
Rumah Sakit Kasih Ibu disinari sengatan sinar senja yang memanjakan mata. Rumah Sakit di pinggiran Kota ini cukup nyaman sebab tak harus merasakan penatnya udara yang tercemar dengan banyaknya jenis kendaraan. Sasha beserta keluarga barunya segera memasuki Rumah Sakit dan menuju kamar rawat Davin. Sesampainya di ruangan itu mereka hanya bisa melihat Davin yang terkulai lemas dengan selang infus yang didalamnya mengalir lambat cairan bening kemerahan. Seorang lelaki tua tersenyum menyambut mereka. Ia berdiri lalu memeluk Indra dan Inara menyalaminya dengan hormat. Seketika Ia melihat Sasha lalu wajahnya menjadi datar. Sasha tentu saja heran dibuatnya, tapi tak lupa Sasha sadar untuk duluan menyalami lelaki itu. Namun lelaki itu tetap menatap datar diri Sasha.
"Pi, kenalin ini Sasha. Anak asuh Aku dan Mas Indra". Sahut Inara karena ikut merasakan tatapan dari lelaki itu. Sasha yang mendengar penuturan Bundanya itu pun langsung menduga bahwa lelaki yang sudah tidak muda itu adalah Kakek Davin yang mereka bicarakan selama ini.
"Hmm. Indra ikut Papi keluar". Ucap Syailendra memerintah anaknya untuk mengikutinya. Indra pun berlalu mengikuti Ayahnya yang sudah hampir renta itu keluar ruangan. Sementara Inara hanya bisa tersenyum pahit dan memeluk Sasha. Tentu saja Sasha sadar bahwa ada yang tidak beres dengan kehadirannya disini.
"Indra, apa maksud kalian membawanya kesini ha!? Apa maksud kalian?". Bentak Syailendra pada anaknya.
__ADS_1
"Pi dengarkan Indra. Kita harus mencoba semua kemungkinan demi kesembuhan Davin. Papi harus mengerti bagaimana rasanya menjadi Indra kali ini Pi. Indra mohon untuk sekali ini saja mempercayai kami Pi". Pinta Indra seraya memohon pada Papinya. Namun Syailendra hanya menatap tajam dirinya dan menghentakkan tongkat kayunya.
"Terserah pada kalian saja. Davin anak kalian haha ya dia anak kalian. Sadari dulu dia memang anak kalian". Ucap Syailendra sembari berlalu. Indra sadar makan tersirat dari ucapan Papinya. Ya dia Davin anak mereka, namun peranan dirinya dan Inara sangat kurang untuk putra semata wayang mereka. Indra hanya menatap kepergian Papinya sampai menghilang di lorong rumah sakit dan kembali masuk ke ruangan Davin.
"Mas Indra, bagaimana respon Papi?". Tanya Inara canggung.
"Papa...Apa respon Papi?". Tanya Inara sekali lagi.
__ADS_1
"Sudahlah yang terpenting sekarang Davin. Sasha ayo ikut Ayah ke ruang dokter yang menangani Davin. Kita harus segera memeriksa dirimu ya Nak". Ucap Indra mengalihkan pertanyaan dari Istrinya. Sasha pun berdiri dari tempat duduknya semula dan mengangguk kearah Indra. Mereka pun berlalu menuju ruang pemeriksaan itu.
Sementara itu Inara yang sadar bahwa kehadiran Sasha ditolak mentah-mentah oleh Mertuanya hanya bisa bersedih. Ia menghampiri Davin dan menciumi anaknya.
"Nak, semoga Sasha cocok ya untuk jadi pendonor Davin. Semoga hasilnya nanti bisa membuat keluarga Syailendra menerima keberadaan Sasha diantara kita semua ya Nak". Inara berujar dengan suara yang amat memilukan. Ia merasa benar-benar bersalah atas semua yang telah terjadi. Ia berpikir seandainya dulu dirinya jujur pada Indra. Semua tidak akan jadi serumit ini dan keluarga mereka pasti bisa lebih harmonis sedari awal. Namun semua telah menjadi bubur, tak ada yang bisa disesali karena hanya akan menimbulkan kesakitan yang amat dalam di diri siapapun. Bahkan bagi Ayah mertuanya, Syailendra.
Malam itu sehabis Solat Isya, Sasha menjalani pemeriksaan ditemani oleh Ayahnya. Ia tak begitu mengerti sesakit apa yang diderita Davin selama ini, yang Ia tahu hasil pemeriksaan ini harus cocok dan berguna demi keluarga yang dikasihinya. Setelah pemeriksaan yang cukup panjang baginya, Sasha tertidur pulas dikarena bius yang membuatnya tak sadar hingga menjelang subuh.
__ADS_1
Hai. Maaf ya telat Update😊