
Sasha POV
Ruangan serba hijau ini membuat jantungku spot. Ya sejak mengetahui Davin sakit aku memang sering spot jantung. Lebih lagi setelah sering mendengar Davin berteriak. Dia bahkan tidak sudi berbicara padaku sejak mengetahui bahwa aku lah sang pendonor itu. Aku heran dibuatnya. Apa dia se-anti itu padaku? Tapi mengapa? Bukankah dengan membantunya aku juga akan rugi banyak. Haihh aku terus berpikir keras apa yang bisa kulakukan untuk membuatnya memahami kondisi dirinya dan diriku.
Ah, dia datang.
__ADS_1
Lihat muka songongnya itu. Bahkan setengah jam lagi nyawaku dipertaruhkan untuknya tidak bisakah dia menyapaku atau sekedar senyum sedikit saja. Davin benar-benar keterlaluan. Mengapa Bunda harus memiliki anak seperti dirinya. Sungguh memiliki anak dengan tingkah laku seperti dirinya sangat tidak layak untuk disyukuri. Ahh apa-apaan Aku karena Davin mala mencaci ciptaan Tuhan.
"Heh jangan lo kira karena jadi pendonor gue lo bisa gue terima! Sampai kapanpun lo tetap jadi benalu bagi hidup gue. Satu lagi jangan berharap gue bakalan bilang terimakasih ke elo ya. Alesha Anastasia!". Kecam Davin sebelum naik keranjang operasinya.
Kini dia pindah ketempat tidur yang ada di sebelah ku. Ya ranjang itu bagiku sungguh malanh sekali harus ditempati orang sepertinya. Lihat wajahnya dia pasti geram karena aku sama sekali tidak membalas satupun perkataannya. Hah padahal jikalau tidak mengingat pesan Dokter Hartono untuk tidak membuat Davin emosi. Aku pasti akan mencabik-cabik wajah yang sangat sombong itu. Bukannya bersyukur aku menolongnya mala memakiku sebelum operasi. Haiss alih-alih menjaga agar tidak membuatnya emosi mala aku yang terprovokasi olehnya.
__ADS_1
"Oh Aku tahu kamu takut ya? Rasakan itu. Siapa suruh berlagak menjadi pahlawan untukku. Kamu lihat alat-alat itu. Tulang rusuk mu nanti akan dipatahkan!". Davin menambahi kata-katanya seraya mempraktekkan tulang rusuk yang dipatahkan. Dia menakut-nakuti diriku, tapi sayang aku tak akan pernah takut. Dikiranya Aku ini wanita lemah kah? hihi... Aku tertawa dalam hati. Sebenarnya akan sangat menyenangkan memiliki seorang saudara. Andai saja Davin kelak bisa berbolak hati. Aku pasti akan sangat senang. Dia pasti akan menjadi seorang saudara laki-laki yang bisa dibanggakan. Tapi Aku merasa pesimis dengan yang kubayangkan. Karena sikap Davin sekarang sungguh jauh dari yang kukhayalkan.
Crekkttt... Pintu terbuka. Pandangan kami beralih ke pintu masuk. Barisan para Dokter berjejer masuk ke ruangan. Dokter Hartono ada dibarisan paling depan. Mereka menghampirku, ah tidak menghampiri kami maksudku. Ya mereka memeriksa kami lalu dengan kode-kodean ala dokter pada perawat lainnya, lampu ruangan berganti dan terlihat amat terang. Saat diperiksa Aku hanya bisa berpasrah dalam hati, pasrah pada nyawaku. Semua tulus kulakukan demi Ayah dan Bunda. Aku berharap semua berjalan lancar. Aku berdoa pada Tuhan agar mengizinkanku untuk terus hidup. Aku baru merasakan sedikit saja rasa kebahagiaan memiliki keluarga. Aku ingin merasakannya sedikit lebih lama lagi. Aku melirik sejenal pada Davin. Kulihat Ia pucat, sangat pucat. Apakah dia takut. Dav, kau tak seharusnya takut. kau harus sembuh demi kami semua. Dia menoleh padaku, Aku tersenyum padanya. Setelahnya kulihat Suster menyuntik lenganku, Aku segera tak sadarkan diri. Semua terasa hampa dan ringan.
***Sasha POV End's*
__ADS_1
Bissmillah Operasiš„**