Ini Cinta Bukan Derita

Ini Cinta Bukan Derita
Gundah Hati


__ADS_3

Sepulang sekolah aku segera antri di halte Bus. Ya setelah Davin koma semua pola hidup keluargaku berubah. Jadi Bunda memutuskan agar sekolahku tidak terganggu maka Aku harus bersedia pergi dan pulang sekolah naik Bus Sekolah. Jadi Bunda mengurus kartu Bus segera dan alhasil Aku sudah 2 bulan Aku naik Bus. Tentu saja Vino juga sering menawarkan diri untuk mengambil alih soal transportasi sekolahku, tapi Aku tidak mau menyusahkan dirinya karena jalur rumah yang berbeda pastinya juga aku tidak ingin banyak gosip disekolah. Aku lebih memilih naik Bus saja sebab Aku juga bersyukur karena dengan naik Bus aku bisa lebih leluasa mengenal jalanan Kota tempat tinggal baruku ini. Ah ya, malam ini jadwalku berjaga malam di Rumah Sakit. Setelah Bus berhenti tepat di halte Bus yang ada didepan rumah aku pun menyebrang. Kulihat mobil Ayah juga baru memasuki perkarangan rumah. Aku berlari kecil mengejarnya.


"Ayah cepat banget pulangnya?". Tanyaku heran karena tidak biasanya Ayah pulang sesiang ini.


"Ah iya kamu sudah pulang sayang. Ayah ini mau berangkat ke luar kota 3 hari. Jadi mau ngambil baju ini. Tadi juga uda ngehubungi Bunda". Jawab Ayah sambil berjalan dan aku pun mengikutinya masuk.


"Pa ini semua sudah siap perlengkapannya. Ah ya ini ini perlengkapan kamu juga sudah siap beserta makan siang kamu Sha". Sambut Bunda sambil membawa barang-barang yang cukup banyak.

__ADS_1


"Ha barang-barang Sasha juga Bun?". Tanyaku heran


"Begini Sha. Ayah dan Bunda ada urusan keluar Kota. Ini memang cukup mendesak karena kami benar-benar mengejar target untuk biaya rawat inap Davin. Maafkan Ayah sekali lagi selalu menyusahkan Sasha. Ayah mohon untuk 3 hari ke depan yang jaga Davin di Rumah Sakit Sasha aja ya. Ayah tidak percaya pada yang lain". Jawab Ayah.


"Ah iya Yah. Gak papa kok". Jawabku seolah sangat mengerti bagaimana rasa lelah mereka memperjuangkan biaya Rumah Sakit. Ya Biaya rawat inap Davin dikarenakan koma sangat besar. Dalam semalam harus mengocek kantong sejumlah 3 juta. Bayangkan ini sudah 3 bulan. Aku masih ingat pertengkaran Ayah dan orangtuanya malam itu. Ayah menolak keras semua bantuan yang diberikan oleh Papanya. Ayah ingin menebus semua kesalahan dirinya sebagai orangtua yang selama ini kurang memberi perhatian pada Davin. Saat itu Aku tak pernah lagi melihat Opanya Davin. Mungkin dia benar-benar kecewa atas pilihan anaknya yang menolak mentah-mentah bantuan darinya. Padahal kakek Davin adalah pemilik saham yang cukup besar di Rumah Sakit itu.


"Tidak apa-apa Bunda, Sasha juga sedih tidak bisa berbuat banyak untuk keluarga ini". Aku menundukkan kepalaku sakin tidak sanggupnya melihat wajah lelah mereka. Bunda memelukku erat. Aku merasa sangat sakit direlung hatiku. Tanpa sadar Aku menarik tangan Ayah. Hingga akhirnya kami bertiga pun berpelukan. Cukup lama dan diam tanpa kata. Hanya ada kehangatan dan rasa pilu yang tak terucapkan.

__ADS_1


Tak lama kemudian kami berangkat ke Rumah Sakit. Ya kini Aku telah akrab dengan bau obat-obatan. Bukan itu saja beberapa Perawat hingga petugas dapur Rumah Sakit ini pun mengenalku. Mungkin karena terlalu lama bolak balik kesini semua mengenalku. Setelah Bunda dan Ayah menciumi Davin, mereka pun pamit berangkat ke luar kota. Aku mengantar mereka sampai parkiran Rumah Sakit. Aku terus melihat mobil itu menjauh dan terus menjauh. Rasanya sangat jauh dan membuat hatiku tak nyaman kali ini. Sebab belum pernah keduanya pergi meninggalkanku secara bersama-sama. Aku kembali ke dalam kamar rawat Davin. Berberes diri dengan pakaian yang dibawa bunda didalam koper kecil. Tak lupa pula Aku segera menyantap makan siangku. Setelah itu Aku berjaga di samping ranjang Davin. Kulihat wajahnya semakin hari semakin pucat pasi. Seakan tiada darah mengalir ditubuhnya. Mataku tertuju pada jemari tangannya. Ah kuku-kuku itu mulai memanjang. Aku pun segera mencari jepitan kuku dan memotongnya. Entah mengapa sepertinya Aku mulai menyayangi Davin. Ya rasa Sayang ini tentu saja karena Aku mulai bisa menganggapnya sebagai keluargaku. Bagaimana pun anggota tubuhku kini ada didalam dirinya. Tanpa sadar Aku mencium tangannya dan entah mengapa mataku panas. Kini buliran airmata yang tak dapat kucegah menjatuhi tangan Davin. Namun tiba-tiba...


"What the hell!!!".. teriak seseorang


Aku menengadah dan terkejut.


**Sasha POV End's

__ADS_1


Like ya Readers😉**


__ADS_2