluk Sasha.
"Sayanggg. Kamu sudah sadar". Ucapnya. Namun dengan kekuatan penuh Sasha mendorongnya.
"Siapa Kamu?". Kata Sasha bertanya.
Like Dongš¤¤
__ADS_1