
Hari itu merupakan hari yang melelahkan bagi Sasha. Namun lainnya halnya untuk seorang anak laki-laki yang selalu menatap sinis pada Sasha. Anak laki-laki segera melangkah keparkiran lalu masuk kedalam mobilnya. Ia pulang dengan terburu-buru. Sesampainya dirumah yang berhalamankan luas itu Ia memarkir sembarangan mobilnya. Lalu Ia pun masuk kedalam rumah dengan tergesa-gesa. Ia dobrak pintu lalu membantingnya membuat suara nyaring seisi rumah. Seorang wanita pun menyapanya.
"Den, Uda pulang? Uda makan siang, Kalau belum biar Bibi masakan?". Ucap wanita itu.
"Diam Kamu!! Dimana Papa?". Bentaknya
"Ah anu Tuan. Tuan masih di Kantor". Jawab wanita yang tak lain seorang pembantu itu dengan gemetaran. Tiba-tiba datang seorang wanita dari arah teras belakang rumah.
__ADS_1
"Sudah pulang. Kamu sudah makan Nak". Tuturnya pada anak lelaki yang kini bermuka masam tatkala melihat si pemilik suara. Dia pun tak mau menjawab dan memilih naik kelantai dua. Ia membuka pintu kamarnya lalu membantingnya lebih kuat dari pintu depan rumahnya.
Inara POV
Setelah kemarin Aku dan Mas Indra menjemput putri sahabatku yang telah kuasuh dari dulu. Kehidupanku pun mulai terasa membaik setelah keberadaannya dirumahku. Ya meski baru 2 hari tapi tetap saja Aku sangat bahagia. Hari ini putriku itu telah semangat untuk melanjutkan sekolahnya. Aku sempat khawatir dia melanjutkan sekolahnya. Jujur secara pribadi Aku hanya ingin menyekolahkannya melalui Home Schooling saja namun melihat semangat didirinya semua kekhawatiranku hilang. Kekhawatiran itu dikarenakan penyebab Ia harus dipindahkan dari sekolah lamanya. Ya putriku itu sangat Cantik. Kecantikannya bak putri-putri dari negeri dongeng. Aku takut dia mengalami masalah yang membahayakan dirinya. Ahh daripada terus takut baiknya kucoba untuk menyerahkan semuanya pada Allah.
Ah ternyata putra semata wayangku yang pulang. Sudah 3 hari Ia tak pulang. Ya sedari kecil Ia memang jarang pulang. Entah apa yang membuatnya lebih suka menghabiskan waktu untuk tinggal dimansion Keluarga besar Syailendra, daripada dirumahnya sendiri. Mungkin hal ini terjadi sebab setelah kehilangan Sasha dimasa kecil, Aku jadi kurang perhatian padanya. Tapi 3 Tahun belakangan bukankah Aku sudah berubah. Ya Aku telah berubah untuk lebih memperhatikan Putraku ini. Mungkin inilah kain selendang yang telah sobek itu, kujahit bagaimana pun tetap saja tidak sama seperti semula. Keindahannya berkurang walau dengan benang sutra sekalipun Aku menjahitnya. Ah andai Ia mengerti betapa menyesalnya diriku. Tapi kini dia masih remaja, mungkin sulit baginya untuk bersikap dewasa. Siang ini entah masalah apalagi yang membuatnya marah.
__ADS_1
"Sudah pulang. Kamu sudah makan Nak?". Sapaku padanya. Bukannya menjawab perkataanku Ia mala menunjukkan raut wajah masamnya. Okelah dia benar-benar marah. Aku mencoba mendatanginya tapi Ia mala menjauh dan naik keatas.
Duarrr.. Sekali lagi Ia membanting pintu. Jangan tanyakan ini keberapa kalinya. Sakin seringnya terjadi sekarang Aku telah berteman akrab dengan Istri yang memperbaiki pintu-pintu rumahku. Ah biarlah, nanti kalau lapar dia juga pasti turun dan Aku akan mencoba berbicara baik-baik padanya.
Usia putraku itu sama dengan Sasha. Namun tingkah lakunya jangan ditanya. Segala kejahatan anak remaja telah diperbuatnya termasuk Narkoba. Untung saja saat masih SMP Kami berhasil menaruhnya ditempat rehabilitasi dan sekarang Ia telah sehat. Sejak saat itu jarak diantara Kami semakin renggang. Anakku itu memang sangat nakal. Setiap 1 bulan sekali Aku wajib ke sekolah memenuhi panggilan dari Guru BKnya. Tentu saja berakhir dengan ganti rugi sebab selalu saja ada anak yang tumpah darah dibuatnya. Jadi bisa kupastikan 40% dari gajiku selalu untuk membayar semua kejahatannya. Kadang Aku berpikir apa yang membuatnya begitu. Setahun berpikir Aku menemukan jawabannya, Ia bertindak kriminal hanya untuk mencari perhatianku. Ya semua kelakuannya yang membuatku hampir putus asa menjadi orangtua hanya untuk membuatku memperhatikannya. Kadang hati kecil ini menangis memikirkan betapa gagalnya Aku menjadi orangtua. Namun keputusasaanku hanya akan semakin memperburuk keadaan. Aku juga telah berusaha sekuat mungkin memperbaiki keadaan. Sering Aku curhat pada suamiku. Namun Mas Indra hanya menyuruhku untuk bersabar. Aku selalu berdoa pada Allah untuk membuat hati putraku terbuka menerima ku kembali. Aku hanya bisa menunggu saat itu terjadi. Ya Aku masih percaya semua akan indah pada waktunya.
***Inara POV End
__ADS_1
Like🙏🏼***!